<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sukses Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/sukses/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/sukses/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 Oct 2022 02:16:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</title>
		<link>https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Aug 2017 03:05:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[personal branding]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[trust]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2583</guid>

					<description><![CDATA[<p>Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis Istilah branding sudah berhamburan di jagat maya. Sama halnya personal branding. Namun topik yang satu ini rasanya tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi di zaman seperti sekarang. Perilaku manusia sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Mereka lebih kritis, cepat, dan tidak bertele-tele. Setiap generasi ada kelebihan dan kekurangan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/">Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</h3>
<figure id="attachment_2590" aria-describedby="caption-attachment-2590" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU.jpg"><img class="size-medium wp-image-2590" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU-300x188.jpg" alt="Personal Branding For Business" width="300" height="188" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU-300x188.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU-768x480.jpg 768w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU.jpg 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2590" class="wp-caption-text">Personal Branding For Business</figcaption></figure>
<p>Istilah<em> branding</em> sudah berhamburan di jagat maya. Sama halnya <em>personal branding</em>. Namun topik yang satu ini rasanya tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi di zaman seperti sekarang. Perilaku manusia sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Mereka lebih kritis, cepat, dan tidak bertele-tele. Setiap generasi ada kelebihan dan kekurangan, namun jika kita hidup dalam beberapa generasi yang berbeda, mau tidak mau harus terus bisa beradaptasi.</p>
<p>Dalam setiap tulisan yang penulis buat sejatinya adalah pengalaman pribadi, baik setelah membaca buku, mencoba <em>device</em>, atau materi-materi lain yang penulis pelajari dari seminar dan workshop. Ada banyak topik yang penulis pelajari. Intinya, setelah beberapa waktu belajar, apapun, makin membuat ketagihan untuk mempelajari hal-hal baru.</p>
<p>Yuk, singkat saja. Materi <em>personal branding</em> seperti yang penulis singgung di atas sudah banyak dibahas. Tapi materi ini agak sedikit berbeda, penulis dapatkan saat mengikuti semacam seminar yang digelar Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA).</p>
<p>Selama belajar branding, baru pertama mendengar istilah <span class="_Tgc">Neuro-linguistic programming (NLP). Penulis tidak akan membahas panjang lebar soal NLP, karena keilmuan penulis tentang topik ini sangat minim. Biasanya NLP sangat terkait dengan motivasi diri, pakar motivasi akan lebih kompten di bidang ini. Secara singkat sih NLP mengkaji bagaimana kinerja otak bisa optimal, yang ujungnya bisa memotivasi untuk lebih bisa mengendalikan kinerja otak dan membawa keberhasilan seseorang. Begitulah kira-kira penjelasan singkat dari NLP. Lalu apa hubungannya dengan <em>personal branding (PB)</em>?<br />
</span></p>
<p>Sebelum membahas relevansi NLP dan Personal branding, penulis ingin merefresh tentang <em>branding</em> secara singkat.&nbsp; Agar <em>brand</em> kita kuat, kata kunci paling sederhana adalah unik, beda, dan lain-lain. Selanjutnya<em> brand</em> tersebut harus memiliki value, sedangkan value bisa positif maupun negatif, baik dan buruk. Tinggal bagaimana kita membangung <em>brand</em> tersebut.</p>
