<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>psikologi Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/psikologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/psikologi/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Sep 2017 01:30:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Otak Kanan Otak Kiri, Bisakah Berubah</title>
		<link>https://www.denbagus.com/otak-kanan-otak-kiri-bisakah-berubah/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/otak-kanan-otak-kiri-bisakah-berubah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Sep 2017 01:30:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[cara pikir]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[jalan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[observasi]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Simpati]]></category>
		<category><![CDATA[way of life]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2724</guid>

					<description><![CDATA[<p>Otak Kanan dan Otak Kiri Tangan ini tergelitik untuk menulis tentang peran otak kanan dan otak kiri, gara-gara penesaran dengan aplikasi test otak. Secara algoritma sangat logis, karena penilaian didasarkan pada posting dan aktivitas yang kita lakukan di facebook. Dari data aktivitas tersebut dapat diambil kesimpulan seseorang cenderung lebih banyak menggunakan otak kanan atau kiri. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/otak-kanan-otak-kiri-bisakah-berubah/">Otak Kanan Otak Kiri, Bisakah Berubah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Otak Kanan dan Otak Kiri</h4>
<p>Tangan ini tergelitik untuk menulis tentang peran otak kanan dan otak kiri, gara-gara penesaran dengan aplikasi test otak. Secara algoritma sangat logis, karena penilaian didasarkan pada posting dan aktivitas yang kita lakukan di facebook. Dari data aktivitas tersebut dapat diambil kesimpulan seseorang cenderung lebih banyak menggunakan otak kanan atau kiri. Sama saat kita mengikuti test psikologi dalam syarat melamar kerja. Itulah kenapa kadang HRD menggunakan sosial media sebagai salah satu indikator ukur pada proses rekruitmen karyawan.</p>
<p>Kurang lebih seperti itu logika kerja aplikasi semacam ini. Sayapun akhirnya penasaran dan mencoba melakukan tes. Melihat hasilnya, hmm&#8230; terkejut? Tidak sih. Beberapa kali sebenarnya sudah pernah melakukan tes seperti ini, bahkan tes psikolgi, cenderung ke otak kanan. Tapi entah kenapa tiba-tiba belakangan pindah kecenderungan ke otak kiri.</p>
<h4>Way of Life</h4>
<p>Ada yang salah dengan tesnya? Saya rasa tidak, manusia selalu ditempa dengan berbagai macam dinamika kehidupan. Saat masih anak, punya cita-cita menjadi A, beranjak dewasa mulai ada figur contoh, bisa jadi mulai berubah perilaku dan cara pikirnya. Saat usia mencapai titik matang, variabel penentu dalam bertindak dan berfikirpun berbatambah. Di sinilah sejatinya manusia sudah mulai menentukan jalan hidup yang sejati<em> &#8220;The Way of Life.&#8221;</em></p>
<p>Tinggal variabel mana yang akan dominan dalam menentukan &#8216;SIAPA&#8217; diri kita sejatinya. Variabel kendali yang sangat mempengaruhi manusia berdasarkan pengamatan saya banyak dipengaruhi akal pikir (logika) dan mental spiritual.</p>
<h4>Kesimpulan</h4>
<p>Hehehehe .. maaf buat yang pakar psikologi, ini hanya tulisan akal-akalan yang juga menggunakan logika dan observasi ngawur. Jadi hasil dan opini siapapun yang membaca bisa berbeda. Poin penting dari tulisan ini menjelaskan bahwa meskipun awalnya manusia kuat di otak kanan/kiri, pada akhirnya bisa saja berubah sejalan berjalannya waktu. Tapi bisa saja tetap cenderung ke salah satu otak hingga sampai akhir hayatnya.</p>
<p>#haveaniceday #kontemplasi #justhuman #denbagus #ordinarypeople</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/otak-kanan-otak-kiri-bisakah-berubah/">Otak Kanan Otak Kiri, Bisakah Berubah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/otak-kanan-otak-kiri-bisakah-berubah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perubahan itu Harga Mati</title>
		<link>https://www.denbagus.com/perubahan-itu-harga-mati/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/perubahan-itu-harga-mati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2015 04:38:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[aec]]></category>
