<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesia Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/indonesia/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Jul 2016 05:35:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>4 Hari 3 Malam &#8230;</title>
		<link>https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 05:43:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[klcc]]></category>
		<category><![CDATA[klia]]></category>
		<category><![CDATA[lcct]]></category>
		<category><![CDATA[lrt]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[mrt]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[singapore]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[trip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=1524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sore nanti (01/12) Timnas Garuda dan Macan Asia kembali saling bertarung, antara saudara tua dan saudara muda tiri. Perseteruan antara Indonesia Malaysia sebagai bangsa serumpun acap kali terjadi dari berbagai aspek. Ntah apa yang melatar belakangi keduanya. Sejarah telah mencatatkan keduanya memang seteru abadi. Terlepas dari berbagai problema tersebut keduanya memiliki keunikan masing-masing. Pada tulisan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/">4 Hari 3 Malam &#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sore nanti (01/12) Timnas Garuda dan Macan Asia kembali saling bertarung, antara saudara tua dan saudara muda tiri. Perseteruan antara Indonesia Malaysia sebagai bangsa serumpun acap kali terjadi dari berbagai aspek. Ntah apa yang melatar belakangi keduanya. Sejarah telah mencatatkan keduanya memang seteru abadi. Terlepas dari berbagai problema tersebut keduanya memiliki keunikan masing-masing.</p>
<p>Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas seluk beluk kedua negara. Namun saya hanya ingin berbagi kepada pembaca sekalian tentang pengalaman perjalanan saya selama 4 hari 2 malam. Bukan bermaksud sombong atau apapun. Lawong berangkat aja <em>&#8216;ngere&#8217;</em> <em>(baca:dana terbatas)</em>. Buat saya perjalanan seperti ini bukanlah untuk berfoya-foya menghabiskan duwit, yang terpenting adalah apa yang kita dapat dalam setiap perjalanan kita. Supaya kita <em>&#8216;melek</em>&#8216; melihat dunia luar.</p>
<p>Jujur saja saya merasa prihatin, kenapa biaya bepergian ke luar negeri lebih murah dibandingkan kalau saya ingin bertamasya di negeri sendiri. Mungkin kendala inilah yang membuat kita kurang cinta tanah air. Suatu saat saya bermimpi bisa mengelilingi dunia, namun alangkah memprihatinkan jika sudah mengelilingi dunia tapi negeri sendiri tidak sempat semuanya disinggahi. Semoga mimpi saya jadi kenyataan, bisa ke Raja Ampat, Krakatau, Bunaken, Way Kambas, dan lain-lain. Soal keindahan alam negara kita tidak ada duanya.</p>
<p>######</p>
<p>Tanpa diduga dan dinyana, tanpa direncanakan waktu itu, lupa tepatnya, kalau gak salah sama  seperti sekarang di akhir tahun iseng-iseng surfing ada info tiket murah dari AsiaAir. GPL (Gak Pakai Lama) pesen deh 9 tiket. Bagi saya yang udik ini perjalanan ke luar negeri tentu menjadi sesuatu yang luar biasa (walaupun cuman nyeberang ke tetangga sebelah), karena perjalanan terjauh saya cuman di Sulawesi. Singkat cerita dengan berbagai lika liku pengurusan paspor hingga tiba saat keberangkatan. TUjuan kami adalah Malaysia dan Singapore.</p>
<p>Saking bersemangatnya dalam penantian hampir 1 tahun, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Pesawat dijadwalkan berangkat sekitar pukul 5.40 WIB. Jam 3.40 sudah sampai bandara (pagi beut), ya iyalah biar gak ketinggalan. Seperti biasa sebelum masuk pesawat harus check in ke bagian imigrasi. Nah setelah itu discanning, disini jangan bawa barang aneh-aneh, wong botol aqua kosong aja suruh ngeluarin (trik AirAsia biar dagangannya laku di pesawat). Lewat sudah check in imigrasi dan scanning. Langsung masuk pesawat. Sesuai jadwal tiba sekitar pukul 9.30 waktu setempat (selisih satu jam dengan Indonesia).</p>
