<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blank! Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/category/blank/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/category/blank/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jul 2018 09:28:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Sharing dan Selling Itu Keren</title>
		<link>https://www.denbagus.com/sharing-dan-selling-itu-keren/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/sharing-dan-selling-itu-keren/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2018 09:25:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing]]></category>
		<category><![CDATA[internet marketing]]></category>
		<category><![CDATA[jualan online]]></category>
		<category><![CDATA[makelar]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi reseller]]></category>
		<category><![CDATA[reseller]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2819</guid>

					<description><![CDATA[<p>SHARING DAN SELLING ITU KEREN Mindset Mindset saya dulu saat masih unyu-unyu memandang SALESMAN itu terasa HINA. Maklum, saat melihat mereka yang ada dibenak saya orangnya NGEYELAN, banyak GOMBAL, banyak OMONG, ah banyak predikat buruk deh. Karena itulah yang sering saya jumpai. Profesi sayapun lebih banyak di belakang layar. Pepatah bilang, “Benci lama-lama jadi rindu.” [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/sharing-dan-selling-itu-keren/">Sharing dan Selling Itu Keren</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>SHARING DAN SELLING ITU KEREN</h3>
<h4>Mindset</h4>
<p>Mindset saya dulu saat masih unyu-unyu memandang SALESMAN itu terasa HINA. Maklum, saat melihat mereka yang ada dibenak saya orangnya NGEYELAN, banyak GOMBAL, banyak OMONG, ah banyak predikat buruk deh. Karena itulah yang sering saya jumpai. Profesi sayapun lebih banyak di belakang layar.</p>
<p>Pepatah bilang, “Benci lama-lama jadi rindu.” Itu yang mungkin saya rasakan saat ini. DODOLAN atau jualan itu ternyata menyenangkan. Semua bermula setelah mendapat HIDAYAH. Hehehehe… Yups, balik lagi, pertemuan dan mulai tresno dengan JUAL BELI dimulai saat pertama beli buku “Berani Jadi Taubater,&#8221; karya emas mas&nbsp;Saptuari Sugiharto. Membimbing saya menemukan kembali ‘jalan yang benar,’ RIBA itu ngeRIBAnget!</p>
<p>Sejak lahir ceprot saya memang termasuk tipikal manusia tertutup, makanya tidak begitu suka menjadi orang depan layar. Sehingga profesi atau bidang kerja yang saya pilih harus di belakang meja, tenang, tidak banyak bertemu orang.</p>
<p>Tapi hadirnya media zaman now, memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi saya untuk berekspresi dan menulis. <em>‘Love at the first sight’</em> mendadak menarik saya ke minat baru yaitu, JUALAN.</p>
<h4>Berproses</h4>
<p>Saya yakin, dipertemukannya saya dengan buku “Berani Jadi Taubater dan Kembali Ke Titik Nol” bukan hanya kebetulan, tetapi membuka mata saya betapa dunia ini luas. Bahkan orang yang tidak saya kenal dan jauh di sana bisa memberikan energi yang luar biasa dahsyat. Mempertemukan saya dengan hal-hal baru penuh tantangan, memunculkan potensi terpendam yang seharusya bisa dioptimalkan.</p>
<p>Begitulah hidup, harus tumbuh dan berproses. Menemukan intan permata yang terpendam di dalam diri. Setelah perjumpaan dengan dua buku di atas, pelan-pelan tanpa sadar saya dipertemukan dengan manusia-manusia luar biasa lainnya. Energi lebih dahsyat kembali menghampiri.</p>
<p>Ternyata benar, ilmu itu harus dijemput bukan ditunggu. Sama kayak jodoh dan rezeki. Makanya jangan meratapi diri menjadi JONES forever atau rezeki seret kalau kita belum mengupayakan secara optimal potensi diri kita dalam menjemput ketiganya.</p>
<p>Satu pertemuan, berujung pada pertemuan lainnya. Energi positif memberi energi positif lainnya. Cerita panjang ini baru awal kisah benih-benih cinta terhadap SALES alias DODOLAN ONLINE.</p>
<h4>Dunia Baru Jualan dan Makelar</h4>
<p>Jualan online, lebih spesifik internet marketing, digital marketing, MAKELAR, dan seabrek lainnya telah membuka mata hati saya bahwa SALES begitu penting. Tanpa SALES bisnis atau dagang apapun gak ada gunanya.</p>
<p>Waduh berhenti dulu nulisnya, sudah panjang kali lebar. Kisah berikutnya akan saya sambung. Saya ceritakan kenapa memilih jadi “MAKELAR BUKU” di Billioanaire Store.&nbsp;</p>
<p>Jadi ingat iklan zaman old dulu. “Kalau sudah duduk lupa berdiri, kalau sudah nulis lupa berhenti.” Aiyaaa&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/sharing-dan-selling-itu-keren/">Sharing dan Selling Itu Keren</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/sharing-dan-selling-itu-keren/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Persistent Mental</title>
		<link>https://www.denbagus.com/persistent-mental/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/persistent-mental/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2018 12:58:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[coaching]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[persistent]]></category>
		<category><![CDATA[practice]]></category>
		<category><![CDATA[training]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2790</guid>

					<description><![CDATA[<p>Persistent Mental Bisnis = Kung Fu Bisnis itu sama dengan belajar jurus kung fu mengulangi 1 jurus berkali-kali. Tujuannya agar terbentuk mental yang kuat dan tahan banting terhadap segala situasi. Fokus Fokus pada hal-hal yang kita sukai, pelajari, lakukan berulang-ulang sampai insting kita terlatih dan terasah. Saat hasilnya belum optimal ulangi lagi, coba lagi, evaluasi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/persistent-mental/">Persistent Mental</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Persistent Mental</h2>
<h3>Bisnis = Kung Fu</h3>
<p>Bisnis itu sama dengan belajar jurus kung fu mengulangi 1 jurus berkali-kali. Tujuannya agar terbentuk mental yang kuat dan tahan banting terhadap segala situasi.</p>
<h3>Fokus</h3>
<p>Fokus pada hal-hal yang kita sukai, pelajari, lakukan berulang-ulang sampai insting kita terlatih dan terasah. Saat hasilnya belum optimal ulangi lagi, coba lagi, evaluasi. Jangan diuji sedikit aja sudah menyerah sudah pengin ganti yang lain.</p>
<h3>1 Jurus Lebih Baik daripada 1000 jurus.</h3>
<p>Tuntaskan 1 jurus sebelum belajar jurus yang lain. Begitu pula dalam bisnis selesaikan yang satu sebelum memulai yang baru. Karena lebih baik melatih 1 jurus 1000 kali daripada melatih 1000 jurus hanya sekali.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/persistent-mental/">Persistent Mental</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/persistent-mental/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjemput Impian</title>