		<category><![CDATA[asean]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[global mindset]]></category>
		<category><![CDATA[mea]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychological capital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2041</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bebera waktu yang lalu marak pemberitaan di media massa terkait kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) khususnya di Jawa Timur. Respon datang dari berbagai kalangan, pemilik usaha, buruh, praktisi, dan akademisi memberi opini dari sudut pandang masing-masing. Tapi ya sudahlah, semua punya dasar pemikiran masing-masing, kalau didebat pasti tidak ada ujung pangkalnya. Semoga semua bisa saling [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/perubahan-itu-harga-mati/">Perubahan itu Harga Mati</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bebera waktu yang lalu marak pemberitaan di media massa terkait kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) khususnya di Jawa Timur. Respon datang dari berbagai kalangan, pemilik usaha, buruh, praktisi, dan akademisi memberi opini dari sudut pandang masing-masing. Tapi ya sudahlah, semua punya dasar pemikiran masing-masing, kalau didebat pasti tidak ada ujung pangkalnya. Semoga semua bisa saling memberi manfaat.</p>
<p>Sebenarnya saya sempat tercengang saat mengikuti sebuah acara dan membaca statistik yang disuguhkan. Intinya, siapkah Indonesia menghadapi <em>ASEAN Economic Community</em> (AEC). Dilihat dari aspek ekonomi, populasi, dan geografis, Indonesia sejatinya unggul dibanding negara ASEAN lainnya, namun setelah melihat data, penyebab utama daya saing Indonesia lemah dibanding negara ASEAN lainnya adalah etos kerja yang rendah dari rata-rata karyawan di Indonesia, tentu saja hal ini harus dicari tahu penyebabnya dan tidak serta merta menyalahkan buruh/karyawan. Melihat kondisi ini semua harus segera introspeksi diri dan berubah secepatnya, kalau woles saja ya siap-siap ditinggalkan.</p>
<p>Sebagai sebuah organisasi tentu menyadari tuntutan dunia industri seperti apa, tuntutan pelanggan seperti apa, sehingga tetap memiliki daya saing dengan kompetitor manapun. Ujung-ujungnya dari semua bisnis adalah kepuasan pelanggan, penjualan, dan kelangsungan hidup perusahaan yang berkelanjutan <em>(sustainable). </em>Jika kita melihat tren dunia, perubahan sudah tidak terelakkan lagi. Bahkan wajib hukumnya untuk berubah.</p>
<p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah merubah budaya dan tatanan kehidupan di masyarakat, dulu kita hanya melihat televisi hitam putih, sekarang kita sudah mengenal internet sebagai dunia tanpa batas yang melibatkan interaksi dua arah bahkan multi kanal. Di level pekerja juga telah terjadi banyak perubahan. Dulu pekerja hanya pasrah, loyal, sesuai <em>background,</em> dan kompeten yang melahirkan <em>human capital</em> handal. Sekarang ada lagi istilah <em>psychological capital</em> yang diartikan sebagai modal psikologis atau semacam modal sikap dan perilaku yang berperan besar dalam menentukan keberhasilan seseorang. Diuangkap Luthans (2007:3) bahwa <em>psychological capital</em> memiliki empat dimensi, yaitu (1) memiliki kepercayaan diri <em>(self efficacy)</em> untuk menghadapi tugas-tugas yang menantang dan memberikan usaha yang cukup untuk sukses dalam tugas-tugas tersebut; (2) membuat atribusi yang positif <em>(optimism)</em> tentang kesuksesan di masa kini dan masa depan; (3) tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan dan bila perlu mengalihkan jalan untuk mencapai tujuan <em>(hope)</em>; dan (4) ketika dihadapkan pada permasalahan serta halangan dapat bertahan kemudian kembali <em>(resiliency) </em>untuk mencapai kesuksesan. Sedangkan menurut Menurut Osigweh (1989), <em>psycological capital</em> adalah suatu pendekatan yang dicirikan pada dimensi-dimensi yang bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki individu sehingga bisa membantu kinerja organisasi.</p>