<p>Definisi umum PB bisa diartikan sebagai proses komunikasi yang memberi nilai tambah (individu, produk, atau perusahaan) dengan cara dan waktu yang cepat dan tepat kepada sebanyak-banyaknya orang.</p>
<p>Beberapa tips dan kiat yang bisa dilakukan dalam proses membentuk Personal branding yang kuat. Di antaranya dengan melakukan seminar, <em>workshop</em>, kelas. Dengan adanya media digital dan kemudahan <em>mobile device</em>. Memungkinkan siapapun melakukan kegiatan branding di berbagai <em>platform</em>. Misalkan worshop, seminar dan kelas. Saat ini dari jarak yang sangat jauhpun kita sudah bisa melakukan seminar, worshop, dan kelas. Bahkan statistik peserta, kita bisa pantau. Keuntungan lain dengan memanfaatkan media digital, komunikasi bisa langsung dua arah dan masih banyak keuntungan dan keunggulan jika kita tahu bagaimana mengoptimalkan media digital ini.</p>
<p>Proses PB memang tidak bisa dilakukan dalam sesaat, perlu tahapan, proses, dan evaluasi. Berikut ini tahapan yang bisa dilakukan dalam membangun PB yang efektif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>BELAJAR</strong></h4>
<p>Belajar sudah menjadi hal yang wajib dalam membangung mental dan kompeten seseorang. Khususnya sebelum melakukan PB. Sebaiknya belajarlah sesuatu yang memang diminati atau bahkan hobi. Karena mempelajari sesuatu yang kita senangi akan jauh lebih mudah daripada memaksakan sesuatu yang kita tidak suka. Lebih baik lagi jika kompetensi yang kita bangun sesuai dengan bisnis yang kita geluti. Perbanyak materi-materi yang bisa mendukung PB.</p>
<h4><strong>TAHU</strong></h4>
<p>Setelah belajar banyak, tahapan berikutnya kita menjadi tahu. Perlahan dan konsisten dari ilmu yang telah kita pelajari, mulailah berbagi pengalaman dan ilmu yang telah kita pahami dan aplikasikan. Semakin banyak kita bisa berbagi semakin banyak manfaat yang akan kita dapatkan. Baik untuk urusan dunia maupun akhirat. InsyaAllah ilmu yang manfaat akan memberi kebaikan juga kepada kita.</p>
<h4><strong>BISA</strong></h4>
<p>Nah tahapan selanjutnya adalah bisa. Ada pepatah bisa karena biasa. Yups, ada beberapa keilmuan yang memang kita bisa pelajari, namun ada juga ilmu yang memang butuh &#8216;bakat&#8217;. Secara umum ilmu apapun bisa dipelajari, jadi tidak ada kata tidak bisa. Selama ada niatan untuk belajar semua pasti bisa, yang diperlukan hanya membangun &#8216;habit&#8217;.</p>
<h4><strong>MENGHASILKAN</strong></h4>
<p>Finaly pada akhirnya, semua usaha pasti ada tujuannya. Tujuan atau <em>goal</em> bisa bermacam-maca. Material dan spiritual. Material sudah jelas, ujungnya bisa memberi manfaat buat kita yang ingin melakukan bisnis. Saat PB sudah kuat, asosiasi orang akan sangat kuat terhadap kita atau <em>brand</em> kita. Bisa dibilang pada sudah menjadi <em>Top of Mind. </em>Keuntungannya, kita akan mudah melakukan aktivitas apapun jika sudah dikenal. Secara spiritual, tentu saja kita bisa memberi manfaat untuk banyak orang, pastinya semakin diri kita bermanfaat semakin tinggi nilai kita. Dan semoga bisa memberi kredit poin juga di mata Allah.</p>
<p>Ada pantangan-pantangan yang kadang bisa merusak PB kita. Tapi kita sering abai. HUTANG! Kenapa dengan hutang? Penulis tidak pernah merekomendasikan pembaca untuk berHUTANG. Hutang bisa merusak PB kita, khususnya jika hutang ke mitra, teman, atau kerabat dekat kita. Saat sekali tercederai gara-gara hutang, rusaklah citra PB kita yang sudah dibangun dengan susah payah. Sekali lagi, berusahalah sangat keras untuk tidak HUTANG. Kalaupun terpaksa cari mitra untuk tambah modal usaha, atau pinjaman yang berbasis syariah. Say No to RIBA.</p>
<p>Jadilah pribadi yang dipercaya dengan selalu menanamkan <em>value</em> yang positif kepada orang lain. Lebih baik tawarkan investasi bersama yang lebih menjanjikan daripada pinjam atau hutang, beri manfaat lebih, membangun <em>value</em>, bukan semata membicarakan <em>money</em>.</p>
