<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pendidikan Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/pendidikan/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Oct 2015 01:06:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Gengsi atau Kualitas II</title>
		<link>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 02:06:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[harkat]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[martabat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan pendidikan di indonesia dan luar negeri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=914</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya baru sekarang nih bisa nerusin nulis tentang gengsi dan kualitas. Jika pada artikel sebelumnya saya lebih melihat dari sisi kreatifitas anak dan nutrisi yang mereka dapatkan. Sekarang saya akan mengaitkan dengan pendidikan dan tingkat sosial masyarakat Indonesia pada umumnya. Dari analisa dan investigasi kecil-kecilan (ceile lebay) ada beberapa hal yang dapat saya tarik kesimpulan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/">Gengsi atau Kualitas II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya baru sekarang nih bisa nerusin nulis tentang gengsi dan kualitas. Jika pada <a title="Gengsi dan Kualitas" href="http://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/" target="_blank">artikel sebelumnya</a> saya lebih melihat dari sisi kreatifitas anak dan nutrisi yang mereka dapatkan. Sekarang saya akan mengaitkan dengan pendidikan dan tingkat sosial masyarakat Indonesia pada umumnya.<span id="more-914"></span> Dari analisa dan investigasi kecil-kecilan<em> (ceile lebay) </em>ada beberapa hal yang dapat saya tarik kesimpulan.</p>
<p>Ibu zaman sekarang lebih senang hal-hal yang praktis alias instan. Tahu kenapa? Karena kesibukan sebagai wanita karir, karena kesibukan arisan, karena kesibukan gosip sana sini<em> (maaf ibu-ibu, meskipun tidak semuanya).</em></p>
<p><strong>Pendidikan Non Formal</strong><br />
Sekarang saya ingin mengaitkan kreatifitas, kecerdasan anak, dan perilaku serta budi pekerti anak zaman sekarang dengan tingkat pendidikan baik <em>formal (di sekolah) </em>maupun <em>non formal (lingkungan keluarga).</em></p>
<figure style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><img title="I Love You Mom, I Love You Son" src="http://artcraftnesia.com/den/big_foto/momandi.jpg" alt="I Love You Mom, I Love You Son" width="300" height="420" /><figcaption class="wp-caption-text">I Love You Mom, I Love You Son</figcaption></figure>
<p>Kembali ke masa lalu. Buat saya meskipun waktu itu saya dilahirkan di keluarga yang pas-pasan, saya tetap merasa bersyukur. Sebab orang tua menanamkan disiplin dan etika Jawa yang  sangat kental. Sehingga kami waktu itu masih tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang seharusnya dan mana yang tidak, semua mengalir begitu saja karena itu sudah menjadi kebiasaan. Bahkan jika saya lihat, bisa dibilang generasi saya kemungkinan adalah generasi terakhir yang &#8216;sedikit&#8217; mengenal <em>&#8216;unggah ungguh&#8217;</em> dan<em> &#8216;tepo sliro&#8217;</em> (tenggang rasa). Mohon maaf saja, jika melihat anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu etika, berlaku kurang ajar, dan arogan. Jangankan unggah ungguh, berbahasa Jawa yang baik saja &#8216;pating pecotot&#8217;. Padahal jika ditanya kalian orang Jawa? jawabnya, &#8220;Iya&#8221;. Duhh &#8230;. (malu saya).</p>