<p>Kondisi di atas menjelaskan, bahwa beberapa tipe pekerja menganggap ada faktor lain yang dianggap penting dalam berkarir selain faktor keuangan. Pekerja tipe sekarang perlu eksistensi diri, perlu dimanusiakan, perlu aktualisasi diri, dan terpenting perlu tumbuh kembang secara material, mental, dan spiritual. Jika perusahaan tidak lagi mampu menangkap sinyal-sinyal kuat dari pekerjanya yang memiliki karakteristik seperti itu, bisa jadi mereka akan kehilangan aset penting perusahaan. Pada akhirnya mereka hanya ‘memelihara’ pekerja-pekerja’ loyalis yang tipikal pasrah bisa disuruh dan menurut tetapi kenyataannya mereka sudah ‘mati’. Kelangsungan hidup organisasi saat ini sangat ditentukan oleh tipikal pekerja atau orang-orang yang fleksibel dan tanggap terhadap perubahan cepat (adaptif).</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu penulis sempat membaca artikel di sebuah surat kabar yang mengupas tentang teori generasi. Di dunia, saat ini dihuni oleh generasi Baby Boomer (1946-1964), generasi X (1965-1980), generasi Y (1981-1994), generasi Z, lahir 1995-2010, dan generasi Alpha (2011-2025). Generasi Z (disebut juga iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet) terlahir dari generasi X dan Generasi Y. Meskipun dihuni oleh lima generasi yang berbeda, usia produktif dihuni mulai Gen X beberapa mungkin masih ada yang dari baby boomer. Agar dapat bersaing dan kompetitif dalam persaingan bisnis di era digital seperti sekarang, mau tidak mau harus mengikuti pola pikir, keinginan, dan gaya hidup generasi-generasi yang dominan saat ini.</p>
<figure id="attachment_2044" aria-describedby="caption-attachment-2044" style="width: 150px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2015/12/FATAL.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-2044" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2015/12/FATAL-150x147.jpg" alt="Change or Not" width="150" height="147" /></a><figcaption id="caption-attachment-2044" class="wp-caption-text">Change or Not</figcaption></figure>
<p>Dalam manajemen, kita mengenal lima generasi manajemen, jika generasi IV<em> (value creative management)</em> dengan total quality managementnya (TQM), saat ini sudah masuk dalam <em>management by knowledge and networking base</em>. Teori yang digagas oleh Charles M. Savage dalam bukunya F<em>ifth Generation Management – integrating enterprises through human networking, 1990</em>; mengutamakan kualitas melalui kepuasan individu (pelanggan maupun anggota organisasi); ciri utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan perusahaan melalui jaringan manusia; unsur manusia di dalam organisasi dihargai sangat tinggi sebagai individu yang memiliki keahlian-keahlian tertentu; individu anggota organisasi bukan hanya sekedar alat produksi. Hal itulah yang mendasari lahirnya fungsi-fungsi kerja/jabatan yang lebih spesifik.</p>
<p>Indonesia yang masih masuk kategori sebagai negara <em>stoller</em> (pejalan santai) harus mulai memutar otak jika tidak ingin makin tertinggal dengan negara tetangga yang sudah mulai menjadi <em>sprinters</em> (pelari jarak pendek). Lalu kapan Indonesia akan menjadi <em>skater</em> atau <em>strider</em>?. Ya tergantung bagaimana sumber daya manusia (SDM) Indonesia menyikapi tantangan ini. Agar siap menghadapi era AEC atau MEA yang sudah dipelupuk mata, sudah seharusnya semua <em>stakeholder</em> memiliki <em>Global Mindset.</em> Bagaimana dengan Anda? perusahaan Anda? Sudah siapkah? Perubahan itu harga mati.</p>
<p>Disadur dari berbagai sumber.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/perubahan-itu-harga-mati/">Perubahan itu Harga Mati</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/perubahan-itu-harga-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Logo? Pentingkah?</title>
		<link>https://www.denbagus.com/logo-pentingkah/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/logo-pentingkah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 07:47:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[brand image]]></category>
		<category><![CDATA[gestalt]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>
		<category><![CDATA[IMC]]></category>
