<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bisnis Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/bisnis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/bisnis/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Aug 2017 03:21:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</title>
		<link>https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Aug 2017 03:05:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[personal branding]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[trust]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2583</guid>

					<description><![CDATA[<p>Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis Istilah branding sudah berhamburan di jagat maya. Sama halnya personal branding. Namun topik yang satu ini rasanya tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi di zaman seperti sekarang. Perilaku manusia sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Mereka lebih kritis, cepat, dan tidak bertele-tele. Setiap generasi ada kelebihan dan kekurangan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/">Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</h3>
<figure id="attachment_2590" aria-describedby="caption-attachment-2590" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU.jpg"><img class="size-medium wp-image-2590" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU-300x188.jpg" alt="Personal Branding For Business" width="300" height="188" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU-300x188.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU-768x480.jpg 768w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/08/GUNDU.jpg 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2590" class="wp-caption-text">Personal Branding For Business</figcaption></figure>
<p>Istilah<em> branding</em> sudah berhamburan di jagat maya. Sama halnya <em>personal branding</em>. Namun topik yang satu ini rasanya tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi di zaman seperti sekarang. Perilaku manusia sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Mereka lebih kritis, cepat, dan tidak bertele-tele. Setiap generasi ada kelebihan dan kekurangan, namun jika kita hidup dalam beberapa generasi yang berbeda, mau tidak mau harus terus bisa beradaptasi.</p>
<p>Dalam setiap tulisan yang penulis buat sejatinya adalah pengalaman pribadi, baik setelah membaca buku, mencoba <em>device</em>, atau materi-materi lain yang penulis pelajari dari seminar dan workshop. Ada banyak topik yang penulis pelajari. Intinya, setelah beberapa waktu belajar, apapun, makin membuat ketagihan untuk mempelajari hal-hal baru.</p>
<p>Yuk, singkat saja. Materi <em>personal branding</em> seperti yang penulis singgung di atas sudah banyak dibahas. Tapi materi ini agak sedikit berbeda, penulis dapatkan saat mengikuti semacam seminar yang digelar Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA).</p>
<p>Selama belajar branding, baru pertama mendengar istilah <span class="_Tgc">Neuro-linguistic programming (NLP). Penulis tidak akan membahas panjang lebar soal NLP, karena keilmuan penulis tentang topik ini sangat minim. Biasanya NLP sangat terkait dengan motivasi diri, pakar motivasi akan lebih kompten di bidang ini. Secara singkat sih NLP mengkaji bagaimana kinerja otak bisa optimal, yang ujungnya bisa memotivasi untuk lebih bisa mengendalikan kinerja otak dan membawa keberhasilan seseorang. Begitulah kira-kira penjelasan singkat dari NLP. Lalu apa hubungannya dengan <em>personal branding (PB)</em>?<br />
</span></p>
<p>Sebelum membahas relevansi NLP dan Personal branding, penulis ingin merefresh tentang <em>branding</em> secara singkat.&nbsp; Agar <em>brand</em> kita kuat, kata kunci paling sederhana adalah unik, beda, dan lain-lain. Selanjutnya<em> brand</em> tersebut harus memiliki value, sedangkan value bisa positif maupun negatif, baik dan buruk. Tinggal bagaimana kita membangung <em>brand</em> tersebut.</p>
<p>Definisi umum PB bisa diartikan sebagai proses komunikasi yang memberi nilai tambah (individu, produk, atau perusahaan) dengan cara dan waktu yang cepat dan tepat kepada sebanyak-banyaknya orang.</p>