<p>Buat saya, mau anak kita pintar 1000 bahasa sekalipun, mbok ya ooooo, nilai-nilai budaya kita tetap dijaga dan dilestarikan. Mosok nantinya kita hanya jadi &#8216;penonton&#8217;. Negara lain &#8216;ganyeng&#8217; memakai bahasa Jawa, cas cis cus fasih berbahasa Jawa serta mengenal betul budaya Jawa. Eh kita malah plonga plongo. Malu jek &#8230; Bisa menangis nenek moyang kita. Okelah, semoga para orang tua mulai ditunjukkan jalan yang benar.</p>
<p><strong>Pendidikan Formal</strong><br />
Saatnya saya melihat dari sisi pendidikan formal, dalam hal ini adalah sekolah dan perguruan tinggi. Jika melihat kompetisi dalam berbagai hal, memang menuntut kita selalu kreatif, inovatif, dan selalu<em> </em>berfikir <em>out of the box</em>. Tetapi bagaimana dengan pendidikan itu sendiri? Sudahkan mencetak siswanya untuk menjadi kreatif dan cerdas, jangan-jangan hanya mencetak manusia &#8216;pintar&#8217; saja.</p>
<p>Ada artikel menarik yang saya baca dan pengakuan dari teman kerja. Sadar dan tidak sadar sistem pendidikan kita masih perlu banyak pembenahan, mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Program pemerintah terhadap sistem pendidikan sebenarnya cukup bagus. Tetapi implementasi di lapanganlah yang cenderung salah kaprah, bisa karena oknum, atau karena sistem tersebut tidak dapat tersampaikan dengan benar hingga ke bawah. Atau yang paling tragis karena sumber dayanya yang tidak kompeten. (Kebetulan orang tua saya pensiunan pendidik dan prihatin dengan sistem pendidikan zaman sekarang).</p>
<p>Kembali ke artikel dan cerita teman saya. Ada pengalaman unik yang mereka ceritakan saat kebingungan memilihkan sekolah untuk anaknya. Ceritanya begini, sejak mulai menjejakkan bangku sekolah, tepatnya mulai <em>pre school (play group) </em>hingga Taman Kanak-Kanak, ia menyekolahkan anaknya di tempat sekolah &#8216;elit&#8217;. Di sekolah tersebut memang memberi kebebasan kepada anak untuk berkreasi dan berekspresi sesuka mereka. Intinya semua kesenangan mereka dapat terakomodir dengan baik. Mereka senang menjalani hari-harinya di sekolah.  Bahkan di rumah mereka dapat bercerita dengan detial tentang apa yang mereka pelajari di sekolah. Mereka dapat mendeskripsikan kehidupan binatang tertentu, memahami kehidupan binatang tertentu secara detail.</p>
<p>Sampai dapat disimpulkan bahwa secara tidak sadar mereka sudah belajar riset dan analisa. Tetapi di sekolah tersebut anak teman saya tidak diajari membaca, menulis, dan berhitung. Hingga pada akhirnya saat lulus dari TK tersebut, teman saya kesulitan mencarikan sekolah lanjutan, tepatnya Sekolah Dasar (SD). Tahu kenapa? Sangat simpel, beberapa SD, terutama yang memiliki reputasi baik mensyaratkan calon siswa harus bisa berhitung, membaca, menulis, bahkan ada yang mensyaratkan harus sudah bisa berbahasa Inggris. Duaarrrrrr &#8230;. alangkah terpukulnya teman saya tersebut. Sejauh ini ia sudah mengeluarkan biaya sekolah yang cukup banyak tetapi ternyata ia merasa salah memasukkan anaknya di TK sebelumnya.</p>
<p>Coba kita cermati lagi, mana yang salah. Teman saya? atau sistem pendidikannya? Sayapun sempat heran dengan syarat-syarat dari SD tersebut. Lebay ciingggg &#8230;.. Masak anak baru lulus TK harus sudah memenuhi seluruh kriteria seperti itu. Sehingga mau tidak mau teman saya tiap malam mengajari anaknya untuk dapat membaca, menulis, berhitung, dan belajar bahasa Inggris hanya agar anaknya dapat bersekolah di sekolah favorit.</p>
<p>Contoh lain di tingkat pendidikan tinggi. Apa sih yang membuat lulusan dari Indonesia masih sulit berkompetisi dengan lulusan bule? Kenapa sih perusahaan di Indonesia lebih menghargai lulusan luar negeri daripada lulusan Indonesia? Siapa yang dapat menjawabnya?</p>