		<category><![CDATA[Integrated Marketing Communication]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[printing]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi cetak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=930</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun saya telah membuat beberapa logo, baik untuk komersial maupun yang non komersial, baik untuk logo produk maupun logo perusahaan. Sebagian orang menganggap logo hanyalah sebuah logo, sama halnya saat orang menyatakan &#8220;Apalah arti sebuah nama&#8221;. Dalam sebuah strategi komunikasi yang berkaitan dalam pembentukan brand image suatu perusahaan maupun produk tentu saja logo membawa peran sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/logo-pentingkah/">Logo? Pentingkah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun saya telah membuat beberapa logo, baik untuk komersial maupun yang non komersial, baik untuk logo produk maupun logo perusahaan. Sebagian orang menganggap logo hanyalah sebuah logo, sama halnya saat orang menyatakan &#8220;Apalah arti sebuah nama&#8221;. <span id="more-930"></span>Dalam sebuah strategi komunikasi yang berkaitan dalam pembentukan <em>brand image</em> suatu perusahaan maupun produk tentu saja logo membawa peran sangat penting bahkan vital.Coba bayangkan saja saat Pertamina dan Garuda Indonesia mengeluarkan dana cukup besar saat mereka melakukan peremajaan logo. Logo merupakan bagian dari Integrated Marketing Communication.</p>
<p>Logo bukan sebatas simbol, tetapi logo dapat membentuk citra positif sebuah institusi atau produk. Logo merupakan identitas, memberikan informasi, bersifat persuasif, dan dapat digunakan sebagai alat pemasaran. Pernyataan tersebut sekaligus sebagai jawaban dari judul di atas, pentingkah sebuah logo?</p>
<p>Logo dibuat berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya :</p>
<ol>
<li>Diluncurkannya sebuah organisasi baru</li>
<li>Perusahaan melakukan <em>merger</em></li>
<li><em>Re-Positioning</em></li>
<li>Perubahan kultur budaya perusahaan (pergantian manajemen, visi, dan misi perusahaan secara holistik)</li>
<li>Pengembangan usaha (internasional)</li>
</ol>
<p>Jadi saatnyakah perusahaan atau produk Anda berganti logo? Jangan terburu-buru, diperlukan analisa mendalam untuk merubah sebuah logo. Lima hal di atas hanya sebagian kecil yang melatar belakangi dibuatnya sebuah logo baru. Jika tidak tepat malah akan menimbulkan kontroversi, salah persepsi, dan pemaknaan yang salah.</p>
<p>Jika melihat dampak positif dan negatif dari logo, tentu saja mulai saat ini jangan pernah berfikir membuat logo itu perkara mudah. Tidak cukup dalam hitungan jam bahkan hari sekalipun. Diperlukan jam terbang yang cukup, pengetahuan/kompetensi bagi seseorang untuk dapat membuat logo yang efektif.</p>
<p>Ada beberapa tahapan dalam membuat logo:</p>
<ol>
<li>Riset dan Analisa brand<br />
Perlu dilakukan riset yang mendalam dan benar terkait dengan produk atau perusahaan yang akan membuat logo. Buat pula diagram SWOT untuk memetakkan kompetitor, kelebihan dan kekurangan, dan faktor lainnya.</li>
<li>Mengetahui strategi komunikasi dan visual<br />
Seseorang harus paham karakter apa yang akan dibentuk dari logo yang dibuat. Apakah hanya terdiri dari bentuk simbol, tipografi saja, atau perpaduan keduanya.</li>
<li>Memahami tentang gestalt dan kecenderungan mata manusia.</li>
<li>Memahami karakter warna, bagaimana mengkombinasikan, dan psikologinya.</li>
<li>Pengetahuan tentang berbagai media, dimana saja logo akan diterapkan.</li>
<li>Pengetahuan dalam bidang produksi cetak. Sebab dalam produksi cetak ada banyak sekali teknologi cetak yang digunakan. Desainer harus memahami karakter berbagai jenis cetak.</li>
<li>Pengetahuan, latihan terus-menerus sangat diperlukan.</li>
</ol>
<p>Logo sendiri merupakan bagian dari desain grafis dan berkaitan dengan bidang ilmu komunikasi, pemasaran, psikologi, dan bidang keilmuan lainnya. Mulai sekarang pikirkanlah logo yang Anda buat dengan seksama. Karena logo yang baik dan efektif akan membawa rasa bangga bagi pemiliknya. Selamat belajar.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/logo-pentingkah/">Logo? Pentingkah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/logo-pentingkah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gengsi atau Kualitas</title>