		<link>https://www.denbagus.com/menjemput-impian/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/menjemput-impian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2018 12:40:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[angin malam]]></category>
		<category><![CDATA[denbagus]]></category>
		<category><![CDATA[haveanicedream]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[menjemputimpian]]></category>
		<category><![CDATA[selamat malam]]></category>
		<category><![CDATA[selfmotivation]]></category>
		<category><![CDATA[spirit]]></category>
		<category><![CDATA[sweetdream]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2787</guid>

					<description><![CDATA[<p>MENJEMPUT IMPIAN Tanpa Pilihan dan Mimpi Hidup terkadang memang tidak ada pilihan bagi sebagian orang. Bahkan terkadang seolah tidak berhak memiliki impian. Namun alangkah meruginya seseorang tatkala begitu banyak pilihan justru ia tak mau memilih yang terbaik untuk dirinya. Meskipun begitu, manusia tetap dihadapan pada pilihan. Mau jadi apa diri kita, mau seperti apa cerita [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/menjemput-impian/">Menjemput Impian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>MENJEMPUT IMPIAN</h2>
<h3>Tanpa Pilihan dan Mimpi</h3>
<p>Hidup terkadang memang tidak ada pilihan bagi sebagian orang. Bahkan terkadang seolah tidak berhak memiliki impian. Namun alangkah meruginya seseorang tatkala begitu banyak pilihan justru ia tak mau memilih yang terbaik untuk dirinya.</p>
<p>Meskipun begitu, manusia tetap dihadapan pada pilihan. Mau jadi apa diri kita, mau seperti apa cerita hidup kita. <em>Happy ending</em> atau <em>sad ending?</em></p>
<h3>Takdir</h3>
<p>Tatkala berbicara takdir, bukan berarti kita pasrah tanpa upaya untuk menjadi lebih baik. Bahkan saat rezeki sudah ditetapkan oleh Allah sekalipun kepada seluruh makhluk hidup. Itu saja masih diharuskan untuk menjemputnya, mengupayakan melalui ikhtiar serta doa.</p>
<h3>Jalan Hidup</h3>
<p>Takdir dan jalan hidup itu beda. Saat kita sudah berusaha berangkat pagi sekali untuk menghindari macet, justru terlambat karena ban motor bocor kena paku serta jauh dari tukang tambal. Inilah takdir, sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah. Tidak bisa ditolak atau dihindari. Sama seperti hidup dan mati. Kita tidak bisa memilih. Tetapi tatkala kita selalu mengeluh gaji gak naik-naik, selalu telat datang dan molor, bisnis mandek, ini bukan takdir. Sesuatu yang masih bisa diupayakan solusi.</p>
<h3>Introspeksi Diri</h3>
<p>Saatnya bercermin dan introspeksi. Evaluasi perjalanan hidup kita. Perbaiki diri. Ini pilihan kita, jalan hidup kita. Sudahkah melakukan upaya terbaik? Tugas kita memang harus mengupayakan yang terbaik dalam menjemput rezeki, selebihnya, hak prerogatif Allah.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/menjemput-impian/">Menjemput Impian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/menjemput-impian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menumpuk Dosa atau Pahala Lewat Media Sosial</title>
		<link>https://www.denbagus.com/menumpuk-dosa-atau-pahala-lewat-media-sosial/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/menumpuk-dosa-atau-pahala-lewat-media-sosial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 May 2018 03:58:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[denbagus]]></category>
		<category><![CDATA[indahnyaberbagi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<category><![CDATA[tulisanpanjang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2784</guid>

					<description><![CDATA[<p>Makhluk Sosial Kita semua sepakat yang namanya sosial media adalah media yang secara konsep sejak awal dibuat untuk bersosialita. Secara spesifik saya ambil contoh Facebook. Saat sekolah kitapun sudah diajari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Ntahlah konsep ini suatu saat terpatahkan atau tidak. Yang jelas tidak ada orang mati yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/menumpuk-dosa-atau-pahala-lewat-media-sosial/">Menumpuk Dosa atau Pahala Lewat Media Sosial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>Makhluk Sosial</h3>
<p>Kita semua sepakat yang namanya sosial media adalah media yang secara konsep sejak awal dibuat untuk bersosialita. Secara spesifik saya ambil contoh Facebook.</p>
<p>Saat sekolah kitapun sudah diajari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Ntahlah konsep ini suatu saat terpatahkan atau tidak. Yang jelas tidak ada orang mati yang bisa jalan sendiri ke kuburan.</p>
<h3>Bijak Bersosial Media</h3>
<p>Hadirnya media sosial dan media digital lainnya memang sudah merubah 180 derajat pola pikir, perilaku, gaya hidup, dan sikap manusia dalam berinteraksi dan bersosial.</p>
<p>Ada yang tetap skeptis dengan media sosial ini, ada yang mampu mengoptimalkan, tak jarang yang memanfaatkan untuk black campaign, dan seabrek alasan lain dalam menggunakan media sosial.</p>
<p>Belakangan, news feed saya penuh berbagai macam hujatan, cibiran, cacian, dan intimidasi. Semua orang bebas berekspresi, beropini, berargumentasi.</p>
<p>Sayangnya, mereka tidak sadar, ucapan, tulisan, ekspresi yang terpapar di news feed terbaca oleh ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang.</p>
<p>Bayangkan jika tulisan kita selalu menimbulkan aura negatif, selalu provokatif, selalu skeptis.</p>
<p>Tahukah baper yang lebay itu juga akan meng-infulence banyak orang. Energi negatif akan terus mengalir dari penulis hingga pembaca yang membacanya.</p>
<p>Tahukah, jika efek yang timbul dari tulisan kita itu berdosa, dosa itu akan terus bertambah saat makin banyak yang tersakiti dan makin banyak yang terbawa aura negatif.</p>
<p>Kenapa tidak justru kita kumpulkan banyak pahala yang baik dari media ini, berikan aura positif, manfaatkan untuk kebaikan. Maka kebaikan akan terus mengalir untuk kita.</p>
<p>Bijaksanalah dalam berucap, menulis, dan beropini. Akan banyak yang tertawa tatkala kita terprovokasi, ketika kita terintimidasi, ketika kita terporakpondakan.</p>
<p>Jangan timbulkan aura negatif jika tidak ingin hidupmupun menjadi gelap tak bercahaya. Jangan mudah percaya, terprovokasi dengan sesuatu yang nyata belum tentu kebenarannya.</p>
<p>Biasakan membaca, biasakan mencari referensi yang kredibel, Tabayyun. Tanyalah kepada yang mengerti. Belajarlah, belajarlah, carilah ilmu sampai tak mampu lagi melakukannya.</p>
<p><em><strong>Jaga Lisanmu, Jaga Tulisanmu, Jaga Komentarmu.</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/menumpuk-dosa-atau-pahala-lewat-media-sosial/">Menumpuk Dosa atau Pahala Lewat Media Sosial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/menumpuk-dosa-atau-pahala-lewat-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidup Harus &#8216;CARI&#8217; Masalah</title>