<figure id="attachment_1526" aria-describedby="caption-attachment-1526" style="width: 141px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT.jpg"><img loading="lazy" class=" wp-image-1526" title="Suasana di dalam LRT" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT-204x300.jpg" alt="Suasana di dalam LRT" width="141" height="208" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT-204x300.jpg 204w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/12/LRT.jpg 307w" sizes="(max-width: 141px) 100vw, 141px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1526" class="wp-caption-text">Suasana di dalam LRT</figcaption></figure>
<p>Setiba di bandara<em> Low Cost Carrier Terminal</em> (<em>LCCT</em>) mulai deh mata jelalatan lirik sana sini. Kesan pertama, bandaranya kayak terminal Bungurasih. Ya iyalah ini kan untuk penerbangan murah. Beda kalau kita naik Garuda pasti turun di <span class="st"><em>Kuala Lumpur International Airport</em> (<em>KLIA</em>). Beruntung istri saya punya saudrara angkat orang Malaysia, setelah menunggu beberapa saat mulailah Guide kami datang (Thanks to Aman). Orang udik mulailah perjalanan. Stasiun pertama yang kita kunjungi adalah Salak Tinggi. Satu persatu mulai belajar bagaimana membeli tiket, dan menggunakannya. Jam tiba Kereta tidak lama, langsunglah kita naik. Tidak ada yang beda dengan Komuter Surabaya Sidoarjo, hanya sedikit kok bedanya, yaitu bersih, berAC, gak ada orang merokok, nyaman, aman, dan cepat meeeenn. (^_^). Naik kereta <em>Light Rail Transit</em> (LRT) serasa naik mobil mewah. Lihat tuh bapak-bapaknya sampe &#8216;ngorok&#8217;.</span></p>
<p><span class="st">Hari pertama beberapa tempat yang kita kunjungi antara lain <em>Kuala Lumpur City Centre</em> <em>(KLCC)</em>. kayaknya semua orang yang ke Malaysia belum afdlol kalau belum foto dengan background <em>Twin Tower Petronas</em>. Ya bergaya layaknya orang udik, foto-foto dah disana sambil cari makan. Beruntung dah ada makanan Indonesia, rada rewel soalnya perut. Setelah foto-foto perjalanan berlanjut ke beberapa tempat.</span></p>
<p><span class="st">Setelah ibu-ibu puas berbelanja di Petaling Street, tibalah waktunya untuk bertolak ke Singapura. Awalnya berencana naik kereta, tetapi sudah fullbooked. Diputuskan naik bus. Tepat pukul 11.00 waktu setempat kami berangkat ke Singapura, ritual rutinpun dilakukan, check out di imigrasi Malaysia. Di sini tidak ada masalah, namun pas mau masuk SIngapura, barulah masalah timbul saat check in di imigrasi. Pemeriksaan amat ketat, kebetulan rombongan kami ada tiga pria termasuk saya, karena wajah kami seperti teroris barang kali sehingga harus dikandangkan sementara untuk di interogasi. Weeekssss &#8230; serasa jadi pesakitan neh, lumayan lama ditanya beberapa hal, saking lamanya nyaris kami ditinggal bus yang kami tumpangi. Setelah semua beres, perjalananpun berlanjut.</span></p>
<p><span class="st">Sekitar pukul 5.30 pagi tiba di Singapura. Karena masih teramat pagi, transportasi belum buka. Terpaksa deh kami menunggu di sebuah taman. Di dekat Nicole Highway. Cerita kembali berlanjut. Tujuan pertama kali tentunya ke tempat peristirahatan, karena modal dengkul dan uang receh, kita menginap di <em>City Backpacker Hostel</em> di daerah <em>Clarke Quay.</em></span></p>
<p><span class="st"> Perjalanan kami pada dasarnya sama saja ketempat-tempat yang kebanyakan orang kunjungi, bahkan menurut saya masih banyak tempat yang tidak sempat disingahi. Diantara tempat yang kami kunjungi Sentosa Island, Marina Bay, Merlion, Bayfront, ChinaTown, Orchard Road, Universal Studio (walaupun gak masuk, eman duwite) <em>next time</em> deh. Setelah semua puas belanja hingga kaki gempor. Waktunya balek ke Malaysia. Kami naik bis lewat <em>Bugis Street</em> turun di Johor Baru dan menginap semalam sebelum akhirnya kembali ke Kuala Lumpur dan bertolak ke Surabaya.</span></p>
<p><span class="st">######</span></p>
<p><strong><span class="st">Beberapa catatan penting terkait perjalanan</span></strong></p>
<ol>
<li><span class="st">Bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa membaca petunjuk, saat disana biasakanlah.</span></li>
<li><span class="st">Belajarlah bahasa Inggris, biarpun little little <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></span></li>
<li><span class="st">Jangan malu bertanya</span></li>