		<link>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 10:58:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[akademik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[prestisius]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=902</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul di atas pasti membuat penasaran dan bingung. Mau ngomong apa sih sebenarnya? Lama sekali saya memendam perasaan ini. Toh saya bukan akademisi, bukan juga pakar psikologi ataupun pakar pendidikan. Tapi melihat fenomena zaman sekarang dan membaca beberapa artikel di berbagai sumber, geli rasanya saat membaca. Ada  beberapa pertanyaan yang ada dalam benak kepala saya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/">Gengsi atau Kualitas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas pasti membuat penasaran dan bingung. Mau ngomong apa sih sebenarnya? Lama sekali saya memendam perasaan ini. Toh saya bukan akademisi, bukan juga pakar psikologi ataupun pakar pendidikan. Tapi melihat fenomena zaman sekarang dan membaca beberapa artikel di berbagai sumber, geli rasanya saat membaca.<span id="more-902"></span></p>
<p>Ada  beberapa pertanyaan yang ada dalam benak kepala saya.</p>
<ol>
<li>Apakah benar kualitas pendidikan zaman sekarang lebih baik dibanding zaman dulu?</li>
<li>Apakah benar anak zaman sekarang lebih kreatif dibanding anak zaman dulu?</li>
<li>Apakah benar orang tua zaman sekarang lebih mementingkan ego daripada berusaha memahami keinginan anak?</li>
</ol>
<p>Huuuuu &#8230; tiga pertanyaan yang pastinya akan mengundang kontroversi. Bermacam-macam argumen tentunya melatar belakangi jawaban masing-masing individu.</p>
<p>Oke &#8230; tulisan ini sebenarnya hanya sebagai bentuk &#8216;curhat&#8217; saja. Toh juga hanya sekedar tulisan. Tapi apa salahnya jika banyak yang mau berbagi lewat tulisan ini.</p>
<p><em> </em></p>
<figure id="attachment_904" aria-describedby="caption-attachment-904" style="width: 225px" class="wp-caption alignleft"><em><em><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-904" title="Bayi Kita" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran-225x300.jpg" alt="Bayi Kita" width="225" height="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran-225x300.jpg 225w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran.jpg 300w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></a></em></em><figcaption id="caption-attachment-904" class="wp-caption-text">Bayi Membaca</figcaption></figure>
<p><em>Flashback </em>sedikit ke masa lampau, di mana masa kanak-kanak saya lebih banyak habis untuk &#8216;bermain&#8217;. Apakah kata bermain di sini mengandung makna konotasi. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Istilah bermain zaman sekarang memang lebih banyak makna negatifnya dibanding positifnya. Bahkan sering kali saya mendengar orang tua menggertak anaknya, &#8220;Jangan bermain saja&#8221;. Ada yang salah dengan bermain? Lihat dulu &#8230;</p>
<p>Sewaktu kecil, jenis mainan memang tidak sebanyak sekarang. Bahkan boleh dibilang tidak ada. Sehingga mau tidak mau memaksa anak zaman dulu untuk &#8220;<em>think creative</em>&#8220;. Menciptakan berbagai mainan, pistol, mobil, rumah, dan masih banyak lagi jenis mainan yang dapat dibuat sendiri. Sedangkan sekarang, semua tinggal ambil, asal ada duwit mainan apapun dapat dimiliki. Itu adalah contoh kecil perbedaan anak zaman sekarang dan zaman dulu.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan orang tua. Saya ingat sekali semasa kecil, jarang menjumpai orang tua yang sampai marah-marah memaksa anaknya untuk belajar. Kesadaran anak waktu itu cukup tinggi dalam hal belajar. Siapa yang salah?</p>
<p>Coba kita tarik benang merahnya. Kualitas gizi anak sekarang jelas beda jauh dengan anak zaman dulu. Segala kebutuhan nutrisi untuk anak dapat dengan mudah dipenuhi baik lewat susu formula atau makanan tambahan. Nah &#8230;. inilah yang perlu digaris bawahi. Jika dulu orang tua terutama ibu hanya mampu memberi ASI atau minuman dari beras merah, sekarang berbagai susu formula menghiasi toko besar dan kecil. Lebih parah lagi ASI tidak lagi dipandang sebagai nutrisi penting bagi anak/bayi. Menggunakan produk susu formula dengan kandungan ini itu dan harga yang tinggi menjadi sebuah &#8216;TREN&#8217;. Wowww &#8230; takut &#8230;. !!! Zaman modern gitu &#8230; Kalau gak pakai susu formula kurang &#8216;prestisius&#8217;. Berbagai dalil bagi para orang tua untuk mencari pembenaran. Praktis, nutrisi lebih tinggi, anak lebih cerdas, lebih cepat tumbuh, dan berbagai alasan lain menjadi alibi bagi sebagian besar orang tua. Artinya, anak-anak kita tidak ada bedanya dengan ayam petelur atau bahkan ayam potong. Semakin cepat ia tumbuh semakin cepat pula di &#8216;panen&#8217; <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> hehehehhe &#8230;</p>