		<link>https://www.denbagus.com/hidup-harus-cari-masalah/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/hidup-harus-cari-masalah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2018 01:47:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[learner]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2760</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hidup Harus &#8216;Cari&#8217; Masalah Ah hidup sekali kok seneng cari masalah. Tunggu dulu, maksud cari-cari masalah bukan berarti seneng bikin gara-gara atau seneng bikin masalah. Tapi hidup cari-cari masalah itu adalah meluaskan pandangan, meringankan tangan, konsentrasikan pikiran, dan memasang telinga lebar-lebar agar kita peka terhadap permasalahan di lingkungan sekitar kita. Pertemuan Singkat Pertemuan singkat dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/hidup-harus-cari-masalah/">Hidup Harus &#8216;CARI&#8217; Masalah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hidup Harus &#8216;Cari&#8217; Masalah</strong></h2>
<p>Ah hidup sekali kok seneng cari masalah. Tunggu dulu, maksud cari-cari masalah bukan berarti seneng bikin gara-gara atau seneng bikin masalah. Tapi hidup cari-cari masalah itu adalah meluaskan pandangan, meringankan tangan, konsentrasikan pikiran, dan memasang telinga lebar-lebar agar kita peka terhadap permasalahan di lingkungan sekitar kita.</p>
<h4><strong>Pertemuan Singkat</strong></h4>
<p>Pertemuan singkat dengan <a href="https://www.facebook.com/tyovanari?fref=mentions">Tyovan Ari Widagdo</a>, CEO bahaso pada wisuda ke-41 <a href="https://www.facebook.com/stikomsurabaya/?fref=mentions">Stikom Surabaya</a> cukup membuat saya lebih melek. Cerita inspiratif yang mengisahkan perjalanan hidup seorang anak manusia yang memiliki passion dan visi jauh ke depan. Bercerita jatuh bangunnya sejak kecil saat mulai merintis bisnis hingga bagaimana menangani SDM zaman now.  Benar kata Tyovan, jika ingin sukses hiduplah dan bergaullah dengan orang-orang sukses. Seringlah stalking gaya hidup dan perilaku orang-orang sukses. Karena menjadikan role model orang-orang sukses dalam diri kita, secara tidak sadar itupun akan membentuk pribadi kita. Miliki passion yang kuat terhadap minat kita, tetapi yang menghasilkan atau memberi dampak.</p>
<h4><strong>Hidup</strong></h4>
<p>Proses hidup dimulai dari kita tidak tahu apa-apa, kemudian ada input berasal dari indra kita, dirasa, diolah oleh otak, selanjutnya akan direspon. Respon yang terjadi bisa bermacam-macam. Bisa baik, atau buruk. Nah, disinilah aspek kehidupan sosial, psikologi, dan religiusitas seseorang akan menjadi penentu dalam memutuskan ilmu serta pengalaman yang ia dapat akan dipergunakan seperti apa.</p>
<h4><strong>Passion</strong></h4>
<p>Sama, seperti saat passion saya dulu di desain, nyaris tiap hari tak ada aktivitas selain membuat desain, drawing, photography, dan aktivitas relevan lainnya. Pada suatu titik, saya merasa memerlukan tantangan baru, ilmu baru, passion baru, agar hidup lebih bermakna, lebih berisi, dan lebih bisa memberi manfaat.  Kisah Tyovan merupakan salah satu kisah lain yang mampu memberi suntikan buat kesuksesan siapapun. Sejak bangku SMP visi dan passionnya di dunia IT mengantarkannya hingga seperti sekarang. Kisah orang-orang sukses memang tak pernah selesai dan cukup jika hanya sebagai bahan bacaan atau inspirasi semata. Tetapi diperlukan untuk membangun mindset serta behavior yang tangguh melalui action tak henti-hentinya. Bangun mimpi setinggi langit agar kalau kau jatuh minimal jatuh di atas bintang-bintang.  Sama halnya saat saya memutuskan pertama kali bergabung dengan tim <a href="https://www.facebook.com/dewaekaprayoga/?fref=mentions">Dewa Eka Prayoga</a> lewat <a href="https://www.facebook.com/billionairestore.sda/?fref=mentions">Billionaire Store Sda</a> nya. Untuk memulai hal baru, kita harus berani &#8216;nyemplung&#8217; dulu, gelorakan passion agar setelah nyemplung tidak mati tenggelam. Gerakkan tangan dan kaki agar ritme terbentuk hingga pelan-pelan mampu berenang mengikuti irama dalam pola pikir seorang internet marketer.</p>
<h4><strong>Pembelajar</strong></h4>
<p>Jangan pernah marasa puas dan berhenti belajar, hidup itu bukan semata kamu menjadi apa, tetapi bagaimana hidupmu terus berproses, memberi dampak positif bagi orang sekitarmu. Mampu memberi solusi dalam setiap masalah sekitarmu. Beruntunglah kita hidup di Indonesia yang penuh masalah, dari sanalah akan lahir inovasi dan ide-ide kreatif. Karena kesuksesan lahir dari proses menyelesaikan masalah (memunculkan pengetahuan baru, ilmu baru, evaluasi, dll)  . Sukses buat semua saudaraku yang selalu punya passion untuk terus &#8216;HIDUP.&#8217; Semoga berkah selalu terlimpahkan untuk kita semua.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/hidup-harus-cari-masalah/">Hidup Harus &#8216;CARI&#8217; Masalah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/hidup-harus-cari-masalah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngurus Tilang Dengan Jari-Jari</title>
		<link>https://www.denbagus.com/ngurus-tilang-dengan-jari-jari/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/ngurus-tilang-dengan-jari-jari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Sep 2017 08:10:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[delivery tilang]]></category>
		<category><![CDATA[kejaksaan negeri surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tilang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2728</guid>

					<description><![CDATA[<p>TILANG Apaan maksud judul di atas. Jadi ceritanya begini. Penulis kena tilang gara-gara melanggar rambu-rambu lalu lintas. Biasalah dengan berdalih plat S dari luar kota, kebetulan kejadian di plat L bilang sama pak Pol. &#8220;Pak saya jauh masak datang ke Surabaya cuman buat bayar tilang dan sidang.&#8221; Begitulah kira-kira dialog awal saat dipinggirkan oleh pak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/ngurus-tilang-dengan-jari-jari/">Ngurus Tilang Dengan Jari-Jari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>TILANG</h4>
<p>Apaan maksud judul di atas. Jadi ceritanya begini. Penulis kena tilang gara-gara melanggar rambu-rambu lalu lintas. Biasalah dengan berdalih plat S dari luar kota, kebetulan kejadian di plat L bilang sama pak Pol. &#8220;Pak saya jauh masak datang ke Surabaya cuman buat bayar tilang dan sidang.&#8221; Begitulah kira-kira dialog awal saat dipinggirkan oleh pak Pol. Beliaunya menjawab dengan nada singkat, &#8220;Di situ ada ATM kalau mau bayar cepat bisa, tapi maksimal. Penasaranlah penulis dan bertanya. &#8220;Berapa kalau maksimal?&#8221; 500 ribu. Eng.. ing eng&#8230; Prei ae .. ya sudahlah saya terima mawon surat tilangnya.</p>
<h4>SURAT CINTA BERNAMA &#8216;TILANG&#8221;</h4>
<p>Diterimalah surat cinta pertama berwarna biru. Semalam tidak bisa tidur dan hati gusar. Maklum surat cinta pertama ya begini. Saking penasarannya <em>browsing</em> sana sini. Karena berpikir pasti ribet, antri, belum lagi lamanya, dan harus ninggalin kerja juga. Akhirnya dengan sabar terus mencoba mencari informasi, mulai jenis pelanggaran, kena pasal berapa, denda berapa, surat tilang merah dan biru.</p>
