<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Materi Kuliah Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/category/learn/kuliah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/category/learn/kuliah/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 Oct 2022 02:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Teknik Analisis Data dengan Metode GeSCA</title>
		<link>https://www.denbagus.com/teknik-analisis-data-dengan-metode-gesca/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/teknik-analisis-data-dengan-metode-gesca/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2015 03:05:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[generalized structured component analysis]]></category>
		<category><![CDATA[gesca]]></category>
		<category><![CDATA[metode penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[sem]]></category>
		<category><![CDATA[structural equation modelling]]></category>
		<category><![CDATA[teknik analisis data]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=1980</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biar otak berimbang tidak ngomong gadget saja, kali ini penulis sedikit berbagi ilmu tentang teknik analisis data dengan metode GeSCA Generalized Structured Component Analysis. Makanan apa sih ini? Hehehe &#8230; bukan makanan tapi ini snack buat penelitian biar enak dinikmati. Yups, metode GeSCA sebenarnya adalah metode yang relatif baru dalam analisis data. GeSCA merupakan metode [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/teknik-analisis-data-dengan-metode-gesca/">Teknik Analisis Data dengan Metode GeSCA</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Biar otak berimbang tidak ngomong <em>gadget</em> saja, kali ini penulis sedikit berbagi ilmu tentang teknik analisis data dengan metode GeSCA <em>Generalized Structured Component Analysis.</em> Makanan apa sih ini? Hehehe &#8230; bukan makanan tapi ini<em> snack</em> buat penelitian biar enak dinikmati. Yups, metode GeSCA sebenarnya adalah metode yang relatif baru dalam analisis data.</p>
<p>GeSCA merupakan metode analisis <em>component base</em> dalam <em>Structural Equation Modelling</em> (SEM). Jika sebelumnya kita mengenal <em>tools</em> seperti LISREL, AMOS, PLS, dan SPSS untuk menyelesaikan model persamaan struktural, GeSCA merupakan penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. SEM dideskripsikan sebagai analisis yang menggabungkan pendekatan analisis faktor <em>(factor analysis)</em>, model struktural <em>(structural model)</em>, dan analisis jalur <em>(path analysis)</em> yang serentak dapat melakukan tiga macam kegiatan sekaligus, yaitu pengecekan validitas reliabilitas, pengujian antar variabel, dan  mendapatkan model yang cocok untuk prediksi. SEM memiliki fleksibiltas yang tinggi bagi peneliti untuk menghubungkan teori dan data.</p>
<p>Jika melihat dari kelebihan SEM di atas, lantas apa dan kenapa harus menggunakan metode GeSCA? Pertanyaan super. Kelebihan metode GeSCA seperti dijelaskan sebelumnya merupakan penyempurnaan dari metode yang ada sebelumnya. GeSCA dapat dipakai untuk perhitungan skor dan dapat diterapkan pada sampel yang sangat kecil. GeSCA dapat diterapkan pada model struktural baik yang dasar teorinya sudah mapan sebagai metode analisis konfirmatori atau pada model yang dasar teorinya belum mapan. Selain itu GeSCA dapat juga digunakan pada model struktural yang mencakup indikator refleksif dan atau formatif.</p>
<p>GeSCA hadir sebagai solusi terhadap keterbatasan metode-metode yang ada sebelumnya, yaitu sampel harus besar, data harus terdistribusi normal multivariat, indikator harus refleksif, model harus berdasarkan pada teori, dan adanya <em>indeterminacy</em>. SEM model <em>component base</em> (PLS dan GeSCA) dipilih jika tidak dapat diselesaikan dengan cara <em>covariant base.</em></p>