<p>Beberapa tips dan kiat yang bisa dilakukan dalam proses membentuk Personal branding yang kuat. Di antaranya dengan melakukan seminar, <em>workshop</em>, kelas. Dengan adanya media digital dan kemudahan <em>mobile device</em>. Memungkinkan siapapun melakukan kegiatan branding di berbagai <em>platform</em>. Misalkan worshop, seminar dan kelas. Saat ini dari jarak yang sangat jauhpun kita sudah bisa melakukan seminar, worshop, dan kelas. Bahkan statistik peserta, kita bisa pantau. Keuntungan lain dengan memanfaatkan media digital, komunikasi bisa langsung dua arah dan masih banyak keuntungan dan keunggulan jika kita tahu bagaimana mengoptimalkan media digital ini.</p>
<p>Proses PB memang tidak bisa dilakukan dalam sesaat, perlu tahapan, proses, dan evaluasi. Berikut ini tahapan yang bisa dilakukan dalam membangun PB yang efektif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>BELAJAR</strong></h4>
<p>Belajar sudah menjadi hal yang wajib dalam membangung mental dan kompeten seseorang. Khususnya sebelum melakukan PB. Sebaiknya belajarlah sesuatu yang memang diminati atau bahkan hobi. Karena mempelajari sesuatu yang kita senangi akan jauh lebih mudah daripada memaksakan sesuatu yang kita tidak suka. Lebih baik lagi jika kompetensi yang kita bangun sesuai dengan bisnis yang kita geluti. Perbanyak materi-materi yang bisa mendukung PB.</p>
<h4><strong>TAHU</strong></h4>
<p>Setelah belajar banyak, tahapan berikutnya kita menjadi tahu. Perlahan dan konsisten dari ilmu yang telah kita pelajari, mulailah berbagi pengalaman dan ilmu yang telah kita pahami dan aplikasikan. Semakin banyak kita bisa berbagi semakin banyak manfaat yang akan kita dapatkan. Baik untuk urusan dunia maupun akhirat. InsyaAllah ilmu yang manfaat akan memberi kebaikan juga kepada kita.</p>
<h4><strong>BISA</strong></h4>
<p>Nah tahapan selanjutnya adalah bisa. Ada pepatah bisa karena biasa. Yups, ada beberapa keilmuan yang memang kita bisa pelajari, namun ada juga ilmu yang memang butuh &#8216;bakat&#8217;. Secara umum ilmu apapun bisa dipelajari, jadi tidak ada kata tidak bisa. Selama ada niatan untuk belajar semua pasti bisa, yang diperlukan hanya membangun &#8216;habit&#8217;.</p>
<h4><strong>MENGHASILKAN</strong></h4>
<p>Finaly pada akhirnya, semua usaha pasti ada tujuannya. Tujuan atau <em>goal</em> bisa bermacam-maca. Material dan spiritual. Material sudah jelas, ujungnya bisa memberi manfaat buat kita yang ingin melakukan bisnis. Saat PB sudah kuat, asosiasi orang akan sangat kuat terhadap kita atau <em>brand</em> kita. Bisa dibilang pada sudah menjadi <em>Top of Mind. </em>Keuntungannya, kita akan mudah melakukan aktivitas apapun jika sudah dikenal. Secara spiritual, tentu saja kita bisa memberi manfaat untuk banyak orang, pastinya semakin diri kita bermanfaat semakin tinggi nilai kita. Dan semoga bisa memberi kredit poin juga di mata Allah.</p>
<p>Ada pantangan-pantangan yang kadang bisa merusak PB kita. Tapi kita sering abai. HUTANG! Kenapa dengan hutang? Penulis tidak pernah merekomendasikan pembaca untuk berHUTANG. Hutang bisa merusak PB kita, khususnya jika hutang ke mitra, teman, atau kerabat dekat kita. Saat sekali tercederai gara-gara hutang, rusaklah citra PB kita yang sudah dibangun dengan susah payah. Sekali lagi, berusahalah sangat keras untuk tidak HUTANG. Kalaupun terpaksa cari mitra untuk tambah modal usaha, atau pinjaman yang berbasis syariah. Say No to RIBA.</p>
<p>Jadilah pribadi yang dipercaya dengan selalu menanamkan <em>value</em> yang positif kepada orang lain. Lebih baik tawarkan investasi bersama yang lebih menjanjikan daripada pinjam atau hutang, beri manfaat lebih, membangun <em>value</em>, bukan semata membicarakan <em>money</em>.</p>
<h4>&nbsp;</h4>
<h4>MENGAPA HARUS ADA PERSONAL BRANDING</h4>
<h5>NETWORKING</h5>
<p>PB memiliki alasan selain sudah dijelaskan singkat sebelumnya. Salah satunya adalah membangun <em>networking. </em>Bisnis yang baik adalah yang mampu mengoptimalkan <em>resource</em> secara kolektif. Semakin banyak mitra atau networking yang kita miliki akan memudahkan kita dalam melakukan penetrasi bisnis.</p>