<h4>&nbsp;</h4>
<h4>MENGAPA HARUS ADA PERSONAL BRANDING</h4>
<h5>NETWORKING</h5>
<p>PB memiliki alasan selain sudah dijelaskan singkat sebelumnya. Salah satunya adalah membangun <em>networking. </em>Bisnis yang baik adalah yang mampu mengoptimalkan <em>resource</em> secara kolektif. Semakin banyak mitra atau networking yang kita miliki akan memudahkan kita dalam melakukan penetrasi bisnis.</p>
<h5><strong>BIG DATA</strong></h5>
<p>Kita sudah tidak bisa memungkiri, data saat ini membawa peran sangat penting. Melalui data semua bisa terukur dan efektif. Grab data sebanyak-banyaknya yang mendukung dalam rangka membangun <em>networking.<br />
</em></p>
<h5><strong>TRUST</strong></h5>
<p>Sudah disinggung juga sebelumnya. Saat PB sudah baik, akan terbentuk TRUST. Saat orang sudah sangat percaya dengan kita, dan mengetahui kemampuan kita. Biasanya orang akan dengan sukarela menyerahkan uang untuk diinvestasikan atau dikelola. Nah di sinilah biasanya yang sering dijadikan bahan dalam bisnis. Kita tahu ada banyak buku atau bahkan seminar yang mengklaim membangung bisnis tanpa modal. Tentu saja bisa, jika kita memiliki PB yang kuat. Keuntungan lain saat PB sudah bagus, memudahkan dalam negosiasi, baik dalam bisnis atau negosiasi lainnya, karena sudah dipercaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>APA YANG HARUS DILAKUKAN</h4>
<p>Secara umum dalam bisnis sudah jamak istilah SWOT sebelum memetakkan strategi bisnis yang tepat. Namun belakangan istilah tersebut dibalik menjadi TOWS. Setelah TOWS ditentukan, mulailah rancang strategi, dengan alasan-alasan diatas bangun <em>networking y</em>ang kuat. Rekrut jadi <em>partner</em>, ntah mitra tetap atau lepas, tergantung kebutuhan. Yang pasti jangan kerja sendiri, berbagilah rezeki. Kerja sendiri bisa, tetapi lebih baik kerja tim. Kita menyadari tidak ada manusia yang sempurna, dalam bisnispun sama, pasti ada kekurangan dan kelemahan yang hanya bisa dilengkapi atau ditutupi oleh <em>partner</em>/mitra kita.</p>
<p>Contoh, kita bisnis<em> fashion. </em>Kita tidak mungkin melakukan sendiri semuanya, meskipun bisa. Perlu ada penjahit, potong, finishing, hingga distribusi. Jika bisnis properti, cari orang yang bisa arsitek, sipil, hukum, dan lain-lain. Untuk tahap awal sebaiknya kemitraan secara bagi hasil atau perjanjian lain yang saling mengunguntungkan. Selama projek yang ditawarkan feasible pasti akan didukung, apalagi kalau PB kita sudah bagus.</p>
<p>Langkah selanjutnya adalah membuat <em>marketing tool,</em> nah ini serahkan kepada ahlinya, tentu dengan didampingi atau disupervisi, agar alat perang kita tepat tidak salah memilih senjata. Berikutnya mulailah bangun bisnis kita. Implementasi semua strategi yang sudah disusun, bisa menggunakan media mainstream maupun yang digital. Tahap akhir evaluasi secara terus menerus hingga mendapatkan hasil sesuai harapan.</p>
<p>Terakhir hubungan NLP dengan PB apa? Iya membangung mindset yang kuat dalam PB dan bisnis perlu latihan dan pemahaman yang tepat. Karena tahapan pengenalan pada diri sendiri dibutuhkan motivasi dan komitmen. Sehingga ada baiknya untuk lebih mengenal diri sendiri belajarlah NLP agar kinerja otak dalam menstimuli diri lebih kuat dalam berbagai tujuan hidup.</p>
<p>Nah, itu saja yang bisa penulis bagi dari seminar yang saya ikuti, semoga manfaat dan memberi wawasan baru bagi pembaca. Sukses selalu dan semoga keberkahan menyertai kita semua.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/">Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sukses Bukan Sekedar Deretan Angka</title>
		<link>https://www.denbagus.com/sukses-bukan-sekedar-deretan-angka/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/sukses-bukan-sekedar-deretan-angka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Mar 2017 04:11:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[hard skill]]></category>