<p>Nah jika PLS dan GeSCA sama-sama SEM berbasis komponen, lalu apa kelebihan GeSCA dibanding PLS. Nanti ya akan dibahas lebih detail.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>References<br />
</strong>Aprilia, K &amp; Ghozali, I. 2013. <em>Generalized Structured Component Analysis (GeSCA) Model Persamaan Berbasis Komponen.</em> Semarang: Badan Magister Manajemen, Universitas Diponegoro.</p>
<p>Fianto, A. Y. A. 2014. <em>Pengaruh Nilai Islami dan Citra Merek pada Perilaku Pembelian melalui Kepercayaan Merek (Studi pada Mahasiswa Universitas Swasta Islam di Jawa Timur.</em> Desertasi. Malang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/teknik-analisis-data-dengan-metode-gesca/">Teknik Analisis Data dengan Metode GeSCA</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/teknik-analisis-data-dengan-metode-gesca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perumusan Masalah dalam Perancangan Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/perumusan-masalah-dalam-perancangan-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/perumusan-masalah-dalam-perancangan-desain/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 05:56:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[desain komunikasi visual]]></category>
		<category><![CDATA[latar belakang masalah]]></category>
		<category><![CDATA[metodologi desain]]></category>
		<category><![CDATA[observasi pasar]]></category>
		<category><![CDATA[perancangan]]></category>
		<category><![CDATA[perancangan desain]]></category>
		<category><![CDATA[rumusan masalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=892</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah riset baik skala kecil maupun besar, hal paling mendasar yang menentukan kualitas hasil penelitian adalah penentuan rumusan dan batasan masalah.&#160; Sehingga pada akhirnya akan ditemukan sebuah solusi pada kasus permasalahan yang dibahas. Artikel ini lebih difokuskan pada ranah Desain Komunikasi Visual, tepatnya pada mata kuliah Metodologi Desain. Sehingga pada kasus tertentu, kemungkinan ada beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/perumusan-masalah-dalam-perancangan-desain/">Perumusan Masalah dalam Perancangan Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah riset baik skala kecil maupun besar, hal paling mendasar yang menentukan kualitas hasil penelitian adalah penentuan rumusan dan batasan masalah.&nbsp; Sehingga pada akhirnya akan ditemukan sebuah solusi pada kasus permasalahan yang dibahas.<span id="more-892"></span> Artikel ini lebih difokuskan pada ranah Desain Komunikasi Visual, tepatnya pada mata kuliah Metodologi Desain. Sehingga pada kasus tertentu, kemungkinan ada beberapa perbedaan.</p>
<p><strong>Permasalahan Desain</strong><br />
Penemuan permasalahan dan gagasan dalam sebuah perancangan dapat dilakukan melalui beberapa hal : <strong> </strong></p>
<p><strong>1. Observasi Produk di pasar</strong></p>
<ul>
<li>Produk apa saja yang paling diminati konsumen</li>
<li>Produk apa saja yang tidak diminati konsumen</li>
<li>Produk apa saja yang banyak dibutuhkan konsumen</li>
<li>Produk apa saja yang sudah mulai ditinggalkan konsumen</li>
<li>Produk apa saja yang sudah di modifikasi oleh konsumen</li>
</ul>
<p><strong>2. Intepretasi terhadap kebutuhan mendatang</strong></p>
<ul>
<li>Dilakukan dengan cara eksperimentasi dengan cara redesain produk yang (mulai ditinggalkan, dibutuhkan, dan dimodifikasi) konsumen.</li>
<li>Eksperimen membuat produk baru atau belum pernah ada sebelumnya. Dengan cara melihat pola hidup<em> (lifestyle)</em> dan perkembangan teknologi informasi saat ini.</li>