<h5><strong>BIG DATA</strong></h5>
<p>Kita sudah tidak bisa memungkiri, data saat ini membawa peran sangat penting. Melalui data semua bisa terukur dan efektif. Grab data sebanyak-banyaknya yang mendukung dalam rangka membangun <em>networking.<br />
</em></p>
<h5><strong>TRUST</strong></h5>
<p>Sudah disinggung juga sebelumnya. Saat PB sudah baik, akan terbentuk TRUST. Saat orang sudah sangat percaya dengan kita, dan mengetahui kemampuan kita. Biasanya orang akan dengan sukarela menyerahkan uang untuk diinvestasikan atau dikelola. Nah di sinilah biasanya yang sering dijadikan bahan dalam bisnis. Kita tahu ada banyak buku atau bahkan seminar yang mengklaim membangung bisnis tanpa modal. Tentu saja bisa, jika kita memiliki PB yang kuat. Keuntungan lain saat PB sudah bagus, memudahkan dalam negosiasi, baik dalam bisnis atau negosiasi lainnya, karena sudah dipercaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>APA YANG HARUS DILAKUKAN</h4>
<p>Secara umum dalam bisnis sudah jamak istilah SWOT sebelum memetakkan strategi bisnis yang tepat. Namun belakangan istilah tersebut dibalik menjadi TOWS. Setelah TOWS ditentukan, mulailah rancang strategi, dengan alasan-alasan diatas bangun <em>networking y</em>ang kuat. Rekrut jadi <em>partner</em>, ntah mitra tetap atau lepas, tergantung kebutuhan. Yang pasti jangan kerja sendiri, berbagilah rezeki. Kerja sendiri bisa, tetapi lebih baik kerja tim. Kita menyadari tidak ada manusia yang sempurna, dalam bisnispun sama, pasti ada kekurangan dan kelemahan yang hanya bisa dilengkapi atau ditutupi oleh <em>partner</em>/mitra kita.</p>
<p>Contoh, kita bisnis<em> fashion. </em>Kita tidak mungkin melakukan sendiri semuanya, meskipun bisa. Perlu ada penjahit, potong, finishing, hingga distribusi. Jika bisnis properti, cari orang yang bisa arsitek, sipil, hukum, dan lain-lain. Untuk tahap awal sebaiknya kemitraan secara bagi hasil atau perjanjian lain yang saling mengunguntungkan. Selama projek yang ditawarkan feasible pasti akan didukung, apalagi kalau PB kita sudah bagus.</p>
<p>Langkah selanjutnya adalah membuat <em>marketing tool,</em> nah ini serahkan kepada ahlinya, tentu dengan didampingi atau disupervisi, agar alat perang kita tepat tidak salah memilih senjata. Berikutnya mulailah bangun bisnis kita. Implementasi semua strategi yang sudah disusun, bisa menggunakan media mainstream maupun yang digital. Tahap akhir evaluasi secara terus menerus hingga mendapatkan hasil sesuai harapan.</p>
<p>Terakhir hubungan NLP dengan PB apa? Iya membangung mindset yang kuat dalam PB dan bisnis perlu latihan dan pemahaman yang tepat. Karena tahapan pengenalan pada diri sendiri dibutuhkan motivasi dan komitmen. Sehingga ada baiknya untuk lebih mengenal diri sendiri belajarlah NLP agar kinerja otak dalam menstimuli diri lebih kuat dalam berbagai tujuan hidup.</p>
<p>Nah, itu saja yang bisa penulis bagi dari seminar yang saya ikuti, semoga manfaat dan memberi wawasan baru bagi pembaca. Sukses selalu dan semoga keberkahan menyertai kita semua.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/">Personal Branding Untuk Mendukung Keberhasilan Bisnis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/personal-branding-untuk-mendukung-keberhasilan-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</title>
		<link>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2017 07:33:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[old]]></category>
		<category><![CDATA[time frame]]></category>
		<category><![CDATA[young]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR) Ngomong apa lagi sih ini. Hehehhe&#8230; memang kok ilmu itu datang dari mana saja. Nah konsep ini saya dapat dari seorang Doktor sahabat saya. Okay, gak akan panjang lebar. Apa sih konsep FOLDING TIME FRAME ini. Simpel sebenarnya. Kalau kita membuat sebuah time frame, dari masa ANAK-ANAK [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/">Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</h4>