<li><span class="st">Bawa Peta, GPS dan alat/buku penunjuk arah lainnya.</span></li>
</ol>
<p><strong> Pandangan saya setelah berkunjung di dua negara tersebut</strong><br />
Meskipun kedua negara tersebut usianya relatif lebih muda dibanding Indonesia, kemajuannya sudah jauh melewati Indonesia. Terutama terkait infrastruktur (baik trasnportasi, bangunan, taman, dll), perilaku manusianya, aturan, dan budaya.  Banyak orang bilang kemajuan mereka karena populasi penduduknya lebih sedikit sehingga mudah di tata. Menurut saya itu bukanlah alasan, yang terpenting adalah kebijakan/aturan/regulasi, pendidikan, dan perbaikan moral adalah modal dasar untuk menata bangsa Indonesia lebih baik. Hal-hal kecil di kedua negara tersebut menjadi bagian penting. Pelanggaran terhadap sebuah aturan berakibat fatal dan harus berurusan dengan hukum, sehingga masyarakatnya mau tidak mau harus patuh dan tunduk terhadap hukum berlaku. Bayangkan jika di Indonesia yang menganut azaz bahwa aturan dibuat untuk dilanggar.</p>
<p>Jika kita mengagung-agungkan budaya ketimuran kita yang ramah dan punya empati yang tinggi, di kedua negara tersebutpun tidak kalah. Bahkan menurut saya di Indonesia ramah dan empati sudah mulai terdegradasi. Orang-orangnya saat ini cenderung egois. Inilah yang mengakibatkan kesenjangan sosial yang cukup jauh dan berdampak pada tingkat perkonomian negara.</p>
<p>Beberapa hal yang perlu saya garis bawahi. Infrastruktur jalan di kedua negara tersebut nyaris sempurna. Saya heran apakah pekerja pembuat jalan di Indonesia tidak bisa membuat jalan seperti di sana, halus, rata, tidak bergelombang, apalagi sampai lobang-lobang.</p>
<p>Kemudian soal perilaku, jangankan merokok, membuang sampah, meludah, makan, semua ada aturannya dan tempatnya masing-masing. Apa kita tidak bisa melakukan hal-hal tersebut, ironis. Berikutnya adalah transportasi. Meskipun di Malaysia tidak serapi di Singapore tetap saja sistem transportasi mereka jauh lebih baik dari kita. Semua sudah terintegrasi dan serba otomatis, dari sini efisiensi dan produktivitas tentu akan meningkat, dan ujung-ujungnya berdampak pada tingkat ekonomi negara tersebut. Apakah kita juga tidak bisa?</p>
<p>Oalah oalah &#8230; ternyata oh ternyata perjalanan yang hanya empat hari ini ternyata kian menyesakkan buat saya. Miris melihat kondisi negara kita yang selalu berkutat dengan urusan politik dan perut petinggi-petinggi tidak bertanggung jawab yang selalu menyalahgunakan amanah rakyat. Kapan mimpi saya bisa menjadi tamu di rumah sendiri bisa terlaksana. Kapan masyarakat ini bisa menikmati pajak yang mereka bayar. Dan kapan petinggi-petinggi negeri ini insyaf serta benar-benar memikirkan kepentingan rakyatnya. Apakah menunggu hingga kita benar-benar tertinggal semakin jauh, malu dong &#8230;. Tiru tuh slogan Yamaha &#8230;</p>
<p>Saatnya kita bergandeng tangan, benahi <strong>PENDIDIKAN</strong> kita, benahi <strong>MORAL</strong> kita. Jangan sampai kejayaan masa lalu hanya menjadi sebuah cerita. <strong>SEMOGA&#8230;</strong></p>
<p><strong>Beberapa galeri foto selama perjalanan</strong><br />
<em>Semua gambar diambil menggunakan kamera Handphone Sony Ericsson Xperia Arc S (Klik untuk melihat gambar lebih besar)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p> [<a href="https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/">See image gallery at www.denbagus.com</a>] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/">4 Hari 3 Malam &#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/4-hari-3-malam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia</title>
		<link>https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2012 02:17:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[happy]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=1474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak sengaja waktu surfing saya menemukan tulisan terkait tingkat kebahagian suatu negara. Yang menggelitik saya untuk menulis dan beropini adalah masukknya Indonesia di peringkat 14 sebagai negara paling bahagia dari 151 negara yang di survey. Di saat carut marutnya kondisi negara, korupsi yang makin merajalela, hilangnya jati diri, dan krisis identitas, ternyata sebagian besar masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/">Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak sengaja waktu <em>surfing</em> saya menemukan tulisan terkait tingkat kebahagian suatu negara. Yang menggelitik saya untuk menulis dan beropini adalah masukknya Indonesia di peringkat 14 sebagai negara paling bahagia dari 151 negara yang di survey. Di saat carut marutnya kondisi negara, korupsi yang makin merajalela, hilangnya jati diri, dan krisis identitas, ternyata sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa bahagia. Artinya tingkat kebahagian tidak ada kaitannya sama sekali dengan bagaimana kondisi atau keadaan suatu negara tersebut. Kebahagiaan mutlak dirasakan oleh individu masing-masing.</p>
<p>Menurut data hasil riset <em><a href="http://www.happyplanetindex.org/data/#map-view">HAPPY PLANET INDEX</a> (HPI)</em>, ternyata negara yang tingkat kebahagiaannya tinggi di dominasi oleh negara berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan, perekonomian yang baik tidak selamanya menjadi patokan untuk melihat tingkat kebahagiaan seseorang atau bahkan negara. Jika kita menoleh kebelakang, tidak salah jika Indonesia masuk 14 negara paling bahagia, terlepas dari kondisi negara seperti sekarang ini, masyarakat Indonesia sebagaian besar masih menganut prinsip &#8220;Mangan gak mangan sing penting kumpul&#8221; (makan maupun tidak yang penting kumpul keluarga). Jelas sekali bahwa prinsip sederhana ini seringkali menjadi landasan kuat atas kebahagiaan sebuah keluarga.</p>
<figure id="attachment_1480" aria-describedby="caption-attachment-1480" style="width: 217px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-1480" title="Fernando Torres n Family" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family-217x300.jpg" alt="Fernando Torres n Family" width="217" height="300" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family-217x300.jpg 217w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family-362x500.jpg 362w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/Fernando-Torres-n-Family.jpg 532w" sizes="(max-width: 217px) 100vw, 217px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1480" class="wp-caption-text">Fernando Torres n Family</figcaption></figure>
<p>Menurut Nic Marks sang pencipta HPI, mengukur tingkat kebahagiaan dan harapan hidup sangatlah penting, karena hidup yang panjang dan berkualitas ditentukan oleh tingkat kebahagiaan sehingga memiliki harapan hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Penelitian semacam ini sangatlah penting, agar terjadi keseimbangan dalam melihat tingkat kemajuan suatu negara yang biasanya hanya berfokur pada kemajuan ekonominya saja. Banyak kasus negara maju yang justru masyarakatnya malah merasa menderita, sehingga tidak bisa menikmati hidup mereka secara wajar.</p>
<p>Materi bukanlah segalanya, Bahagia tidaknya seseorang pasti tidak sama satu sama lain, apalagi standart kebahagiaan untuk tiap penduduk di tiap negara. Ukuran kebahagian itu memang sangatlah relatif tergantung dari mana kita melihat dan siapa yang menjalaninya. Sebagian besar kita pasti setuju bahwa tingkat kebahagian lebih banyak dipengaruhi dua hal , yaitu berkaitan dengan materi dan keduniawian. Materi tentunya adalah kekayaan dalam hal ini bisa berupa macam-macam. Sedangkan berkaitan dengan keduniawian bisa berupa istri banyak <em>(TEETTTTTTT SENSOR)</em>, anak banyak, teman banyak, dll. Bahkan di dalam Al-Quran juga sudah dijelaskan kebahagiaan itu dibagi menjadi tiga tingkatan. <strong>Pertama</strong> adalah kebahagian karena memiliki wanita-wanita. <strong>Kedua</strong> adalah karena memiliki anak-anak yang banyak, serta <strong>ketiga, </strong>bahagia karena memiliki  harta benda. Lalu kenapa masyarakat Indonesia sebagian besar merasa bahagia, ya iyalah, jumlah wanita banyak, dari sabang sampai merauke, dan bermacam-macam etnis. Ayo tinggal pilih tinggal pilih &#8230;.  mau yang mana. Mencari jodoh di Indonesia terasa mudah, kalaupun ada  yang masih jomblo hingga tuwir, tentu itu<em> &#8220;DERITA LOE&#8221;</em>.</p>