<p>Ada guyonan yang menggambarkan kondisi mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan mahasiswa luar negeri, tepatnya mahasiswa di Jepang. Saat perkuliahan, mahasiswa Indonesia senang berada dibangku belakang, sedang di Jepang, berebut bangku terdepan. Saat perkuliahan berlangsung, mahasiswa Indonesia ada yang ngobrol, ada yang <em>faceboo</em>kan, lebih parah ada yang ngiler dan ngorok gara-gara semalem lembur main game. Saat telat mengikuti kuliah, mahasiswa di Indonesia nyolong kayak bajay remnya blong, jangankan malu, besoknya di ulang lagi dan lagi. Lebih parah merasa bangga kalau dapat predikit raja telat.  Sedangkan di Jepang, mahasiwa langsung meminta maaf, menganggukkan badan, dan berjanji tidak mengulangi lagi.</p>
<p>Cerita di atas adalah contoh kecil perbedaan mahasiswa di Indonesia dan luar negeri. So, mau seperti apakah pendidikan ini dibawa? Rhenald Kasali pernah berbagi cerita tentang pendidikan anaknya. Ia membandingkan kultur budaya pendidikan di Indonesia dan Amerika. Sistem pendidikan di Amerika lebih mengedapankan<em> &#8216;encouragement&#8217;</em> bukan<em> &#8216;judgement&#8217;</em> atau<em> &#8216;punishment&#8217;. </em>Mahasiswa itu perlu di dorong, dibimbing, bukan dipaksa.<em> </em>Bayangkan saja, jika mahasiswa hanya menilai keberhasilan pendidikannya hanya dari nilai A yang mereka dapatkan. Itu bisa menjadi mala petaka. Hidup itu tidak sebatas nilai A bung. Hidup itu suatu proses, proses yang harus dijalani berdarah-darah. Lihatlah contoh negara terhormat seperti Jepang. Mereka cerdas, elegan, dan berbudaya dalam bernegara. Kultur masyarakatnya yang menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Dari seluruh paparan saya di atas, marilah kita duduk bersama, tidak hanya memikirkan perut kita masing-masing. Bawa negara ini ke arah yang lebih baik. Perbaikan holistik perlu dilakukan di seluruh lini, pendidikan, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Hakekat kehidupan manusia hanya dibedakan dari seperti apa mereka menjalani kehidupan ini. Bermanfaat dan bermartabatkah kehidupannya di dunia ini. Atau hanya rutinitas yang tahu ujung pangkalnya. Hidup itu bukan hanya hitam dan putih, hidup itu ada warna lain.</p>
<p>Para orang tua, pendidik, dan pemerintah. Pikirkanlah generasi bangsa ini. Jangan mandahulukan keinginan, gengsi, dan meniru saja. Tapi lihatlah potensi mereka. Dengarlah suara anak-anakmu, suara rakyatmu. Maju terus bangsaku. Bangsa Indonesia.</p>
<p><em>&#8220;Mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan, semua adalah karena kelemahan saya sebagai manusia biasa yang ingin melihat negara ini benar-benar menjadi lebih baik.&#8221;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/">Gengsi atau Kualitas II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gengsi atau Kualitas</title>
		<link>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 10:58:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[akademik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[prestisius]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=902</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul di atas pasti membuat penasaran dan bingung. Mau ngomong apa sih sebenarnya? Lama sekali saya memendam perasaan ini. Toh saya bukan akademisi, bukan juga pakar psikologi ataupun pakar pendidikan. Tapi melihat fenomena zaman sekarang dan membaca beberapa artikel di berbagai sumber, geli rasanya saat membaca. Ada  beberapa pertanyaan yang ada dalam benak kepala saya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/">Gengsi atau Kualitas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas pasti membuat penasaran dan bingung. Mau ngomong apa sih sebenarnya? Lama sekali saya memendam perasaan ini. Toh saya bukan akademisi, bukan juga pakar psikologi ataupun pakar pendidikan. Tapi melihat fenomena zaman sekarang dan membaca beberapa artikel di berbagai sumber, geli rasanya saat membaca.<span id="more-902"></span></p>