<p><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg"><img loading="lazy" class="alignleft size-full wp-image-2571" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg" alt="" height="250" width="600" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg 600w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n-300x125.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a>Ngomong apa lagi sih ini. Hehehhe&#8230; memang kok ilmu itu datang dari mana saja. Nah konsep ini saya dapat dari seorang Doktor sahabat saya.</p>
<p>Okay, gak akan panjang lebar. Apa sih konsep FOLDING TIME FRAME ini. Simpel sebenarnya. Kalau kita membuat sebuah time frame, dari masa ANAK-ANAK sampai pada akhirnya TUA (lihat gambar) kemudian lipat time frame tersebut tepat di tengah.</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Apa yang terjadi. Tepat .. Kamu memang luar biasa .. hehehehe<br />
Yang terjadi adalah saat dilipat posisi TUA akan kembali ke ANAK-ANAK (ujung bagian TUA berhimpit dengan ujung ANAK-ANAK).</p>
<p>Apa maknanya, beliau Dr. <a class="profileLink" href="https://www.facebook.com/achmadyanu" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1229957187" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Achmad Yanu</a> menjelaskan lebih lanjut, dan sepertinya kita sepakat. Bahwa saat dilipat perilaku manusia saat usia mulai TUA, perilaku manusia cenderung akan kembali seperti ANAK-ANAK.</p>
<p>Tapi apakah mutlak seperti itu, tentu tidak. Ada cara supaya kita tidak &#8216;menjadi TUA.&#8217; Ah ada-ada saja. Manusia pasti tua.</p>
<p>Ada pepatah, fisik boleh TUA, tapi semangat tetap MUDA. Caranya gimana, ya jangan biarkan otak, pikiran, fisik, menjadi seperti ANAK-ANAK. Asah terus, cari ilmu, belajar terus. Biar daya ingat, mental, pikiran tetap terlatih dan tetap SMART.</p>
<p>Selanjutnya konse FOLDING TIME FRAME ini sebenarnya ada makna lebih dalam. Kami sebagai MUSLIM memahami konsep AWAL dan AKHIR, artinya saat lipatan tadi kita amati, di ujung sama-sama kita bisa melihat satu kesatuan antara AWAL (ANAK-ANAK) dan AKHIR (TUA). Kita dilahirkan yang pada akhirnya kita juga akan berakhir (MATI).</p>
<p>Dan terakhir saat lipatan itu kembali kita lipat-lipat. Coba perhatikan, apa yang terjadi. Benar luar biasa &#8230; menjadi angka 1. Artinya, LAHIR (AWAL) dan MATI (AKHIR) adalah satu kesatuan. Angka satu menunjukkan bahwa pada akhirnya kita harus kembali ke yang ESA yaitu ALLAH SWT.</p>
</div>
<p><span style="border-radius: 2px; text-indent: 20px; width: auto; padding: 0px 4px 0px 0px; text-align: center; font: bold 11px/20px 'Helvetica Neue',Helvetica,sans-serif; color: #ffffff; background: #bd081c  no-repeat scroll 3px 50% / 14px 14px; position: absolute; opacity: 1; z-index: 8675309; display: none; cursor: pointer;">Simpan</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/">Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bisnis Sendiri, Your Own Business</title>
		<link>https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2017 01:36:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[amati tiru modifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[atm]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[entrepeneurshing]]></category>
		<category><![CDATA[mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[pola bisnis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2536</guid>

					<description><![CDATA[<p>BISNIS SENDIRI Memiliki usaha sendiri dan mandiri menjadi cita-cita bagi sebagian besar masyarakat di era modern ini. Hal ini pula yang melatarbelakangi lahirnya motivator, coaching, dan hal lain berkaitan dengan bisnis. Mulai dari yang benar-benar pakar hingga yang amatir. Celakanya, masyarakat yang ingin belajar bisnis berharap bisa sukses dengan cara instan. Kondisi seperti ini dimanfaatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/">Bisnis Sendiri, Your Own Business</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_2542" aria-describedby="caption-attachment-2542" style="width: 711px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-2542" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business.jpg" alt="This is My Own Business" height="514" width="711" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business.jpg 711w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business-300x217.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/03/my_own_business-140x100.jpg 140w" sizes="(max-width: 711px) 100vw, 711px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2542" class="wp-caption-text">This is My Own Business</figcaption></figure>