<p>Beda dengan negara-negara seperti Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya. Perkawinan seolah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan, berumah tangga seolah menjadi awal kehancuran. Wanita di sana cenderung lebih suka aktif dalam kegiatan mengumpulkan harta kekayaan, mengembangkan karir, dan meraih jabatan semaksimal mungkin. Begitu pula dalam soal memiliki anak-anak, banyak wanita di negara maju  menolak memilki anak meski mereka telah bersuami dan hidup normal berumah tangga.</p>
<p>Melihat kondisi di atas sudah jelas sekali  kebahagiaan memang ada dua, kebahagiaan hakiki dan kebahagian semu. Kebahagiaan hakiki adalah menjalani kodrat sebagai insan manusia sesungguhnya, yaitu berkeluarga, memiliki keturunan, dan harta yang cukup. Sedangkan sebagian orang mencoba mencari kebahagiaan semu, kebahagiaan  yang sesaat bisa mereka nikmati tetapi begitu cepat  sirna, yaitu kebahagiaan duniawi semata dan hanya mengejar materi. Disaat mereka sendiri dan orang-orang terdekat satu persatu meninggalkannya, barulah mereka sadar betapa penting kebersamaan, betapa penting kepedulian, betapa penting kehadiran sebuah keluarga, anak, istri, dan orang-orang yang kita cintai. Karena kebahagian hakiki tidak bisa dibeli dengan apapun. Jelas bukan kenapa orang Indonesia masih lebih bahagia dibanding negara maju sekalipun.</p>
<p>Lalu, ingin seperti apakah kita, bahagia seperti apa yang kita inginkan? Hidup tetaplah sebuah pilihan, mau kemana hidup ini akan kita bawa. Mau berkarir seumur hidup? mengejar kekayaan dan kenikmatan duniawi? Atau ingin kebahagiaan hakiki duna akhirat. Silahkan &#8230; jalan hidup ada ditangan Anda sendiri &#8230;. Semoga bisa menjadi wacana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li>http://www.happyplanetindex.org/data/#map-view</li>
<li>http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2012/10/04/4312/1/Indonesia-No-14-Kosta-Rika-No-1-Negara-Paling-Bahagia</li>
</ol>
<p><strong>Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.</strong></p>
<figure id="attachment_1479" aria-describedby="caption-attachment-1479" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI.png"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-1479" title="Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara." src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI-300x187.png" alt="Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara." width="300" height="187" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI-300x187.png 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI-500x313.png 500w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2012/11/HPI.png 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1479" class="wp-caption-text">Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Kosta Rika (64.0)<br />
2. Vietnam (60,4)<br />
3. Kolombia (59.8)<br />
4. Belize (59,3)<br />
5. El Salvador (58.9)<br />
6. Jamaika (58,5)<br />
7. Panama (57,8)<br />
8. Nikaragua (57,1)<br />
9. Venezuela (56.9)<br />
9. Guatemala (56.9)<br />
11. Bangladesh (56,3)<br />
12. Kuba (56,2)<br />
13. Honduras (56,0)<br />
<strong><em>14. Indonesia (55,5)</em></strong><br />
15. Israel (55,2)<br />
16. Pakistan (54,1)<br />
16. Argentina (54,1)<br />
16. Albania (54,1)<br />
19. Cile (53,9)<br />
20. Thailand (53,5)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/">Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/indonesia-masuk-14-negara-paling-bahagia-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gengsi atau Kualitas II</title>
		<link>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 02:06:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[harkat]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[martabat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan pendidikan di indonesia dan luar negeri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=914</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya baru sekarang nih bisa nerusin nulis tentang gengsi dan kualitas. Jika pada artikel sebelumnya saya lebih melihat dari sisi kreatifitas anak dan nutrisi yang mereka dapatkan. Sekarang saya akan mengaitkan dengan pendidikan dan tingkat sosial masyarakat Indonesia pada umumnya. Dari analisa dan investigasi kecil-kecilan (ceile lebay) ada beberapa hal yang dapat saya tarik kesimpulan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/">Gengsi atau Kualitas II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya baru sekarang nih bisa nerusin nulis tentang gengsi dan kualitas. Jika pada <a title="Gengsi dan Kualitas" href="http://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas/" target="_blank">artikel sebelumnya</a> saya lebih melihat dari sisi kreatifitas anak dan nutrisi yang mereka dapatkan. Sekarang saya akan mengaitkan dengan pendidikan dan tingkat sosial masyarakat Indonesia pada umumnya.