<h4>PROSEDUR YANG SANGAT SIMPEL</h4>
<p>Pencarianpun terhenti, telah kutemukan jawaban pasti. DELIVERY TILANG (DT). Wow&#8230; keren ini. Tanpa ba bi bu, langsung deh disimpan kontak tilangnya segera kontak <em>by</em> WA. Lihat dialog di bawah.</p>
<figure id="attachment_2729" aria-describedby="caption-attachment-2729" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang1.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-2729" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang1-300x220.jpg" alt="Dialog Surat Tilang" height="220" width="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang1-300x220.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang1-768x563.jpg 768w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang1-220x162.jpg 220w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang1.jpg 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2729" class="wp-caption-text">Dialog Surat Tilang</figcaption></figure>
<p>Setelah mengisi data lengkap seperti yang diminta, termasuk menyertakan bukti surat tilang, tak lama kemudian jawaban dari pihak DT terlihat seperti gambar di bawah ini.</p>
<p>Setelah mendapat jawaban tunggu konfirmasi biayanya. Kalau nominal besar biasanya diinfo lewat WA, tapi kalau kecil langsung diantar dan diinformasikan saat itu juga oleh kurir.</p>
<p><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang2.jpg"><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-2730" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang2-300x48.jpg" alt="tilang2" height="48" width="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang2-300x48.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/tilang2.jpg 763w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><br />
Ongkos kirim 20 ribu, sedangkan nominal tagihan untuk pelanggaran menyesuaikan jenis pelanggarannya. Kasus yang penulis alami melanggar rambu lalu lintas dengan maksimum denda 500 ribu, tetapi karena dianggap pelanggaran ringan pengadilan memutuskan denda hanya 60 ribu plus ongkir 20 ribu, total 80 ribu. Murah bukan? Hehehehe.. tapi jangan gara-gara murah terus keenakan melanggar lalu lintas terus-terusan ya.</p>
<p>Berkas yang diterima dari kurir ada tiga, SIM/STNK yang disita, kwitansi, dan lembaran sosialisasi DELIVERY TILANG &#8220;SI ANTI RIBET.&#8221;</p>
<figure id="attachment_2735" aria-describedby="caption-attachment-2735" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/antiribet.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-2735" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/antiribet-300x224.jpg" alt="Anti Ribet" height="224" width="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/antiribet-300x224.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/antiribet-320x240.jpg 320w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/antiribet.jpg 700w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2735" class="wp-caption-text">Anti Ribet</figcaption></figure>
<p>Begitu deh pengalaman menggunakan layanan DELIVERY TILANG dari Kejaksaan Negeri Surabaya.</p>
<figure id="attachment_2740" aria-describedby="caption-attachment-2740" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/1443223siap-antar-tilang780x390.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-2740" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/1443223siap-antar-tilang780x390-300x150.jpg" alt="Delivery Tilang" height="150" width="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/1443223siap-antar-tilang780x390-300x150.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/1443223siap-antar-tilang780x390-768x384.jpg 768w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/09/1443223siap-antar-tilang780x390.jpg 780w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2740" class="wp-caption-text">Delivery Tilang</figcaption></figure>
<p>Referensi DELIVERY TILANG pertama saya dapatkan dari dua media ini.</p>
<ul>
<li><a href="http://regional.kompas.com/read/2016/08/01/15030071/.Si.Anti.Ribet.Layanan.Antar.Jemput.Denda.Tilang.ke.Rumah">SI ANTI RIBET</a></li>
<li><a href="http://otomotif.liputan6.com/read/3048091/berkat-si-anti-ribet-tebus-surat-tilang-kini-tak-lagi-repot">SI ANTI RIBET</a></li>
</ul>
<p>Jadi ini dijamin LEGAL.</p>
<p>Tetap harus tertib di jalan ya, hormati hak pengguna jalan yang lain, jaga keselamatan diri dan orang lain.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/ngurus-tilang-dengan-jari-jari/">Ngurus Tilang Dengan Jari-Jari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/ngurus-tilang-dengan-jari-jari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</title>
		<link>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2017 07:33:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[old]]></category>
		<category><![CDATA[time frame]]></category>
		<category><![CDATA[young]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR) Ngomong apa lagi sih ini. Hehehhe&#8230; memang kok ilmu itu datang dari mana saja. Nah konsep ini saya dapat dari seorang Doktor sahabat saya. Okay, gak akan panjang lebar. Apa sih konsep FOLDING TIME FRAME ini. Simpel sebenarnya. Kalau kita membuat sebuah time frame, dari masa ANAK-ANAK [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/">Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</h4>
<p><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg"><img loading="lazy" class="alignleft size-full wp-image-2571" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg" alt="" height="250" width="600" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg 600w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n-300x125.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a>Ngomong apa lagi sih ini. Hehehhe&#8230; memang kok ilmu itu datang dari mana saja. Nah konsep ini saya dapat dari seorang Doktor sahabat saya.</p>
<p>Okay, gak akan panjang lebar. Apa sih konsep FOLDING TIME FRAME ini. Simpel sebenarnya. Kalau kita membuat sebuah time frame, dari masa ANAK-ANAK sampai pada akhirnya TUA (lihat gambar) kemudian lipat time frame tersebut tepat di tengah.</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Apa yang terjadi. Tepat .. Kamu memang luar biasa .. hehehehe<br />
Yang terjadi adalah saat dilipat posisi TUA akan kembali ke ANAK-ANAK (ujung bagian TUA berhimpit dengan ujung ANAK-ANAK).</p>
<p>Apa maknanya, beliau Dr. <a class="profileLink" href="https://www.facebook.com/achmadyanu" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1229957187" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Achmad Yanu</a> menjelaskan lebih lanjut, dan sepertinya kita sepakat. Bahwa saat dilipat perilaku manusia saat usia mulai TUA, perilaku manusia cenderung akan kembali seperti ANAK-ANAK.</p>