		<category><![CDATA[Institut Berkualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[ipk]]></category>
		<category><![CDATA[soft skill]]></category>
		<category><![CDATA[stikom surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Unggul dan terkenal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2530</guid>

					<description><![CDATA[<p>SUKSES Secara umum orang pasti ingin hidupnya sukses. Definisi sukses menjadi sangat kompleks tatkala dilihat dari kacamata pendidikan. Mindset sebagian besar orang memandang keberhasilan dalam pendidikan ditentukan oleh prestasi akademiknya. Angka-angka di atas kertas seolah menjadi barometer ukur keberhasilan seorang anak didik dan itu diamini oleh orang tua pada umumnya. Pola pikir yang selalu memandang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/sukses-bukan-sekedar-deretan-angka/">Sukses Bukan Sekedar Deretan Angka</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>SUKSES</h4>
<figure id="attachment_2532" aria-describedby="caption-attachment-2532" style="width: 650px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/sukses_kecil.jpeg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-2532" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/sukses_kecil.jpeg" alt="Success" width="650" height="461" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/sukses_kecil.jpeg 650w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/sukses_kecil-300x213.jpeg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/sukses_kecil-140x100.jpeg 140w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2532" class="wp-caption-text">Success</figcaption></figure>
<p>Secara umum orang pasti ingin hidupnya sukses. Definisi sukses menjadi sangat kompleks tatkala dilihat dari kacamata pendidikan. <em>Mindset </em>sebagian besar orang memandang keberhasilan dalam pendidikan ditentukan oleh prestasi akademiknya. Angka-angka di atas kertas seolah menjadi barometer ukur keberhasilan seorang anak didik dan itu diamini oleh orang tua pada umumnya.</p>
<p>Pola pikir yang selalu memandang bahwa deret angka menjadi tujuan utama sekolah atau kuliah membuat anak akan berlomba mengejarnya. Semua lupa, bahwa ada tujuan lebih mulia dalam sebuah pendidikan. Pendidikan harus mampu melahirkan ‘nilai’, bukan nilai biasa, tetapi nilai yang memiliki makna holistik.</p>
<h4>PARADIGMA</h4>
<p>Paradigma yang super<em> mainstream</em> di atas harus mulai dieliminasi, yaitu pola pikir masyarakat yang memandang pendidikan hanya dari prestasi akademik. Hal ini agar kita tidak terjebak dalam pusaran tak berkesudahan. Pendidikan harus mampu menciptakan generasi yang tangguh, unggul, dan terkenal. Tangguh secara mental, spiritual, dan mampu berkompetisi dalam medan apapun. Lalu apakah prestasi akademik tidak penting, tetap penting. Namun alangkah lebih baiknya jika prestasi akademik <em>(hard skill)</em> ditunjang oleh <em>soft skill</em> yang juga oke.</p>
<h4>DUNIA KERJA</h4>
<p>Kenyataan dunia kerja jauh lebih rumit dari sekedar angka-angka dalam secarik kertas. Di sinilah uji nyali yang sebenarnya. Lulusan akan mulai merasakan kompetisi yang sesungguhnya. Mereka sudah tidak lagi ditanya nilai dalam deret angka. Tetapi mereka akan dinilai performa melalui kinerja. Nah kinerja inilah yang akan menentukan seberapa tangguh seseorang akan mampu melalui berbagai macam ujian di dunia kerja.</p>
<h4>HARD SKILL, SOFT SKILL</h4>
<p>Dalam beberapa studi yang telah dilakukan, salah satunya oleh Dediknas menjelaskan bahwa 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh <em>soft skill. </em>Harvard University pada 2009 juga melansir data yang hampir nyaris sama, yaitu 85% keberhasilan seseorang juga ditentukan oleh <em>soft skill.</em> Sisanya adalah <em>hard skill.</em></p>