<span id="more-914"></span> Dari analisa dan investigasi kecil-kecilan<em> (ceile lebay) </em>ada beberapa hal yang dapat saya tarik kesimpulan.</p>
<p>Ibu zaman sekarang lebih senang hal-hal yang praktis alias instan. Tahu kenapa? Karena kesibukan sebagai wanita karir, karena kesibukan arisan, karena kesibukan gosip sana sini<em> (maaf ibu-ibu, meskipun tidak semuanya).</em></p>
<p><strong>Pendidikan Non Formal</strong><br />
Sekarang saya ingin mengaitkan kreatifitas, kecerdasan anak, dan perilaku serta budi pekerti anak zaman sekarang dengan tingkat pendidikan baik <em>formal (di sekolah) </em>maupun <em>non formal (lingkungan keluarga).</em></p>
<figure style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" title="I Love You Mom, I Love You Son" src="http://artcraftnesia.com/den/big_foto/momandi.jpg" alt="I Love You Mom, I Love You Son" width="300" height="420" /><figcaption class="wp-caption-text">I Love You Mom, I Love You Son</figcaption></figure>
<p>Kembali ke masa lalu. Buat saya meskipun waktu itu saya dilahirkan di keluarga yang pas-pasan, saya tetap merasa bersyukur. Sebab orang tua menanamkan disiplin dan etika Jawa yang  sangat kental. Sehingga kami waktu itu masih tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang seharusnya dan mana yang tidak, semua mengalir begitu saja karena itu sudah menjadi kebiasaan. Bahkan jika saya lihat, bisa dibilang generasi saya kemungkinan adalah generasi terakhir yang &#8216;sedikit&#8217; mengenal <em>&#8216;unggah ungguh&#8217;</em> dan<em> &#8216;tepo sliro&#8217;</em> (tenggang rasa). Mohon maaf saja, jika melihat anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu etika, berlaku kurang ajar, dan arogan. Jangankan unggah ungguh, berbahasa Jawa yang baik saja &#8216;pating pecotot&#8217;. Padahal jika ditanya kalian orang Jawa? jawabnya, &#8220;Iya&#8221;. Duhh &#8230;. (malu saya).</p>
<p>Buat saya, mau anak kita pintar 1000 bahasa sekalipun, mbok ya ooooo, nilai-nilai budaya kita tetap dijaga dan dilestarikan. Mosok nantinya kita hanya jadi &#8216;penonton&#8217;. Negara lain &#8216;ganyeng&#8217; memakai bahasa Jawa, cas cis cus fasih berbahasa Jawa serta mengenal betul budaya Jawa. Eh kita malah plonga plongo. Malu jek &#8230; Bisa menangis nenek moyang kita. Okelah, semoga para orang tua mulai ditunjukkan jalan yang benar.</p>
<p><strong>Pendidikan Formal</strong><br />
Saatnya saya melihat dari sisi pendidikan formal, dalam hal ini adalah sekolah dan perguruan tinggi. Jika melihat kompetisi dalam berbagai hal, memang menuntut kita selalu kreatif, inovatif, dan selalu<em> </em>berfikir <em>out of the box</em>. Tetapi bagaimana dengan pendidikan itu sendiri? Sudahkan mencetak siswanya untuk menjadi kreatif dan cerdas, jangan-jangan hanya mencetak manusia &#8216;pintar&#8217; saja.</p>
<p>Ada artikel menarik yang saya baca dan pengakuan dari teman kerja. Sadar dan tidak sadar sistem pendidikan kita masih perlu banyak pembenahan, mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Program pemerintah terhadap sistem pendidikan sebenarnya cukup bagus. Tetapi implementasi di lapanganlah yang cenderung salah kaprah, bisa karena oknum, atau karena sistem tersebut tidak dapat tersampaikan dengan benar hingga ke bawah. Atau yang paling tragis karena sumber dayanya yang tidak kompeten. (Kebetulan orang tua saya pensiunan pendidik dan prihatin dengan sistem pendidikan zaman sekarang).</p>