</ul>
<p>Permasalahan-permasalahan di sini adalah permasalahan yang memungkinkan untuk dicarikan solusi dalam sebuah perancangan. Bentuk-bentuk perancangan dalam Desain Komunikasi Visual dapat bermacam-macam, diantaranya :</p>
<ul>
<li>Logo Perusahaan atau organisasi (Corporat ID) beserta aplikasinya</li>
<li>Kemasan produk dan aplikasi grafisnya</li>
<li>Majalah, komik, buku, CD, dan sejenisnya</li>
<li>Iklan elektronik dan non elektronik</li>
<li>Kampanye dalam bentuk spanduk, <em>banner</em>, <em>billboard</em>, brosur, <em>leaflet</em>, dll.</li>
<li>Sarana promosi 3D, contohnya <em>point of purchase</em></li>
<li>Sistem Penanda<em> (sign system)</em></li>
<li>IMC (Integrated Marketing Communication)</li>
</ul>
<p><strong>Merumuskan Permasalahan dalam Perancangan</strong></p>
<ol>
<li>Dalam bentuk kalimat tanya/mendeskripsikan permasalahan.</li>
<li>Jelas dimensi bentuk/obyek, ruang, dan waktunya.</li>
<li>Target haruslah jelas, artinya dapat dicapai pada proses perancangan.</li>
<li>Tercermin dalam judul atau topik.</li>
<li>Tergambarkan dalam latar belakang masalah perancangan/penelitian.</li>
<li>Memungkinkan untuk diurai dalam sub permasalahan yang lebih detail.</li>
</ol>
<p>Berikut ini ada contoh kasus permasalahan perancangan.</p>
<p><strong>Kasus :</strong> <em><br />
Bagaimana merancang logo baru perusahaan yang mampu meningkatkan citra perusahaan pada segmentasi yang lebih luas dalam kurun waktu satu tahun.</em></p>
<p><strong>Permasalahan :</strong></p>
<ol>
<li>Bagaimana pengaruh logo baru terhadap peningkatan citra perusahaan pada target market dan audiens yang dibidik?</li>
<li>Bagaimana pengaruh logo baru terhadap peningkatan order produk dan keuntungan perusahaan?</li>
<li>Bagaimana pengaruh logo baru terhadap kinerja internal dalam hal rasa percaya diri dan kenyamanan karyawan terhadap perusahaan?</li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/perumusan-masalah-dalam-perancangan-desain/">Perumusan Masalah dalam Perancangan Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/perumusan-masalah-dalam-perancangan-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metodologi Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 02:19:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[black boxes]]></category>
		<category><![CDATA[IMC]]></category>
		<category><![CDATA[Integrated Marketing Communication]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[metode riset]]></category>
		<category><![CDATA[metodologi desain]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=821</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam salah satu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, ada salah satu mata kuliah yang menurut saya merupakan roh atau dasar dari semua bidang ilmu yang saya pelajari sejauh ini. Karena mata kuliah ini mengintegrasikan beberapa bidang ilmu sekaligus. Mulai psikologi, marketing, komunikasi, visual, manajemen, dan masih banyak bidang lain sebagai suplemen dari mata kuliah ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metodologi-desain/">Metodologi Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam salah satu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, ada salah satu mata kuliah yang menurut saya merupakan roh atau dasar dari semua bidang ilmu yang saya pelajari sejauh ini. Karena mata kuliah ini mengintegrasikan beberapa bidang ilmu sekaligus. Mulai psikologi, marketing, komunikasi, visual, manajemen, dan masih banyak bidang lain sebagai suplemen dari mata kuliah ini. <span id="more-821"></span>Jadi sangat penting buat saya mengetahui lebih mendalam.</p>
<p>Ada beberapa buku menarik yang bisa dijadikan acuan.</p>
<ol>