<p>Sebuah survei dilakukan oleh <em>Survei National Association of College and Employee (NACE)</em> di Amerika Serikat pada 2002 memberi fakta baru. Dari 20 kriteria penting seorang juara, indikator &#8220;IPK tinggi&#8221; hanya menempati urutan ke-17. dan indikator terpenting dari seorang juara tidak lain adalah kemampuan komunikasi, kerjasama, integritas, dan etika.</p>
<p>Lalu langkah apa yang harus ditempuh oleh seorang mahasiswa agar memiliki keseimbangan dalam hal keahlian. Dalam beberapa model pendidikan, porsi <em>hard skill</em> memang lebih tinggi dibanding <em>soft skill</em>. Lalu bagaimana solusinya agar anak mampu mengasah <em>soft skill</em> jika porsi <em>hard skill</em> lebih besar.</p>
<p>Kondisi ini akan dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama adalah kemauan anak (motivasi). Untuk membangun motivasi anak, institusi pendidikan harus mampu membangun motivasi, spirit, dan menjadikannya habit.</p>
<p>Melalui motivasi yang tepat akan membangun habit yang positif pada anak didik. Mereka akan terbiasa melihat segala sesuatu yang berpotensi membantu mereka untuk mengasah dan meningkatkan <em>soft skill</em>. Tentu hal ini harus dilakukan secara terus menerus, agar menjadi habit bahkan budaya.</p>
<h4><a href="http://www.stikom.edu">INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA STIKOM SURABAYA</a></h4>
<p><a href="http://www.stikom.edu">Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya</a> atau lebih akrab disebut <a href="http://www.stikom.edu">Stikom Surabaya</a>, merupakan salah satu perguruan tinggi yang menerapkan kegiatan-kegiatan guna mengasah <em>soft skill </em>mahasiswa.</p>
<p>Membangun mental dan habit mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan tidaklah mudah. Cara paling jitu adalah menggali potensi minat dari mahasiswa sendiri. Kegiatan apa saja yang mampu membangkitkan <em>passion</em> di kalangan mahasiswa. Selama kegiatan itu positif tentu akan memberi dampak positif pula.</p>
<p>Dalam kaitannya membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan terkenal. Di <a href="http://www.stikom.edu">Stikom Surabaya</a> ada beberapa kegiatan yang mampu mengasah <em>soft skill</em> mahasiwa. Diantaranya, melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Unit Kegiatan Kerohanian (UKK), dan Komunitas.</p>
<p>Contoh, mahasiswa yang hobi musik bisa menyalurkan hobinya melalui UKM Musik. Tercatat ada beberapa UKM di <a href="http://www.stikom.edu">Stikom Surabaya</a>, diantaranya UKM Tari, UKM Basket, UKM Futsal, dan lain-lain. Selain UKM ada juga Organisasi Mahasiswa (Ormawa), yaitu Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Mahasiswa (DEMA).</p>
<p>Malalui organisasi-organisasi ‘kecil’ tersebut diharapkan mahasiswa mampu mengasah <em>soft skill</em> nya. Saat lulus mereka sudah tidak gagap lagi dengan dunia kerja. Mereka sudah siap menjadi SDM yang berkualitas, unggul, dan terkenal.</p>
<p>Mau menjadi orang yang sukses? Gampang, join with us. <a href="http://www.stikom.edu">Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya</a>. <em>Heart &amp; Mind Towards Excellence.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/sukses-bukan-sekedar-deretan-angka/">Sukses Bukan Sekedar Deretan Angka</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/sukses-bukan-sekedar-deretan-angka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teori Periklanan &#8211; Segmentation dalam Pemasaran</title>
		<link>https://www.denbagus.com/teori-periklanan-segmentation-targeting-positioning-dalam-pemasaran/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/teori-periklanan-segmentation-targeting-positioning-dalam-pemasaran/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 06:31:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[audience]]></category>
		<category><![CDATA[dkv]]></category>
		<category><![CDATA[market]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pemasaran]]></category>
		<category><![CDATA[periklanan]]></category>
		<category><![CDATA[positioning]]></category>
		<category><![CDATA[segmentasi]]></category>