<p>Tapi apakah mutlak seperti itu, tentu tidak. Ada cara supaya kita tidak &#8216;menjadi TUA.&#8217; Ah ada-ada saja. Manusia pasti tua.</p>
<p>Ada pepatah, fisik boleh TUA, tapi semangat tetap MUDA. Caranya gimana, ya jangan biarkan otak, pikiran, fisik, menjadi seperti ANAK-ANAK. Asah terus, cari ilmu, belajar terus. Biar daya ingat, mental, pikiran tetap terlatih dan tetap SMART.</p>
<p>Selanjutnya konse FOLDING TIME FRAME ini sebenarnya ada makna lebih dalam. Kami sebagai MUSLIM memahami konsep AWAL dan AKHIR, artinya saat lipatan tadi kita amati, di ujung sama-sama kita bisa melihat satu kesatuan antara AWAL (ANAK-ANAK) dan AKHIR (TUA). Kita dilahirkan yang pada akhirnya kita juga akan berakhir (MATI).</p>
<p>Dan terakhir saat lipatan itu kembali kita lipat-lipat. Coba perhatikan, apa yang terjadi. Benar luar biasa &#8230; menjadi angka 1. Artinya, LAHIR (AWAL) dan MATI (AKHIR) adalah satu kesatuan. Angka satu menunjukkan bahwa pada akhirnya kita harus kembali ke yang ESA yaitu ALLAH SWT.</p>
</div>
<p><span style="border-radius: 2px; text-indent: 20px; width: auto; padding: 0px 4px 0px 0px; text-align: center; font: bold 11px/20px 'Helvetica Neue',Helvetica,sans-serif; color: #ffffff; background: #bd081c  no-repeat scroll 3px 50% / 14px 14px; position: absolute; opacity: 1; z-index: 8675309; display: none; cursor: pointer;">Simpan</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/">Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bisnis Sendiri, Your Own Business</title>
		<link>https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2017 01:36:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[amati tiru modifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[atm]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[entrepeneurshing]]></category>
		<category><![CDATA[mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[pola bisnis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2536</guid>

					<description><![CDATA[<p>BISNIS SENDIRI Memiliki usaha sendiri dan mandiri menjadi cita-cita bagi sebagian besar masyarakat di era modern ini. Hal ini pula yang melatarbelakangi lahirnya motivator, coaching, dan hal lain berkaitan dengan bisnis. Mulai dari yang benar-benar pakar hingga yang amatir. Celakanya, masyarakat yang ingin belajar bisnis berharap bisa sukses dengan cara instan. Kondisi seperti ini dimanfaatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/">Bisnis Sendiri, Your Own Business</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_2542" aria-describedby="caption-attachment-2542" style="width: 711px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-2542" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business.jpg" alt="This is My Own Business" height="514" width="711" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business.jpg 711w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business-300x217.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business-140x100.jpg 140w" sizes="(max-width: 711px) 100vw, 711px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2542" class="wp-caption-text">This is My Own Business</figcaption></figure>
<h4>BISNIS SENDIRI</h4>
<p>Memiliki usaha sendiri dan mandiri menjadi cita-cita bagi sebagian besar masyarakat di era modern ini. Hal ini pula yang melatarbelakangi lahirnya <em>motivator,</em> <em>coaching</em>, dan hal lain berkaitan dengan bisnis.</p>
<p>Mulai dari yang benar-benar pakar hingga yang amatir. Celakanya, masyarakat yang ingin belajar bisnis berharap bisa sukses dengan cara instan. Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya memanfaatkan situasi.</p>
<p>Saya bukan pakar bisnis, namun beberapa kali memang mengikuti beberapa <em>mentoring</em> baik melalui <em>training</em> tatap muka maupun mentoring <em>online</em> (<em>messanger, webinar, group,</em> dll). Secara umum untuk memulai bisnis memang tidak sesederhana teorinya. Butuh komitmen, butuh mental, keberanian, ilmu, dan aksi nyata. Bukan hanya mengumpulkan materi dan teori tanpa <em>action</em> apapun. <em>Action</em> bukan selalu berkaitan dengan hal besar, action yang kecil sekalipun bisa sebagai wujud dari komitmen kita untuk memulai bisnis. Sesuatu yang besar diawali dari yang kecil.</p>
<p>Dalam postingan ini hingga beberapa waktu ke depan saya akan menyarikan beberapa teori yang sudah dipraktekkan. Namun, bisa saja teori atau materi yang saya sampaikan ini bertolak belakang dengan materi di kampus maupun teori dari mentor atau trainer yang lain.</p>
<p>Ya, buat saya ilmu bisa datang dari mana saja, dari siapa saja, yang penting baik dan memberi manfaat. <em>Training</em> atau <em>mentoring</em> apapun adalah proses mencari ilmu, yaitu investasi yang akan terus bisa bermanfaat bagi kita maupun orang lain.</p>
<p>Kita perlu menggarisbawahi, bahwa keberhasilan bisnis satu sama lain tidak akan pernah sama, produk samapun yang kita jual tidak akan sama sales yang dihasilkan. Bahkan sikembar identik saja tidak sama. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam membangun bisnis.</p>
<p><strong>POLA BISNIS</strong></p>
<p>Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita kerjakan selalu memiliki prosedur. Dalam hal ini saya menyebutnya terjadi sebuah POLA, atau pola bisnis. Sebagian besar orang merasa bingung saat akan memulai bisnis. Bingung harus darimana memulai bisnis, karena tidak punya modal, tidak punya ide, dan lain-lain. Nah, ide paling gampang adalah mengamati sekitar kita. Setelah mengamati, baru gunakan istilah keren, yaitu &#8216;CONTEK&#8217;. Lha .. nyontek kan gak baik. Yups, jangan gunakan istilah itu, tapi gunakan istilah lain sinonimnya, jangan contek begitu saja, tapi Amati, Tiru, Modifikasi (ATM). Ide akan muncul dari pola tersebut. Apakah segampang itu, tentu saja tidak. Masih banyak hal yang harus disiapkan.</p>
<p>Saya mengajarkan yang nggak baik dong. Hmmm &#8230; coba sekarang bayangkan, adakah saat ini kita jumpai sesuatu yang benar-benar orisinil alias <em>genuine</em>. Otak kita sudah &#8216;terkontaminasi&#8217; berbagai informasi yang memberi referensi secara tidak langsung. Apapun yang kita lakukan baik sadar maupun tidak sebenarnya sudah bukan benar-benar orisinil. Tetapi dari referensi yang kita baca, kita lihat, kita dengar, dan ketahui. Sekarang sekelas Instagram dengan fitur SnapGram. Apakah fitur itu original. Beberapa pengamat mengatakan fitur itu sejatinya &#8216;terinspirasi&#8217; dari Snapchat.</p>
<p>Terkait pola yang saya jelaskan di atas, sejati berlaku untuk hal apapun. Misal orang sukses pasti punya pola atau sebab dia menjadi sukses. Begitu juga sebaliknya orang gagal juga punya pola dan juga ada sebabnya.</p>
<p><strong>PENDEKATAN BISNIS</strong></p>