<li>Sarwono, Jonathan dan <em>Lubis</em>, <em>Hary</em>. (2007). <em>Metode Riset</em> untuk Desain. Komunikasi  Visual. Yogyakarta: Penerbit Andi</li>
<li><em>Uyung Sulaksana</em>,  “<em>Integrated Marketing Communication</em>”, Pustaka Pelajar, 2003.</li>
</ol>
<p>Sayang buku-buku ini teramat langka untuk didapatkan di pasaran. Nah mata kuliah yang saya maksud adalah <strong>&#8220;METODOLOGI DESAIN&#8221;.</strong></p>
<p>Seperti biasa, saya hanya mereview apa yang sudah saya dapatkan di perkuliahan, barangkali bermanfaat buat pembaca sekalian. Tentu saja tulisan ini masih banyak kelemahan dan alangkah senangnya jika pembaca bisa melengkapi segala suatu yang dianggap masih kurang.</p>
<p>Secara garis besar, seorang desainer adalah sebagai probrom solver, ada beberapa tahapan dasar yang harus dipahami seorang visual artis berakitan dengan bidang desain, yaitu, &#8220;Konsep, Media, Ide, Data, dan Visualisasi.</p>
<p>Berkaitan dengan Konsep dan Ide, ada beberapa metode berfikir dalam merancang desain:</p>
<ol>
<li>Metode berfikir Intuitif</li>
<li>Metode berfikir Logis</li>
<li>Metode berfikir Prosedural</li>
</ol>
<p><strong>Metode berfikir Intuitif</strong></p>
<ol>
<li>Tidak Logis</li>
<li>Tidak rasional/tidak dapat diukur, namun tetap dapat dipahami sebagai kreatifitas</li>
<li>Didasari data, namun tidak detail</li>
<li>Subyektif</li>
<li>Berfikir imagining (kotak hitam/<strong><em>black boxes</em></strong>)</li>
</ol>
<p><strong>Ciri-ciri <em>black boxes</em>:</strong></p>
<ol>
<li>Sasaran desain sesuai dengan perubahan pikiran desainer.</li>
<li>Data menentukan keputusan desainer dan berdasarkan pengalaman desainer</li>
<li>Keputasan cepat dan acak</li>
<li>Leap of Insight -&gt;&gt; menyederhanakan beberapa aspek -&gt;&gt; menipulasi citra</li>
<li>Knowledge yang luas mutlak bagi desainer, referensi, cepat dalam memutuskan, orisinil, dan fleksibel dalam berfikir.</li>
</ol>
<p><strong>Metode berfikir Logis</strong></p>
<ol>
<li>Mengacu pada data/fakta yang terukur dan terarah.</li>
<li>Glass boxes/berfikir reasoning (kotak kaca)</li>
<li>Data berupa dokumentasi, observasi, questioner, interview</li>
</ol>
<p><strong>Ciri-ciri berfikir logis:</strong></p>
<ol>
<li>Analisis dilakukans secara mendalam dan tuntas sebelum pengambilan keputusan</li>
<li>Evaluasi bersifat deskriptif dan dijelaskan secara logis</li>
<li>Strategi perancangan/desain ditetapkan dahulu sejak awal, sebelum proses analisis.</li>
</ol>
<p>Secara garis besar dapat digambarkan dalam diagram seperti di bawah.</p>
<figure style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/diagram.jpg"><img title="Gambar bagan secara garis besar" src="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/diagram.jpg" alt="Gambar bagan secara garis besar" width="400" height="404" /></a><figcaption class="wp-caption-text">Gambar bagan secara garis besar</figcaption></figure>
<p><strong>Metode berfikir Prosedural</strong></p>
<ol>
<li>Meninjau kembali dua cara berfikir sebelumnya</li>
<li>Jika 2 metode sebelumnya kurang fokus/kurang jelas, diperlukan eksplorasi lebih lanjut</li>
<li>Jika diperlukan mengambil keputusan yang baru</li>
<li>Metode Pengorganisasian diri (Self Organizing System)</li>
<li>Variasi metode desain lebih banyak</li>
<li>Intuisi pada akhirnya menjadi sangat penting dan diperlukan saat <em>final decision</em> (keputusan akhir)</li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metodologi-desain/">Metodologi Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi Visual</title>
		<link>https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 11:08:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[desain komunikasi visual]]></category>
		<category><![CDATA[dkv persuasif]]></category>