<h4>BISNIS SENDIRI</h4>
<p>Memiliki usaha sendiri dan mandiri menjadi cita-cita bagi sebagian besar masyarakat di era modern ini. Hal ini pula yang melatarbelakangi lahirnya <em>motivator,</em> <em>coaching</em>, dan hal lain berkaitan dengan bisnis.</p>
<p>Mulai dari yang benar-benar pakar hingga yang amatir. Celakanya, masyarakat yang ingin belajar bisnis berharap bisa sukses dengan cara instan. Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya memanfaatkan situasi.</p>
<p>Saya bukan pakar bisnis, namun beberapa kali memang mengikuti beberapa <em>mentoring</em> baik melalui <em>training</em> tatap muka maupun mentoring <em>online</em> (<em>messanger, webinar, group,</em> dll). Secara umum untuk memulai bisnis memang tidak sesederhana teorinya. Butuh komitmen, butuh mental, keberanian, ilmu, dan aksi nyata. Bukan hanya mengumpulkan materi dan teori tanpa <em>action</em> apapun. <em>Action</em> bukan selalu berkaitan dengan hal besar, action yang kecil sekalipun bisa sebagai wujud dari komitmen kita untuk memulai bisnis. Sesuatu yang besar diawali dari yang kecil.</p>
<p>Dalam postingan ini hingga beberapa waktu ke depan saya akan menyarikan beberapa teori yang sudah dipraktekkan. Namun, bisa saja teori atau materi yang saya sampaikan ini bertolak belakang dengan materi di kampus maupun teori dari mentor atau trainer yang lain.</p>
<p>Ya, buat saya ilmu bisa datang dari mana saja, dari siapa saja, yang penting baik dan memberi manfaat. <em>Training</em> atau <em>mentoring</em> apapun adalah proses mencari ilmu, yaitu investasi yang akan terus bisa bermanfaat bagi kita maupun orang lain.</p>
<p>Kita perlu menggarisbawahi, bahwa keberhasilan bisnis satu sama lain tidak akan pernah sama, produk samapun yang kita jual tidak akan sama sales yang dihasilkan. Bahkan sikembar identik saja tidak sama. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam membangun bisnis.</p>
<p><strong>POLA BISNIS</strong></p>
<p>Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita kerjakan selalu memiliki prosedur. Dalam hal ini saya menyebutnya terjadi sebuah POLA, atau pola bisnis. Sebagian besar orang merasa bingung saat akan memulai bisnis. Bingung harus darimana memulai bisnis, karena tidak punya modal, tidak punya ide, dan lain-lain. Nah, ide paling gampang adalah mengamati sekitar kita. Setelah mengamati, baru gunakan istilah keren, yaitu &#8216;CONTEK&#8217;. Lha .. nyontek kan gak baik. Yups, jangan gunakan istilah itu, tapi gunakan istilah lain sinonimnya, jangan contek begitu saja, tapi Amati, Tiru, Modifikasi (ATM). Ide akan muncul dari pola tersebut. Apakah segampang itu, tentu saja tidak. Masih banyak hal yang harus disiapkan.</p>
<p>Saya mengajarkan yang nggak baik dong. Hmmm &#8230; coba sekarang bayangkan, adakah saat ini kita jumpai sesuatu yang benar-benar orisinil alias <em>genuine</em>. Otak kita sudah &#8216;terkontaminasi&#8217; berbagai informasi yang memberi referensi secara tidak langsung. Apapun yang kita lakukan baik sadar maupun tidak sebenarnya sudah bukan benar-benar orisinil. Tetapi dari referensi yang kita baca, kita lihat, kita dengar, dan ketahui. Sekarang sekelas Instagram dengan fitur SnapGram. Apakah fitur itu original. Beberapa pengamat mengatakan fitur itu sejatinya &#8216;terinspirasi&#8217; dari Snapchat.</p>
<p>Terkait pola yang saya jelaskan di atas, sejati berlaku untuk hal apapun. Misal orang sukses pasti punya pola atau sebab dia menjadi sukses. Begitu juga sebaliknya orang gagal juga punya pola dan juga ada sebabnya.</p>
<p><strong>PENDEKATAN BISNIS</strong></p>