<p>Saat ini orang tua teramat senang jika melihat anaknya baru usia balita sudah panda ini itu, tumbuh besar, dan aktif. Hati &#8230; hati &#8230; Buat saya pertumbuhan anak memang penting, tetapi bukan berarti mengorbankan segalanya.</p>
<p>Weleh &#8230; sudah panjang &#8230; bersambung aja deh .. Masih banyak curhat yang belum ketulis. Tunggu sambungan berikutnya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/">Gengsi atau Kualitas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metodologi Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 02:19:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[black boxes]]></category>
		<category><![CDATA[IMC]]></category>
		<category><![CDATA[Integrated Marketing Communication]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[metode riset]]></category>
		<category><![CDATA[metodologi desain]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=821</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam salah satu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, ada salah satu mata kuliah yang menurut saya merupakan roh atau dasar dari semua bidang ilmu yang saya pelajari sejauh ini. Karena mata kuliah ini mengintegrasikan beberapa bidang ilmu sekaligus. Mulai psikologi, marketing, komunikasi, visual, manajemen, dan masih banyak bidang lain sebagai suplemen dari mata kuliah ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metodologi-desain/">Metodologi Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam salah satu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, ada salah satu mata kuliah yang menurut saya merupakan roh atau dasar dari semua bidang ilmu yang saya pelajari sejauh ini. Karena mata kuliah ini mengintegrasikan beberapa bidang ilmu sekaligus. Mulai psikologi, marketing, komunikasi, visual, manajemen, dan masih banyak bidang lain sebagai suplemen dari mata kuliah ini. <span id="more-821"></span>Jadi sangat penting buat saya mengetahui lebih mendalam.</p>
<p>Ada beberapa buku menarik yang bisa dijadikan acuan.</p>
<ol>
<li>Sarwono, Jonathan dan <em>Lubis</em>, <em>Hary</em>. (2007). <em>Metode Riset</em> untuk Desain. Komunikasi  Visual. Yogyakarta: Penerbit Andi</li>
<li><em>Uyung Sulaksana</em>,  “<em>Integrated Marketing Communication</em>”, Pustaka Pelajar, 2003.</li>
</ol>
<p>Sayang buku-buku ini teramat langka untuk didapatkan di pasaran. Nah mata kuliah yang saya maksud adalah <strong>&#8220;METODOLOGI DESAIN&#8221;.</strong></p>
<p>Seperti biasa, saya hanya mereview apa yang sudah saya dapatkan di perkuliahan, barangkali bermanfaat buat pembaca sekalian. Tentu saja tulisan ini masih banyak kelemahan dan alangkah senangnya jika pembaca bisa melengkapi segala suatu yang dianggap masih kurang.</p>
<p>Secara garis besar, seorang desainer adalah sebagai probrom solver, ada beberapa tahapan dasar yang harus dipahami seorang visual artis berakitan dengan bidang desain, yaitu, &#8220;Konsep, Media, Ide, Data, dan Visualisasi.</p>
<p>Berkaitan dengan Konsep dan Ide, ada beberapa metode berfikir dalam merancang desain:</p>
<ol>
<li>Metode berfikir Intuitif</li>
<li>Metode berfikir Logis</li>
<li>Metode berfikir Prosedural</li>
</ol>
<p><strong>Metode berfikir Intuitif</strong></p>
<ol>
<li>Tidak Logis</li>
<li>Tidak rasional/tidak dapat diukur, namun tetap dapat dipahami sebagai kreatifitas</li>
<li>Didasari data, namun tidak detail</li>
<li>Subyektif</li>
<li>Berfikir imagining (kotak hitam/<strong><em>black boxes</em></strong>)</li>
</ol>
<p><strong>Ciri-ciri <em>black boxes</em>:</strong></p>
<ol>
<li>Sasaran desain sesuai dengan perubahan pikiran desainer.</li>
<li>Data menentukan keputusan desainer dan berdasarkan pengalaman desainer</li>
<li>Keputasan cepat dan acak</li>
<li>Leap of Insight -&gt;&gt; menyederhanakan beberapa aspek -&gt;&gt; menipulasi citra</li>
<li>Knowledge yang luas mutlak bagi desainer, referensi, cepat dalam memutuskan, orisinil, dan fleksibel dalam berfikir.</li>
</ol>
<p><strong>Metode berfikir Logis</strong></p>
<ol>
<li>Mengacu pada data/fakta yang terukur dan terarah.</li>
<li>Glass boxes/berfikir reasoning (kotak kaca)</li>