		<category><![CDATA[ilustrasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[tipografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=812</guid>

					<description><![CDATA[<p>DESAIN KOMUNIKASI VISUAL Seni menyampaikan pesan (arts of communication) dengan menggunakan bahasa rupa (visual language) yang disampaikan melalui media berupa desain. Tujuan: Menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, symbol, ilustrasi, gambar/foto, tipografi/huruf, dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual yang khas. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/">Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi Visual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DESAIN KOMUNIKASI VISUAL</strong></p>
<ul>
<li>Seni menyampaikan pesan (<em>arts of communication</em>) dengan menggunakan bahasa rupa (<em>visual language</em>) yang disampaikan melalui media berupa desain.</li>
<li>Tujuan: Menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang diinginkan.<span id="more-812"></span></li>
<li>Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, symbol, ilustrasi, gambar/foto, tipografi/huruf, dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual yang khas.</li>
<li>Isi pesan disampaikan dengan kreatif dan komunikatif serta mengandung solusi terhadap permasalahan yang hendak dipecahkan. (sosial maupun komersial  ataupun berupa informasi, identifikasi maupun persuasif)</li>
</ul>
<p><strong>PSIKOLOGI</strong></p>
<ul>
<li>Psikologi atau psychology secara etimologi atau asal usul kata berasal dari kata <strong>psycho</strong>, merupakan bahasa Yunani <strong>Psukhe</strong> yang artinya pikiran, jiwa (mind). Sedangkan<strong> logy</strong> berarti ilmu. Makna keseluruhannya adalah ilmu yang mempelajari jiwa dan pikiran.</li>
<li>Psikologi adalah sebuah disiplin ilmu yang bersifat akademis dan terapan yang melingkupi mengenai proses mental dan perilaku.</li>
<li>Bidang yang dipelajari oleh psikolog adalah perihal persepsi, kognisi (proses penyerapan pengetahuan), emosi, kepribadian, dan hubungan interpersonal. Psikologi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, pendidikan, pekerjaan, serta perlakuan terhadap permasalahan kejiwaan manusia.</li>
<li>Beberapa sub bidang psikologi diantaranya psikologi pengembangan sumber daya manusia, psikologi olah raga, psikologi kesehatan, psikologi industri, psikologi media, dan psikologi hukum.</li>
</ul>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/">Psikologi Persepsi dan Desain Komunikasi Visual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/psikologi-persepsi-dan-desain-komunikasi-visual/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Analisa SWOT Bagian Penting Pada Sebuah Riset</title>
		<link>https://www.denbagus.com/analisa-swot-bagian-penting-pada-sebuah-riset/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/analisa-swot-bagian-penting-pada-sebuah-riset/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Sep 2010 06:15:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[kompetitor]]></category>
		<category><![CDATA[metode]]></category>
		<category><![CDATA[opportunity]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<category><![CDATA[strength]]></category>
		<category><![CDATA[SWOT]]></category>
		<category><![CDATA[threat]]></category>