<p>Sudah sedikit saya singgung tentang pola bisnis, selanjutnya ada pendekatan bisnis. Ini yang mungkin harus di <em>highlight. </em>Bagi saya bisnis bukan semata mencari uang dan menumpuk harta. Lebih dari itu bisnis harus bisa memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain dan bisa menjadi bekal kita masuk surga. Wih.. jerune. Yuups, karena itulah dalam bisnis tetap harus ada pendekatan spiritual. Kalau bisnis ada polanya, masuk SYURGA dan NERAKApun ada polanya. Motivasi untuk menjadi istimewa dibanding orang lain adalah motivasi terbesar bagi seseorang untuk sukses.</p>
<p>Okay sampai di sini dulu ya. Tunggu kelanjutannya, pantengin terus buat yang mau belajar bisnis bareng-bareng.</p>
<p>InsyaAlloh semoga bisa manfaat dan berkah.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/">Bisnis Sendiri, Your Own Business</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/bisnis-sendiri-your-own-business/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Desainer atau Tukang Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 10:06:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[desainer]]></category>
		<category><![CDATA[designer]]></category>
		<category><![CDATA[formal]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tukang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=369</guid>

					<description><![CDATA[<p>Desainer atau Tukang Desain, What ever lah &#8230; !?? Ya dewasa ini sering sekali kita dibingunkan dengan istilah Designer. Maraknya teknologi informasi, komunikasi, menuntut pelaku bisnis, dunia kreatif berlomba untuk menjadi yang terdepan. Praktis banyak bermunculan telenta-talenta baru berbakat. Usia muda tidak lagi menjadi halangan untuk kreatif dan inovatif. Dengan program sekolah gratis utamanya SMK [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/">Desainer atau Tukang Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Desainer atau Tukang Desain, <em>What ever</em> lah &#8230; !?? Ya dewasa ini sering sekali kita dibingunkan dengan istilah Designer. Maraknya teknologi informasi, komunikasi, menuntut pelaku bisnis, dunia kreatif berlomba untuk menjadi yang terdepan. Praktis banyak bermunculan telenta-talenta baru berbakat. Usia muda tidak lagi menjadi halangan untuk kreatif dan inovatif. Dengan program sekolah gratis utamanya SMK oleh pemerintah, tentu ini menjadi peluang emas buat anak bangsa yang ingin skill segera terasah namun dengan kesempatan sekolah yang terbatas.<span id="more-369"></span></p>
<p>Salah satu bidang favorit saat ini adalah bidang desain. Mau multimedia, desain produk, desain grafis (DKV) atau bidang lainnya yang serumpun tengah berlomba menjadi yang terbaik. Persaingan dari yang sehat sampai yang <em>&#8216;sakit&#8217;</em> pun tidak dapat terelakkan.</p>
<p>Kondisi inilah yang memungkinkan munculnya &#8216;desainer dadakan&#8217; dimana-mana. Bahkan tanpa mengenyam pendidikan formalpun seseorang sudah bisa beranggapan bahwa dirinya adalah seorang Desainer. Pada dasarnya sih tidak ada masalah, mau menganggap dirinya siapa. Tapi coba kita pahami bersama. Desainer bukanlah suatu pekerjaan laksana seorang operator atau tukang. Mereka dituntut lebih dari sekedar operator. Selain kemampuan teknis yang memadahi harus pula didasari pengetahuan yang memadahi. Artinya teori juga perlu. Bagaimana mungkin orang yang keseharian hanya bermain aplikasi tanpa tahu landasan teori sudah bisa menganggap dirinya adalah desainer handal.</p>
<p>Intinya adalah, seorang desainer bukanlah seorang tukang desain, karena ini adalah satu paket. Sama halnya kalau kita membeli paket makanan, tidak mungkin enak jika paket makanan ini hanya disajikan perbagian. Tidak masalah landasan teori dengan cara membaca sendiri (autodidak) atau lewat jalur formal. Yang penting janganlah diri kita menganggap kita sudah menjadi desainer handal jika pengetahuan kita tentang seluk beluk dunia kreatif ini masih sedikit. Belajar &#8230; belajar .. dan terus belajar tanpa henti.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/">Desainer atau Tukang Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