		<category><![CDATA[segmentation]]></category>
		<category><![CDATA[stp]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[targeting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=461</guid>

					<description><![CDATA[<p>Segmentation, Targeting, dan Positioning memang sering kali kita temukan dalam berbagai hal, atau biasa lebih dikenal dengan STP . Di sini saya sedikit sharing dari apa yang telah saya ketahui. STP sebagai dasar dalam menargetkan pasar yang kita bidik (Market Targeting). Lebih ditekankan pada segmentation dan targeting. Sedangkan positioning sudah pernah dibahas sebelumnya. Mengutip sebagaian [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/teori-periklanan-segmentation-targeting-positioning-dalam-pemasaran/">Teori Periklanan &#8211; Segmentation dalam Pemasaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Segmentation,</em> <em>Targeting,</em> dan <em>Positioning</em> memang sering kali kita temukan dalam berbagai hal, atau biasa lebih dikenal dengan STP . Di sini saya sedikit sharing dari apa yang telah saya ketahui. <span id="more-461"></span>STP sebagai dasar dalam menargetkan pasar yang kita bidik <em>(Market Targeting)</em>. Lebih ditekankan pada <em>segmentation</em> dan <em>targeting</em>. Sedangkan <em>positioning</em> sudah pernah dibahas sebelumnya.</p>
<p>Mengutip sebagaian dari sang pakar Ogilvy pernah mengatakan, &#8220;Ide dasar dalam segmentasi pelanggan adalah komunikasi akan berjalan efektif jika ditargetkan dengan benar.&#8221; Artinya, sukses tidaknya produk di pasar ditentukan oleh targeting yang tepat serta melalui komunikasi tepat dan efektif pula. Mari kita coba kuliti satu persatu apa saja parameter dalam menentukan target pemasaran.</p>
<p><strong>Target Audience</strong><br />
Adalah sekumpulan individu sebagai potensi yang akan kita jadikan target penjualan.</p>
<p>Cara-cara dalam menidentifikasi <em>Target Audience</em></p>
<ol>
<li><strong>Segmentasi Geografis</strong><br />
Pembagian berdasarkan wilayah: Kota, Negara, Propinsi, Desa, dll.</li>
<li><strong>Segmentasi Demografis</strong><br />
Dibagi menjadi beberapa kelompok variabel demografis, diantaranya adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, strata sosial, dll.</li>
<li><strong>Segmentasi Psikografis</strong><br />
Lebih dikaitkan dengan gaya hidup <em>(Life Style)</em>.</li>
</ol>
<p>Dalam menentukan target haruslah tepat,&nbsp; sehingga target audience yang dituju semakin jelas dan fokus. Semakin jelas mengetahui&nbsp; target audience yang dituju,&nbsp; dengan mudah kita dapat menentukan strategi yang sesuai sehingga menarik perhatian target audience yang dituju.</p>
<p>Dalam jaringan periklanan konsumen merupakan target audience yang harus dicermati dengan seksama karena kepada merekalah iklan itu dikomunikasikan. Terdapat perbedaan kelompok konsumen sehingga konsep iklan pun seharusnya berbeda untuk kelompok konsumen yang berbeda.</p>
<p>Cara memperlakukan <em>target audience</em> adalah dengan<em> consumer insight</em>, merebut hati dengan komunikasi yang tepat. Berikut ada beberapa cara.</p>
<p><em><strong>In-depth</strong></em><br />
Selalu ingin tahu apa yang dilakukan<em> target audience</em>, kebiasaan mereka&nbsp; menggunakan produk yang kita iklankan, keputusan yang mempengaruhi mereka sehingga membeli produk kita, dll. Sehingga kita benar-benar mengenali target kita.</p>
<p><strong><em>Focus group discussion</em></strong><br />
Memilih responden yang bias mewakili target , melakukan wawancara <em>in depth</em> dengan mereka.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/teori-periklanan-segmentation-targeting-positioning-dalam-pemasaran/">Teori Periklanan &#8211; Segmentation dalam Pemasaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/teori-periklanan-segmentation-targeting-positioning-dalam-pemasaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