		<category><![CDATA[weakness]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak memasuki bangku kuliah, banyak istilah yang sering terdengar, salah satunya adalah SWOT. Jika pada artikel sebelumnya saya pernah membahas tentang STP kali ini saya sedikit sharing tentang SWOT. Berdasarkan yang saya pelajari hingga sejauh ini, sebagai newbie tentang metode riset dan tetek membengeknya, awalnya masih awam dengan istilah SWOT. Namun pelan-pelan memahami kegunaan dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/analisa-swot-bagian-penting-pada-sebuah-riset/">Analisa SWOT Bagian Penting Pada Sebuah Riset</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak memasuki bangku kuliah, banyak istilah yang sering terdengar, salah satunya adalah SWOT. Jika pada artikel sebelumnya saya pernah membahas tentang <a title="STP" href="http://www.denbagus.com/teori-periklanan-segmentation-targeting-positioning-dalam-pemasaran/" target="_blank">STP</a> kali ini saya sedikit sharing tentang SWOT.<span id="more-780"></span></p>
<p>Berdasarkan yang saya pelajari hingga sejauh ini, sebagai newbie tentang metode riset dan tetek membengeknya, awalnya masih awam dengan istilah SWOT. Namun pelan-pelan memahami kegunaan dari analisa SWOT ini. Karena menurut saya ini bagian penting yang tidak dapat dipisahkan pada  riset apapun.</p>
<p>Okey langsung saja, SWOT sendiri merupakan kependekan dari kata-kata Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat yang jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti, Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman. Metode analisa ini biasanya digunakan sebagai acuan pertimbangan dalam pengambilan keputusan agar dapat melihat berbagai kemungkinan dari sudut yang berbeda.</p>
<p>Lewat analisa SWOT ini akan sangat membantu kita menentukan bagian-bagian penting yang kemungkinan selama ini terabaikan, sehingga bisa menjadi tambahan saat akan diadakan pengambilan keputusan.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya saya akan sedikit memberikan contoh ilustrasi sederhana. Analisa SWOT dari Toko Handphone dan Pulsa.</p>
<p><strong>Strength/Kekuatan</strong></p>
<ol>
<li>Lokasi toko dekat jalan umum, perumahan, dan kampus</li>
<li>Satu-satunya toko handphone</li>
</ol>
<p><strong>Weakness/Kelemahan</strong></p>
<ol>
<li>Kurang inovatif karena tidak ada kompetitor</li>
<li>Toko dibuat apa adanya sehingga tidak menarik</li>
</ol>
<p><strong>Opportunity/Peluang</strong></p>
<ol>
<li>Makin banyak orang punya handphone</li>
<li>Orang Indonesia cenderung konsumtif, suka ganti-ganti handphone</li>
<li>Harga handphone makin murah</li>
<li>Pulsa makin murah</li>
</ol>
<p><strong>Threat/Ancaman</strong></p>
<ol>
<li>Kompetitor baru</li>
<li>Modal kurang sehingga tidak bisa berkembang</li>
<li>Jalan utama akan dipindah, kemungkinan akan sepi karena banyak calon kustomer tidak lewat sana lagi.</li>
</ol>
<p>Dari contoh di atas, kita telah mendapatkan beberapa data yang dapat kita jadikan bahan pertimbangan. Serta akan dikelompokkan mana saja yang bisa menjadi kekuatan dan mana saja yang menjadi kelemahan.</p>
<p>Jika pemiliki ternyata mempunya kenalan banyak distributor pulsa atau hanphone, seharusnya masuk di kategori mana? Nah hal ini seharusnya bisa menjadi nilai tambah buat pemilik toko. Tentu ini bisa dimasukkan sebagai Strength/Kekuatan. Karena dia bisa mendapatkan harga lebih murah dan dapat mengambil keuntungan sedikit lebih tinggi.</p>
<p>Berdasarkan data yang dikumpulkan ada beberapa analisa yang didapatkan. Sehingga toko dapat menentukan apa saja yang dapat dijadikan bahan pertimbangan agar tokonya bisa lebih maju?</p>
<ol>
<li>Agar lebih inovatif, pemilik toko memberi program hadiah. Misalkan beli pulsa senilai 50 ribu ke atas dapat bonus ringtone gratis.</li>
<li>Setiap pembeli yang mengajak temannya dapat poin yang dapat ditukar dengan hadiah</li>
<li>Agar lebih menarik, toko didesain agak beda, lebih eye catching dan bersih.</li>
<li>Tidak hanya menjual handphone dan pulsa, tetapi juga asesoris</li>
<li>Menambah modal</li>
<li>dll</li>
</ol>