<p>Kembali ke artikel dan cerita teman saya. Ada pengalaman unik yang mereka ceritakan saat kebingungan memilihkan sekolah untuk anaknya. Ceritanya begini, sejak mulai menjejakkan bangku sekolah, tepatnya mulai <em>pre school (play group) </em>hingga Taman Kanak-Kanak, ia menyekolahkan anaknya di tempat sekolah &#8216;elit&#8217;. Di sekolah tersebut memang memberi kebebasan kepada anak untuk berkreasi dan berekspresi sesuka mereka. Intinya semua kesenangan mereka dapat terakomodir dengan baik. Mereka senang menjalani hari-harinya di sekolah.  Bahkan di rumah mereka dapat bercerita dengan detial tentang apa yang mereka pelajari di sekolah. Mereka dapat mendeskripsikan kehidupan binatang tertentu, memahami kehidupan binatang tertentu secara detail.</p>
<p>Sampai dapat disimpulkan bahwa secara tidak sadar mereka sudah belajar riset dan analisa. Tetapi di sekolah tersebut anak teman saya tidak diajari membaca, menulis, dan berhitung. Hingga pada akhirnya saat lulus dari TK tersebut, teman saya kesulitan mencarikan sekolah lanjutan, tepatnya Sekolah Dasar (SD). Tahu kenapa? Sangat simpel, beberapa SD, terutama yang memiliki reputasi baik mensyaratkan calon siswa harus bisa berhitung, membaca, menulis, bahkan ada yang mensyaratkan harus sudah bisa berbahasa Inggris. Duaarrrrrr &#8230;. alangkah terpukulnya teman saya tersebut. Sejauh ini ia sudah mengeluarkan biaya sekolah yang cukup banyak tetapi ternyata ia merasa salah memasukkan anaknya di TK sebelumnya.</p>
<p>Coba kita cermati lagi, mana yang salah. Teman saya? atau sistem pendidikannya? Sayapun sempat heran dengan syarat-syarat dari SD tersebut. Lebay ciingggg &#8230;.. Masak anak baru lulus TK harus sudah memenuhi seluruh kriteria seperti itu. Sehingga mau tidak mau teman saya tiap malam mengajari anaknya untuk dapat membaca, menulis, berhitung, dan belajar bahasa Inggris hanya agar anaknya dapat bersekolah di sekolah favorit.</p>
<p>Contoh lain di tingkat pendidikan tinggi. Apa sih yang membuat lulusan dari Indonesia masih sulit berkompetisi dengan lulusan bule? Kenapa sih perusahaan di Indonesia lebih menghargai lulusan luar negeri daripada lulusan Indonesia? Siapa yang dapat menjawabnya?</p>
<p>Ada guyonan yang menggambarkan kondisi mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan mahasiswa luar negeri, tepatnya mahasiswa di Jepang. Saat perkuliahan, mahasiswa Indonesia senang berada dibangku belakang, sedang di Jepang, berebut bangku terdepan. Saat perkuliahan berlangsung, mahasiswa Indonesia ada yang ngobrol, ada yang <em>faceboo</em>kan, lebih parah ada yang ngiler dan ngorok gara-gara semalem lembur main game. Saat telat mengikuti kuliah, mahasiswa di Indonesia nyolong kayak bajay remnya blong, jangankan malu, besoknya di ulang lagi dan lagi. Lebih parah merasa bangga kalau dapat predikit raja telat.  Sedangkan di Jepang, mahasiwa langsung meminta maaf, menganggukkan badan, dan berjanji tidak mengulangi lagi.</p>
<p>Cerita di atas adalah contoh kecil perbedaan mahasiswa di Indonesia dan luar negeri. So, mau seperti apakah pendidikan ini dibawa? Rhenald Kasali pernah berbagi cerita tentang pendidikan anaknya. Ia membandingkan kultur budaya pendidikan di Indonesia dan Amerika. Sistem pendidikan di Amerika lebih mengedapankan<em> &#8216;encouragement&#8217;</em> bukan<em> &#8216;judgement&#8217;</em> atau<em> &#8216;punishment&#8217;. </em>Mahasiswa itu perlu di dorong, dibimbing, bukan dipaksa.<em> </em>Bayangkan saja, jika mahasiswa hanya menilai keberhasilan pendidikannya hanya dari nilai A yang mereka dapatkan. Itu bisa menjadi mala petaka. Hidup itu tidak sebatas nilai A bung. Hidup itu suatu proses, proses yang harus dijalani berdarah-darah. Lihatlah contoh negara terhormat seperti Jepang. Mereka cerdas, elegan, dan berbudaya dalam bernegara. Kultur masyarakatnya yang menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Dari seluruh paparan saya di atas, marilah kita duduk bersama, tidak hanya memikirkan perut kita masing-masing. Bawa negara ini ke arah yang lebih baik. Perbaikan holistik perlu dilakukan di seluruh lini, pendidikan, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Hakekat kehidupan manusia hanya dibedakan dari seperti apa mereka menjalani kehidupan ini. Bermanfaat dan bermartabatkah kehidupannya di dunia ini. Atau hanya rutinitas yang tahu ujung pangkalnya. Hidup itu bukan hanya hitam dan putih, hidup itu ada warna lain.</p>