<p>Sudah sedikit saya singgung tentang pola bisnis, selanjutnya ada pendekatan bisnis. Ini yang mungkin harus di <em>highlight. </em>Bagi saya bisnis bukan semata mencari uang dan menumpuk harta. Lebih dari itu bisnis harus bisa memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain dan bisa menjadi bekal kita masuk surga. Wih.. jerune. Yuups, karena itulah dalam bisnis tetap harus ada pendekatan spiritual. Kalau bisnis ada polanya, masuk SYURGA dan NERAKApun ada polanya. Motivasi untuk menjadi istimewa dibanding orang lain adalah motivasi terbesar bagi seseorang untuk sukses.</p>
<p>Okay sampai di sini dulu ya. Tunggu kelanjutannya, pantengin terus buat yang mau belajar bisnis bareng-bareng.</p>
<p>InsyaAlloh semoga bisa manfaat dan berkah.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/">Bisnis Sendiri, Your Own Business</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>4 Hari 3 Malam &#8230;</title>
		<link>https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 05:43:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[klcc]]></category>
		<category><![CDATA[klia]]></category>
		<category><![CDATA[lcct]]></category>
		<category><![CDATA[lrt]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[mrt]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[singapore]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[trip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=1524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sore nanti (01/12) Timnas Garuda dan Macan Asia kembali saling bertarung, antara saudara tua dan saudara muda tiri. Perseteruan antara Indonesia Malaysia sebagai bangsa serumpun acap kali terjadi dari berbagai aspek. Ntah apa yang melatar belakangi keduanya. Sejarah telah mencatatkan keduanya memang seteru abadi. Terlepas dari berbagai problema tersebut keduanya memiliki keunikan masing-masing. Pada tulisan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/">4 Hari 3 Malam &#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sore nanti (01/12) Timnas Garuda dan Macan Asia kembali saling bertarung, antara saudara tua dan saudara muda tiri. Perseteruan antara Indonesia Malaysia sebagai bangsa serumpun acap kali terjadi dari berbagai aspek. Ntah apa yang melatar belakangi keduanya. Sejarah telah mencatatkan keduanya memang seteru abadi. Terlepas dari berbagai problema tersebut keduanya memiliki keunikan masing-masing.</p>
<p>Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas seluk beluk kedua negara. Namun saya hanya ingin berbagi kepada pembaca sekalian tentang pengalaman perjalanan saya selama 4 hari 2 malam. Bukan bermaksud sombong atau apapun. Lawong berangkat aja <em>&#8216;ngere&#8217;</em> <em>(baca:dana terbatas)</em>. Buat saya perjalanan seperti ini bukanlah untuk berfoya-foya menghabiskan duwit, yang terpenting adalah apa yang kita dapat dalam setiap perjalanan kita. Supaya kita <em>&#8216;melek</em>&#8216; melihat dunia luar.</p>
<p>Jujur saja saya merasa prihatin, kenapa biaya bepergian ke luar negeri lebih murah dibandingkan kalau saya ingin bertamasya di negeri sendiri. Mungkin kendala inilah yang membuat kita kurang cinta tanah air. Suatu saat saya bermimpi bisa mengelilingi dunia, namun alangkah memprihatinkan jika sudah mengelilingi dunia tapi negeri sendiri tidak sempat semuanya disinggahi. Semoga mimpi saya jadi kenyataan, bisa ke Raja Ampat, Krakatau, Bunaken, Way Kambas, dan lain-lain. Soal keindahan alam negara kita tidak ada duanya.</p>
<p>######</p>
<p>Tanpa diduga dan dinyana, tanpa direncanakan waktu itu, lupa tepatnya, kalau gak salah sama  seperti sekarang di akhir tahun iseng-iseng surfing ada info tiket murah dari AsiaAir. GPL (Gak Pakai Lama) pesen deh 9 tiket. Bagi saya yang udik ini perjalanan ke luar negeri tentu menjadi sesuatu yang luar biasa (walaupun cuman nyeberang ke tetangga sebelah), karena perjalanan terjauh saya cuman di Sulawesi. Singkat cerita dengan berbagai lika liku pengurusan paspor hingga tiba saat keberangkatan. TUjuan kami adalah Malaysia dan Singapore.</p>
<p>Saking bersemangatnya dalam penantian hampir 1 tahun, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Pesawat dijadwalkan berangkat sekitar pukul 5.40 WIB. Jam 3.40 sudah sampai bandara (pagi beut), ya iyalah biar gak ketinggalan. Seperti biasa sebelum masuk pesawat harus check in ke bagian imigrasi. Nah setelah itu discanning, disini jangan bawa barang aneh-aneh, wong botol aqua kosong aja suruh ngeluarin (trik AirAsia biar dagangannya laku di pesawat). Lewat sudah check in imigrasi dan scanning. Langsung masuk pesawat. Sesuai jadwal tiba sekitar pukul 9.30 waktu setempat (selisih satu jam dengan Indonesia).</p>
<figure id="attachment_1526" aria-describedby="caption-attachment-1526" style="width: 141px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT.jpg"><img loading="lazy" class=" wp-image-1526" title="Suasana di dalam LRT" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT-204x300.jpg" alt="Suasana di dalam LRT" width="141" height="208" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT-204x300.jpg 204w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT.jpg 307w" sizes="(max-width: 141px) 100vw, 141px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1526" class="wp-caption-text">Suasana di dalam LRT</figcaption></figure>
<p>Setiba di bandara<em> Low Cost Carrier Terminal</em> (<em>LCCT</em>) mulai deh mata jelalatan lirik sana sini. Kesan pertama, bandaranya kayak terminal Bungurasih. Ya iyalah ini kan untuk penerbangan murah. Beda kalau kita naik Garuda pasti turun di <span class="st"><em>Kuala Lumpur International Airport</em> (<em>KLIA</em>). Beruntung istri saya punya saudrara angkat orang Malaysia, setelah menunggu beberapa saat mulailah Guide kami datang (Thanks to Aman). Orang udik mulailah perjalanan. Stasiun pertama yang kita kunjungi adalah Salak Tinggi. Satu persatu mulai belajar bagaimana membeli tiket, dan menggunakannya. Jam tiba Kereta tidak lama, langsunglah kita naik. Tidak ada yang beda dengan Komuter Surabaya Sidoarjo, hanya sedikit kok bedanya, yaitu bersih, berAC, gak ada orang merokok, nyaman, aman, dan cepat meeeenn. (^_^). Naik kereta <em>Light Rail Transit</em> (LRT) serasa naik mobil mewah. Lihat tuh bapak-bapaknya sampe &#8216;ngorok&#8217;.</span></p>
<p><span class="st">Hari pertama beberapa tempat yang kita kunjungi antara lain <em>Kuala Lumpur City Centre</em> <em>(KLCC)</em>. kayaknya semua orang yang ke Malaysia belum afdlol kalau belum foto dengan background <em>Twin Tower Petronas</em>. Ya bergaya layaknya orang udik, foto-foto dah disana sambil cari makan. Beruntung dah ada makanan Indonesia, rada rewel soalnya perut. Setelah foto-foto perjalanan berlanjut ke beberapa tempat.</span></p>