<p>Ada  beberapa pertanyaan yang ada dalam benak kepala saya.</p>
<ol>
<li>Apakah benar kualitas pendidikan zaman sekarang lebih baik dibanding zaman dulu?</li>
<li>Apakah benar anak zaman sekarang lebih kreatif dibanding anak zaman dulu?</li>
<li>Apakah benar orang tua zaman sekarang lebih mementingkan ego daripada berusaha memahami keinginan anak?</li>
</ol>
<p>Huuuuu &#8230; tiga pertanyaan yang pastinya akan mengundang kontroversi. Bermacam-macam argumen tentunya melatar belakangi jawaban masing-masing individu.</p>
<p>Oke &#8230; tulisan ini sebenarnya hanya sebagai bentuk &#8216;curhat&#8217; saja. Toh juga hanya sekedar tulisan. Tapi apa salahnya jika banyak yang mau berbagi lewat tulisan ini.</p>
<p><em> </em></p>
<figure id="attachment_904" aria-describedby="caption-attachment-904" style="width: 225px" class="wp-caption alignleft"><em><em><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-904" title="Bayi Kita" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran-225x300.jpg" alt="Bayi Kita" width="225" height="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran-225x300.jpg 225w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2011/02/bayi_koran.jpg 300w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></a></em></em><figcaption id="caption-attachment-904" class="wp-caption-text">Bayi Membaca</figcaption></figure>
<p><em>Flashback </em>sedikit ke masa lampau, di mana masa kanak-kanak saya lebih banyak habis untuk &#8216;bermain&#8217;. Apakah kata bermain di sini mengandung makna konotasi. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Istilah bermain zaman sekarang memang lebih banyak makna negatifnya dibanding positifnya. Bahkan sering kali saya mendengar orang tua menggertak anaknya, &#8220;Jangan bermain saja&#8221;. Ada yang salah dengan bermain? Lihat dulu &#8230;</p>
<p>Sewaktu kecil, jenis mainan memang tidak sebanyak sekarang. Bahkan boleh dibilang tidak ada. Sehingga mau tidak mau memaksa anak zaman dulu untuk &#8220;<em>think creative</em>&#8220;. Menciptakan berbagai mainan, pistol, mobil, rumah, dan masih banyak lagi jenis mainan yang dapat dibuat sendiri. Sedangkan sekarang, semua tinggal ambil, asal ada duwit mainan apapun dapat dimiliki. Itu adalah contoh kecil perbedaan anak zaman sekarang dan zaman dulu.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan orang tua. Saya ingat sekali semasa kecil, jarang menjumpai orang tua yang sampai marah-marah memaksa anaknya untuk belajar. Kesadaran anak waktu itu cukup tinggi dalam hal belajar. Siapa yang salah?</p>
<p>Coba kita tarik benang merahnya. Kualitas gizi anak sekarang jelas beda jauh dengan anak zaman dulu. Segala kebutuhan nutrisi untuk anak dapat dengan mudah dipenuhi baik lewat susu formula atau makanan tambahan. Nah &#8230;. inilah yang perlu digaris bawahi. Jika dulu orang tua terutama ibu hanya mampu memberi ASI atau minuman dari beras merah, sekarang berbagai susu formula menghiasi toko besar dan kecil. Lebih parah lagi ASI tidak lagi dipandang sebagai nutrisi penting bagi anak/bayi. Menggunakan produk susu formula dengan kandungan ini itu dan harga yang tinggi menjadi sebuah &#8216;TREN&#8217;. Wowww &#8230; takut &#8230;. !!! Zaman modern gitu &#8230; Kalau gak pakai susu formula kurang &#8216;prestisius&#8217;. Berbagai dalil bagi para orang tua untuk mencari pembenaran. Praktis, nutrisi lebih tinggi, anak lebih cerdas, lebih cepat tumbuh, dan berbagai alasan lain menjadi alibi bagi sebagian besar orang tua. Artinya, anak-anak kita tidak ada bedanya dengan ayam petelur atau bahkan ayam potong. Semakin cepat ia tumbuh semakin cepat pula di &#8216;panen&#8217; <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> hehehehhe &#8230;</p>