<p>Para orang tua, pendidik, dan pemerintah. Pikirkanlah generasi bangsa ini. Jangan mandahulukan keinginan, gengsi, dan meniru saja. Tapi lihatlah potensi mereka. Dengarlah suara anak-anakmu, suara rakyatmu. Maju terus bangsaku. Bangsa Indonesia.</p>
<p><em>&#8220;Mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan, semua adalah karena kelemahan saya sebagai manusia biasa yang ingin melihat negara ini benar-benar menjadi lebih baik.&#8221;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/">Gengsi atau Kualitas II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/gengsi-atau-kualitas-ii/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bangkit Indonesiaku!!!</title>
		<link>https://www.denbagus.com/bangkit-indonesiaku/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/bangkit-indonesiaku/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 16:04:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[bangsaku]]></category>
		<category><![CDATA[i love indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pahlwan]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=716</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti seremonial pada tahun-tahun sebelumnya, di sudut-sudut gang, jalan-jalan, pada rame ngeraya&#8217;in HUT RI ke 65. Sadarkah makna perenungan yang selalu diadakan tiap tahun ini? Ibarat manusia, usia negara kita sudah tidak muda lagi. Tapi coba lihat, sifat, perilaku, dan karakter bangsa ini. Sadar atau tidak pelah-pelan citra dan harga diri bangsa ini sudah mulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/bangkit-indonesiaku/">Bangkit Indonesiaku!!!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti seremonial pada tahun-tahun sebelumnya, di sudut-sudut gang, jalan-jalan, pada rame ngeraya&#8217;in HUT RI ke 65. Sadarkah makna perenungan yang selalu diadakan tiap tahun ini? Ibarat manusia, usia negara kita sudah tidak muda lagi. <span id="more-716"></span>Tapi coba lihat, sifat, perilaku, dan karakter bangsa ini. Sadar atau tidak pelah-pelan citra dan harga diri bangsa ini sudah mulai terkikis. Rasa nasionalisme sudah luntur. Disaat bulan ramadhan seperti sekarang, seharusnyalah kita saling <em>tepo sliro</em>, saling hormati, merenung, dan empati.</p>
<figure style="width: 309px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" title="Bangkit Indonesiaku" src="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/merah-putih.jpg" alt="Bangkit Indonesiaku" width="309" height="309" /><figcaption class="wp-caption-text">Bangkit Indonesiaku</figcaption></figure>
<p>Duh para pemimpin bangsa, ingatlah &#8230;. ingatlahhh &#8230;. negara ini tidak dibuat layaknya <em>&#8216;Jemblem&#8217;</em> dari pohong. Negara Kesatuan Republik Indonesia ini didapatkan dengan deraian air mata, cucuran darah, dan pengorbanan pahlawan bangsa. Tolong ..<em> please &#8230;</em> jangan <em>lebaayyyy &#8230;.</em> Perhatikan suara, rintihan, dan tangisan rakyat. Jangan seperti sandiwara di atas panggung. Gara-gara 10% satu gedung tepuk tangan. Tapi sadarkah masing banyak yang perutnya buncit, tinggal tulang belulang, dan tidur dikolong jembatan beratapkan langit. Mereka itu saudara kita, sakit mereka sakit kita. Tahukah Bapak? Mereka menderita, mereka menangis, tapi tapi mampu protes. Pernahkan bapak merasakan???</p>
<p>Oh .. no .. no .. no&#8230; jangan terus-terusan dong pencitraan diri. Baik tidaknya diri kita bukan kita yang menilai. Biarin deh orang lain yang menilai. Integritas tidak didapat dari pencitraan kok, tapi karena memang layak disegani. Bosen juga kalo terus-terusan pencitraan diri. Bangsa ini butuh fakta bukan janji. Bapakku yang baik. Orang tua selalu mendahulukan kepentingan anaknya. Niscaya anakpun pasti akan menyangi orang tuanya.</p>
<p>Bangkitlah Indonesiaku. Merah Putihmu akan selalu ada di dalam sanubariku.<br />
Jangan mau harga dirimu dinodai, diinjak, apalagi direndahkan.</p>
<p>I Love You Indonesia. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia Ke-65.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/bangkit-indonesiaku/">Bangkit Indonesiaku!!!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/bangkit-indonesiaku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