<p><span class="st">Setelah ibu-ibu puas berbelanja di Petaling Street, tibalah waktunya untuk bertolak ke Singapura. Awalnya berencana naik kereta, tetapi sudah fullbooked. Diputuskan naik bus. Tepat pukul 11.00 waktu setempat kami berangkat ke Singapura, ritual rutinpun dilakukan, check out di imigrasi Malaysia. Di sini tidak ada masalah, namun pas mau masuk SIngapura, barulah masalah timbul saat check in di imigrasi. Pemeriksaan amat ketat, kebetulan rombongan kami ada tiga pria termasuk saya, karena wajah kami seperti teroris barang kali sehingga harus dikandangkan sementara untuk di interogasi. Weeekssss &#8230; serasa jadi pesakitan neh, lumayan lama ditanya beberapa hal, saking lamanya nyaris kami ditinggal bus yang kami tumpangi. Setelah semua beres, perjalananpun berlanjut.</span></p>
<p><span class="st">Sekitar pukul 5.30 pagi tiba di Singapura. Karena masih teramat pagi, transportasi belum buka. Terpaksa deh kami menunggu di sebuah taman. Di dekat Nicole Highway. Cerita kembali berlanjut. Tujuan pertama kali tentunya ke tempat peristirahatan, karena modal dengkul dan uang receh, kita menginap di <em>City Backpacker Hostel</em> di daerah <em>Clarke Quay.</em></span></p>
<p><span class="st"> Perjalanan kami pada dasarnya sama saja ketempat-tempat yang kebanyakan orang kunjungi, bahkan menurut saya masih banyak tempat yang tidak sempat disingahi. Diantara tempat yang kami kunjungi Sentosa Island, Marina Bay, Merlion, Bayfront, ChinaTown, Orchard Road, Universal Studio (walaupun gak masuk, eman duwite) <em>next time</em> deh. Setelah semua puas belanja hingga kaki gempor. Waktunya balek ke Malaysia. Kami naik bis lewat <em>Bugis Street</em> turun di Johor Baru dan menginap semalam sebelum akhirnya kembali ke Kuala Lumpur dan bertolak ke Surabaya.</span></p>
<p><span class="st">######</span></p>
<p><strong><span class="st">Beberapa catatan penting terkait perjalanan</span></strong></p>
<ol>
<li><span class="st">Bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa membaca petunjuk, saat disana biasakanlah.</span></li>
<li><span class="st">Belajarlah bahasa Inggris, biarpun little little <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></span></li>
<li><span class="st">Jangan malu bertanya</span></li>
<li><span class="st">Bawa Peta, GPS dan alat/buku penunjuk arah lainnya.</span></li>
</ol>
<p><strong> Pandangan saya setelah berkunjung di dua negara tersebut</strong><br />
Meskipun kedua negara tersebut usianya relatif lebih muda dibanding Indonesia, kemajuannya sudah jauh melewati Indonesia. Terutama terkait infrastruktur (baik trasnportasi, bangunan, taman, dll), perilaku manusianya, aturan, dan budaya.  Banyak orang bilang kemajuan mereka karena populasi penduduknya lebih sedikit sehingga mudah di tata. Menurut saya itu bukanlah alasan, yang terpenting adalah kebijakan/aturan/regulasi, pendidikan, dan perbaikan moral adalah modal dasar untuk menata bangsa Indonesia lebih baik. Hal-hal kecil di kedua negara tersebut menjadi bagian penting. Pelanggaran terhadap sebuah aturan berakibat fatal dan harus berurusan dengan hukum, sehingga masyarakatnya mau tidak mau harus patuh dan tunduk terhadap hukum berlaku. Bayangkan jika di Indonesia yang menganut azaz bahwa aturan dibuat untuk dilanggar.</p>
<p>Jika kita mengagung-agungkan budaya ketimuran kita yang ramah dan punya empati yang tinggi, di kedua negara tersebutpun tidak kalah. Bahkan menurut saya di Indonesia ramah dan empati sudah mulai terdegradasi. Orang-orangnya saat ini cenderung egois. Inilah yang mengakibatkan kesenjangan sosial yang cukup jauh dan berdampak pada tingkat perkonomian negara.</p>
<p>Beberapa hal yang perlu saya garis bawahi. Infrastruktur jalan di kedua negara tersebut nyaris sempurna. Saya heran apakah pekerja pembuat jalan di Indonesia tidak bisa membuat jalan seperti di sana, halus, rata, tidak bergelombang, apalagi sampai lobang-lobang.</p>
<p>Kemudian soal perilaku, jangankan merokok, membuang sampah, meludah, makan, semua ada aturannya dan tempatnya masing-masing. Apa kita tidak bisa melakukan hal-hal tersebut, ironis. Berikutnya adalah transportasi. Meskipun di Malaysia tidak serapi di Singapore tetap saja sistem transportasi mereka jauh lebih baik dari kita. Semua sudah terintegrasi dan serba otomatis, dari sini efisiensi dan produktivitas tentu akan meningkat, dan ujung-ujungnya berdampak pada tingkat ekonomi negara tersebut. Apakah kita juga tidak bisa?</p>
<p>Oalah oalah &#8230; ternyata oh ternyata perjalanan yang hanya empat hari ini ternyata kian menyesakkan buat saya. Miris melihat kondisi negara kita yang selalu berkutat dengan urusan politik dan perut petinggi-petinggi tidak bertanggung jawab yang selalu menyalahgunakan amanah rakyat. Kapan mimpi saya bisa menjadi tamu di rumah sendiri bisa terlaksana. Kapan masyarakat ini bisa menikmati pajak yang mereka bayar. Dan kapan petinggi-petinggi negeri ini insyaf serta benar-benar memikirkan kepentingan rakyatnya. Apakah menunggu hingga kita benar-benar tertinggal semakin jauh, malu dong &#8230;. Tiru tuh slogan Yamaha &#8230;</p>
<p>Saatnya kita bergandeng tangan, benahi <strong>PENDIDIKAN</strong> kita, benahi <strong>MORAL</strong> kita. Jangan sampai kejayaan masa lalu hanya menjadi sebuah cerita. <strong>SEMOGA&#8230;</strong></p>
<p><strong>Beberapa galeri foto selama perjalanan</strong><br />
<em>Semua gambar diambil menggunakan kamera Handphone Sony Ericsson Xperia Arc S (Klik untuk melihat gambar lebih besar)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p> [<a href="https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/">See image gallery at www.denbagus.com</a>] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/">4 Hari 3 Malam &#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia</title>
		<link>https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2012 02:17:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[happy]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=1474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak sengaja waktu surfing saya menemukan tulisan terkait tingkat kebahagian suatu negara. Yang menggelitik saya untuk menulis dan beropini adalah masukknya Indonesia di peringkat 14 sebagai negara paling bahagia dari 151 negara yang di survey. Di saat carut marutnya kondisi negara, korupsi yang makin merajalela, hilangnya jati diri, dan krisis identitas, ternyata sebagian besar masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/">Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak sengaja waktu <em>surfing</em> saya menemukan tulisan terkait tingkat kebahagian suatu negara. Yang menggelitik saya untuk menulis dan beropini adalah masukknya Indonesia di peringkat 14 sebagai negara paling bahagia dari 151 negara yang di survey. Di saat carut marutnya kondisi negara, korupsi yang makin merajalela, hilangnya jati diri, dan krisis identitas, ternyata sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa bahagia. Artinya tingkat kebahagian tidak ada kaitannya sama sekali dengan bagaimana kondisi atau keadaan suatu negara tersebut. Kebahagiaan mutlak dirasakan oleh individu masing-masing.</p>