<p>Saat ini orang tua teramat senang jika melihat anaknya baru usia balita sudah panda ini itu, tumbuh besar, dan aktif. Hati &#8230; hati &#8230; Buat saya pertumbuhan anak memang penting, tetapi bukan berarti mengorbankan segalanya.</p>
<p>Weleh &#8230; sudah panjang &#8230; bersambung aja deh .. Masih banyak curhat yang belum ketulis. Tunggu sambungan berikutnya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/">Gengsi atau Kualitas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Desainer atau Tukang Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 10:06:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[desainer]]></category>
		<category><![CDATA[designer]]></category>
		<category><![CDATA[formal]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tukang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=369</guid>

					<description><![CDATA[<p>Desainer atau Tukang Desain, What ever lah &#8230; !?? Ya dewasa ini sering sekali kita dibingunkan dengan istilah Designer. Maraknya teknologi informasi, komunikasi, menuntut pelaku bisnis, dunia kreatif berlomba untuk menjadi yang terdepan. Praktis banyak bermunculan telenta-talenta baru berbakat. Usia muda tidak lagi menjadi halangan untuk kreatif dan inovatif. Dengan program sekolah gratis utamanya SMK [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/">Desainer atau Tukang Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Desainer atau Tukang Desain, <em>What ever</em> lah &#8230; !?? Ya dewasa ini sering sekali kita dibingunkan dengan istilah Designer. Maraknya teknologi informasi, komunikasi, menuntut pelaku bisnis, dunia kreatif berlomba untuk menjadi yang terdepan. Praktis banyak bermunculan telenta-talenta baru berbakat. Usia muda tidak lagi menjadi halangan untuk kreatif dan inovatif. Dengan program sekolah gratis utamanya SMK oleh pemerintah, tentu ini menjadi peluang emas buat anak bangsa yang ingin skill segera terasah namun dengan kesempatan sekolah yang terbatas.<span id="more-369"></span></p>
<p>Salah satu bidang favorit saat ini adalah bidang desain. Mau multimedia, desain produk, desain grafis (DKV) atau bidang lainnya yang serumpun tengah berlomba menjadi yang terbaik. Persaingan dari yang sehat sampai yang <em>&#8216;sakit&#8217;</em> pun tidak dapat terelakkan.</p>
<p>Kondisi inilah yang memungkinkan munculnya &#8216;desainer dadakan&#8217; dimana-mana. Bahkan tanpa mengenyam pendidikan formalpun seseorang sudah bisa beranggapan bahwa dirinya adalah seorang Desainer. Pada dasarnya sih tidak ada masalah, mau menganggap dirinya siapa. Tapi coba kita pahami bersama. Desainer bukanlah suatu pekerjaan laksana seorang operator atau tukang. Mereka dituntut lebih dari sekedar operator. Selain kemampuan teknis yang memadahi harus pula didasari pengetahuan yang memadahi. Artinya teori juga perlu. Bagaimana mungkin orang yang keseharian hanya bermain aplikasi tanpa tahu landasan teori sudah bisa menganggap dirinya adalah desainer handal.</p>
<p>Intinya adalah, seorang desainer bukanlah seorang tukang desain, karena ini adalah satu paket. Sama halnya kalau kita membeli paket makanan, tidak mungkin enak jika paket makanan ini hanya disajikan perbagian. Tidak masalah landasan teori dengan cara membaca sendiri (autodidak) atau lewat jalur formal. Yang penting janganlah diri kita menganggap kita sudah menjadi desainer handal jika pengetahuan kita tentang seluk beluk dunia kreatif ini masih sedikit. Belajar &#8230; belajar .. dan terus belajar tanpa henti.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/">Desainer atau Tukang Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