<p>Dalam mengumpulkan data dan fakta semua haruslah dalam kondisi real, bukan mengada-ada. Karena akan perpengaruh pada hasil akhir dari analisa yang dibuat.</p>
<p>Ada beberapa hal lain yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam menentukan SWOT suatu produk</p>
<p><strong>Strength</strong></p>
<ul>
<li>Kemasan menarik</li>
<li>Kualitas produk</li>
<li>Relasi</li>
<li>Pengetahuan</li>
</ul>
<p><strong>Weakness</strong></p>
<ul>
<li>Tidak ada pembeda yang signifikan antara produk kita dengan produk kompetitor</li>
<li>Pelayanan buruk</li>
<li>Lokasi terpencil</li>
<li>Tidak jelas target pasarnya</li>
</ul>
<p><strong>Opportunity</strong></p>
<ul>
<li>Life Style (contoh teknologi dan fashion)</li>
<li>Gengsi/prestisius (contoh rumah, mobil)</li>
<li>Ekspansi pasar (contoh buka cabang)</li>
<li>Kebutuhan Hidup (contoh sembako)</li>
</ul>
<p><strong>Threat</strong></p>
<ul>
<li>Modal kompetitor lebih besar</li>
<li>Kompetitor membuka usaha yang sama</li>
<li>Persaingan harga</li>
</ul>
<p>Valid tidaknya hasil ditentukan dengan jujur tidaknya dalam menganalisa. Hasil analisa yang dilakukan beberapa orang bisa jadi beda. Tergantung dari unsur-unsur yang di analisa, sehingga sifatnya adalah subyektif. Dalam menganalisa gunakan metode hitam dan putih, agar lebih mudah membedakan antara suatu kekuatan dan kelemahan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/analisa-swot-bagian-penting-pada-sebuah-riset/">Analisa SWOT Bagian Penting Pada Sebuah Riset</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/analisa-swot-bagian-penting-pada-sebuah-riset/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Non Impact Printing (NIP)</title>
		<link>https://www.denbagus.com/non-impact-printing-nip/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/non-impact-printing-nip/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 13:41:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[acuan cetak]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[distribution]]></category>
		<category><![CDATA[drum]]></category>
		<category><![CDATA[electron]]></category>
		<category><![CDATA[electrophotography]]></category>
		<category><![CDATA[elektrik]]></category>
		<category><![CDATA[elektrofotografi]]></category>
		<category><![CDATA[elektron]]></category>
		<category><![CDATA[elektronik]]></category>
		<category><![CDATA[full color]]></category>
		<category><![CDATA[image processor]]></category>
		<category><![CDATA[inkjet]]></category>
		<category><![CDATA[ionografi]]></category>
		<category><![CDATA[ionography]]></category>
		<category><![CDATA[kertas]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[magnet]]></category>
		<category><![CDATA[magnetography]]></category>
		<category><![CDATA[muatan]]></category>
		<category><![CDATA[NIP]]></category>
		<category><![CDATA[non impact printing]]></category>
		<category><![CDATA[noninductive]]></category>
		<category><![CDATA[noninduktif]]></category>
		<category><![CDATA[order]]></category>
		<category><![CDATA[partikel]]></category>
		<category><![CDATA[peka cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[POD]]></category>
		<category><![CDATA[print on demand]]></category>
		<category><![CDATA[printer]]></category>
		<category><![CDATA[reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[ruang gelap]]></category>
		<category><![CDATA[short runing printing]]></category>
		<category><![CDATA[sistem cetak]]></category>
		<category><![CDATA[spot]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi cetak]]></category>
		<category><![CDATA[tiket]]></category>
		<category><![CDATA[toner]]></category>
		<category><![CDATA[variable]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=614</guid>