<p>Menurut data hasil riset <em><a href="http://www.happyplanetindex.org/data/#map-view">HAPPY PLANET INDEX</a> (HPI)</em>, ternyata negara yang tingkat kebahagiaannya tinggi di dominasi oleh negara berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan, perekonomian yang baik tidak selamanya menjadi patokan untuk melihat tingkat kebahagiaan seseorang atau bahkan negara. Jika kita menoleh kebelakang, tidak salah jika Indonesia masuk 14 negara paling bahagia, terlepas dari kondisi negara seperti sekarang ini, masyarakat Indonesia sebagaian besar masih menganut prinsip &#8220;Mangan gak mangan sing penting kumpul&#8221; (makan maupun tidak yang penting kumpul keluarga). Jelas sekali bahwa prinsip sederhana ini seringkali menjadi landasan kuat atas kebahagiaan sebuah keluarga.</p>
<figure id="attachment_1480" aria-describedby="caption-attachment-1480" style="width: 217px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-1480" title="Fernando Torres n Family" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family-217x300.jpg" alt="Fernando Torres n Family" width="217" height="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family-217x300.jpg 217w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family-362x500.jpg 362w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family.jpg 532w" sizes="(max-width: 217px) 100vw, 217px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1480" class="wp-caption-text">Fernando Torres n Family</figcaption></figure>
<p>Menurut Nic Marks sang pencipta HPI, mengukur tingkat kebahagiaan dan harapan hidup sangatlah penting, karena hidup yang panjang dan berkualitas ditentukan oleh tingkat kebahagiaan sehingga memiliki harapan hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Penelitian semacam ini sangatlah penting, agar terjadi keseimbangan dalam melihat tingkat kemajuan suatu negara yang biasanya hanya berfokur pada kemajuan ekonominya saja. Banyak kasus negara maju yang justru masyarakatnya malah merasa menderita, sehingga tidak bisa menikmati hidup mereka secara wajar.</p>
<p>Materi bukanlah segalanya, Bahagia tidaknya seseorang pasti tidak sama satu sama lain, apalagi standart kebahagiaan untuk tiap penduduk di tiap negara. Ukuran kebahagian itu memang sangatlah relatif tergantung dari mana kita melihat dan siapa yang menjalaninya. Sebagian besar kita pasti setuju bahwa tingkat kebahagian lebih banyak dipengaruhi dua hal , yaitu berkaitan dengan materi dan keduniawian. Materi tentunya adalah kekayaan dalam hal ini bisa berupa macam-macam. Sedangkan berkaitan dengan keduniawian bisa berupa istri banyak <em>(TEETTTTTTT SENSOR)</em>, anak banyak, teman banyak, dll. Bahkan di dalam Al-Quran juga sudah dijelaskan kebahagiaan itu dibagi menjadi tiga tingkatan. <strong>Pertama</strong> adalah kebahagian karena memiliki wanita-wanita. <strong>Kedua</strong> adalah karena memiliki anak-anak yang banyak, serta <strong>ketiga, </strong>bahagia karena memiliki  harta benda. Lalu kenapa masyarakat Indonesia sebagian besar merasa bahagia, ya iyalah, jumlah wanita banyak, dari sabang sampai merauke, dan bermacam-macam etnis. Ayo tinggal pilih tinggal pilih &#8230;.  mau yang mana. Mencari jodoh di Indonesia terasa mudah, kalaupun ada  yang masih jomblo hingga tuwir, tentu itu<em> &#8220;DERITA LOE&#8221;</em>.</p>
<p>Beda dengan negara-negara seperti Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya. Perkawinan seolah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan, berumah tangga seolah menjadi awal kehancuran. Wanita di sana cenderung lebih suka aktif dalam kegiatan mengumpulkan harta kekayaan, mengembangkan karir, dan meraih jabatan semaksimal mungkin. Begitu pula dalam soal memiliki anak-anak, banyak wanita di negara maju  menolak memilki anak meski mereka telah bersuami dan hidup normal berumah tangga.</p>
<p>Melihat kondisi di atas sudah jelas sekali  kebahagiaan memang ada dua, kebahagiaan hakiki dan kebahagian semu. Kebahagiaan hakiki adalah menjalani kodrat sebagai insan manusia sesungguhnya, yaitu berkeluarga, memiliki keturunan, dan harta yang cukup. Sedangkan sebagian orang mencoba mencari kebahagiaan semu, kebahagiaan  yang sesaat bisa mereka nikmati tetapi begitu cepat  sirna, yaitu kebahagiaan duniawi semata dan hanya mengejar materi. Disaat mereka sendiri dan orang-orang terdekat satu persatu meninggalkannya, barulah mereka sadar betapa penting kebersamaan, betapa penting kepedulian, betapa penting kehadiran sebuah keluarga, anak, istri, dan orang-orang yang kita cintai. Karena kebahagian hakiki tidak bisa dibeli dengan apapun. Jelas bukan kenapa orang Indonesia masih lebih bahagia dibanding negara maju sekalipun.</p>
<p>Lalu, ingin seperti apakah kita, bahagia seperti apa yang kita inginkan? Hidup tetaplah sebuah pilihan, mau kemana hidup ini akan kita bawa. Mau berkarir seumur hidup? mengejar kekayaan dan kenikmatan duniawi? Atau ingin kebahagiaan hakiki duna akhirat. Silahkan &#8230; jalan hidup ada ditangan Anda sendiri &#8230;. Semoga bisa menjadi wacana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li>http://www.happyplanetindex.org/data/#map-view</li>
<li>http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2012/10/04/4312/1/Indonesia-No-14-Kosta-Rika-No-1-Negara-Paling-Bahagia</li>
</ol>
<p><strong>Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.</strong></p>
<figure id="attachment_1479" aria-describedby="caption-attachment-1479" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI.png"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-1479" title="Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara." src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI-300x187.png" alt="Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara." width="300" height="187" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI-300x187.png 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI-500x313.png 500w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI.png 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1479" class="wp-caption-text">Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Kosta Rika (64.0)<br />
2. Vietnam (60,4)<br />
3. Kolombia (59.8)<br />
4. Belize (59,3)<br />
5. El Salvador (58.9)<br />
6. Jamaika (58,5)<br />
7. Panama (57,8)<br />
8. Nikaragua (57,1)<br />
9. Venezuela (56.9)<br />
9. Guatemala (56.9)<br />
11. Bangladesh (56,3)<br />
12. Kuba (56,2)<br />
13. Honduras (56,0)<br />
<strong><em>14. Indonesia (55,5)</em></strong><br />
15. Israel (55,2)<br />
16. Pakistan (54,1)<br />
16. Argentina (54,1)<br />
16. Albania (54,1)<br />
19. Cile (53,9)<br />
20. Thailand (53,5)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/">Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