<li>Data berupa dokumentasi, observasi, questioner, interview</li>
</ol>
<p><strong>Ciri-ciri berfikir logis:</strong></p>
<ol>
<li>Analisis dilakukans secara mendalam dan tuntas sebelum pengambilan keputusan</li>
<li>Evaluasi bersifat deskriptif dan dijelaskan secara logis</li>
<li>Strategi perancangan/desain ditetapkan dahulu sejak awal, sebelum proses analisis.</li>
</ol>
<p>Secara garis besar dapat digambarkan dalam diagram seperti di bawah.</p>
<figure style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/diagram.jpg"><img loading="lazy" title="Gambar bagan secara garis besar" src="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/diagram.jpg" alt="Gambar bagan secara garis besar" width="400" height="404" /></a><figcaption class="wp-caption-text">Gambar bagan secara garis besar</figcaption></figure>
<p><strong>Metode berfikir Prosedural</strong></p>
<ol>
<li>Meninjau kembali dua cara berfikir sebelumnya</li>
<li>Jika 2 metode sebelumnya kurang fokus/kurang jelas, diperlukan eksplorasi lebih lanjut</li>
<li>Jika diperlukan mengambil keputusan yang baru</li>
<li>Metode Pengorganisasian diri (Self Organizing System)</li>
<li>Variasi metode desain lebih banyak</li>
<li>Intuisi pada akhirnya menjadi sangat penting dan diperlukan saat <em>final decision</em> (keputusan akhir)</li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metodologi-desain/">Metodologi Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi Visual</title>
		<link>https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 11:08:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[desain komunikasi visual]]></category>
		<category><![CDATA[dkv persuasif]]></category>
		<category><![CDATA[ilustrasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[tipografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=812</guid>

					<description><![CDATA[<p>DESAIN KOMUNIKASI VISUAL Seni menyampaikan pesan (arts of communication) dengan menggunakan bahasa rupa (visual language) yang disampaikan melalui media berupa desain. Tujuan: Menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, symbol, ilustrasi, gambar/foto, tipografi/huruf, dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual yang khas. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/">Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi Visual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DESAIN KOMUNIKASI VISUAL</strong></p>
<ul>
<li>Seni menyampaikan pesan (<em>arts of communication</em>) dengan menggunakan bahasa rupa (<em>visual language</em>) yang disampaikan melalui media berupa desain.</li>
<li>Tujuan: Menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang diinginkan.<span id="more-812"></span></li>
<li>Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, symbol, ilustrasi, gambar/foto, tipografi/huruf, dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual yang khas.</li>
<li>Isi pesan disampaikan dengan kreatif dan komunikatif serta mengandung solusi terhadap permasalahan yang hendak dipecahkan. (sosial maupun komersial  ataupun berupa informasi, identifikasi maupun persuasif)</li>
</ul>
<p><strong>PSIKOLOGI</strong></p>
<ul>
<li>Psikologi atau psychology secara etimologi atau asal usul kata berasal dari kata <strong>psycho</strong>, merupakan bahasa Yunani <strong>Psukhe</strong> yang artinya pikiran, jiwa (mind). Sedangkan<strong> logy</strong> berarti ilmu. Makna keseluruhannya adalah ilmu yang mempelajari jiwa dan pikiran.</li>
<li>Psikologi adalah sebuah disiplin ilmu yang bersifat akademis dan terapan yang melingkupi mengenai proses mental dan perilaku.</li>
<li>Bidang yang dipelajari oleh psikolog adalah perihal persepsi, kognisi (proses penyerapan pengetahuan), emosi, kepribadian, dan hubungan interpersonal. Psikologi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, pendidikan, pekerjaan, serta perlakuan terhadap permasalahan kejiwaan manusia.</li>
<li>Beberapa sub bidang psikologi diantaranya psikologi pengembangan sumber daya manusia, psikologi olah raga, psikologi kesehatan, psikologi industri, psikologi media, dan psikologi hukum.</li>
</ul>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/">Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi Visual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