					<description><![CDATA[<p>Imрасt аnd Nоn-Imрасt Prіntеrѕ аrе twо саtеgоrіеѕ оf thе рrіntеr. Imрасt printers іnvоlvе mесhаnісаl соmроnеntѕ fоr соnduсtіng рrіntіng. Whіlе іn Nоn-Imрасt printers, no mechanical mоvіng component is used. Imрасt Prіntеrѕ: It іѕ a tуре of рrіntеr that wоrkѕ bу direct соntасt оf аn ink rіbbоn with рареr. Thеѕе printers are tурісаllу loud but remain in [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/non-impact-printing-nip/">Non Impact Printing (NIP)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Imрасt аnd Nоn-Imрасt Prіntеrѕ аrе twо саtеgоrіеѕ оf thе рrіntеr. Imрасt printers іnvоlvе mесhаnісаl соmроnеntѕ fоr соnduсtіng рrіntіng. Whіlе іn Nоn-Imрасt printers, no mechanical mоvіng component is used.</p>
<p><strong>Imрасt Prіntеrѕ:</strong><br />
It іѕ a tуре of рrіntеr that wоrkѕ bу direct соntасt оf аn ink rіbbоn with рареr. Thеѕе printers are tурісаllу loud but remain in uѕе tоdау bесаuѕе of thеіr unique ability tо funсtіоn with multіраrt fоrmѕ. An іmрасt printer hаѕ mесhаnіѕmѕ resembling thоѕе of a tуреwrіtеr.<br />
Exаmрlе оf Imрасt Prіntеrѕ, Dоt-mаtrіx рrіntеrѕ, Dаіѕу-whееl рrіntеrѕ, аnd lіnе рrіntеrѕ.</p>
<p><strong>Non-Impact Prіntеrѕ:</strong><br />
It іѕ a tуре of рrіntеr thаt dоеѕ nоt hіt оr impact a rіbbоn to рrіnt. They uѕеd laser, xеrоgrарhіс, electrostatic, chemical and іnkjеt technologies. Nоn-іmрасt рrіntеrѕ are gеnеrаllу muсh ԛuіеtеr. Thеу аrе lеѕѕ lіkеlу tо need mаіntеnаnсе оr rераіrѕ than еаrlіеr іmрасt рrіntеrѕ.<br />
Exаmрlе of Nоn-Imрасt Printers іѕ Inkjet рrіntеrѕ аnd Laser рrіntеrѕ.</p>
<p><strong>Quіеt Oреrаtіоn</strong><br />
Nоn-іmрасt printers have low noise levels, еѕресіаllу compared to impact mоdеlѕ. The process оf lауіng іnk or tоnеr оntо paper іѕ virtually silent; thе only nоіѕеѕ thаt rеmаіn are the рареr-fееd mесhаnіѕm аnd, fоr lаrgеr mоdеlѕ, cooling fans for electronic соmроnеntѕ. Thе sound of a nоn-іmрасt printer іn ореrаtіоn fits well in a ԛuіеt оffісе ѕеttіng.</p>
<p><strong>Prіnt Quаlіtу</strong><br />
Inkjеt аnd lаѕеr рrіntеrѕ рrоduсе high-resolution іmаgеѕ, including рrоfеѕѕіоnаl-ԛuаlіtу рісturеѕ. A typical laser рrіntеr has a rеѕоlutіоn оf 1,200 dots per іnсh оr bеttеr; іnkjеt printers rаngе frоm 300 to 1,200 dрі. The majority of thermal рrіntеrѕ ѕеrvе аѕ part оf саѕh registers, adding mасhіnеѕ аnd labeling ѕуѕtеmѕ; they print mоnосhrоmе text and graphics tурісаllу аt 203 or 300 dpi.</p>
<p><strong>Thе Buуіng Dесіѕіоn</strong><br />
Choosing a рrіntеr соmеѕ dоwn tо hоw muсh рrіntіng you do, аnd hоw your uѕе іѕ dіѕtrіbutеd. Inkjеt рrіntеrѕ аrе grеаt fоr light printing, but their іnk саrtrіdgеѕ can be costly оn a реr-раgе basis. Lаѕеr printers get сhеареr реr раgе аѕ you mоvе up in рrіnt vоlumе, wіth high-end mасhіnеѕ – аnd thеіr rеlаtіvеlу hugе tоnеr сарасіtу – соѕtіng relatively lіttlе. Bіg mасhіnеѕ tend to mаkе the most ѕеnѕе if they&#8217;re ѕhаrеd, ѕо if it&#8217;s physically рrасtісаl tо hаvе a ѕіnglе lаrgе lаѕеr ѕеrvе multірlе departments, that mіght be a better орtіоn thаn several lоwеr-сарасіtу machines. Don’t forget that you can also always use online printing solutions like <a href="https://www.mycreativeshop.com/templates/brochures">MyCreativeShop.</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/non-impact-printing-nip/">Non Impact Printing (NIP)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/non-impact-printing-nip/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya</title>
		<link>https://www.denbagus.com/jenis-jenis-iklan-berdasarkan-tujuannya/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/jenis-jenis-iklan-berdasarkan-tujuannya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 09:10:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[ad]]></category>
		<category><![CDATA[ads]]></category>
		<category><![CDATA[advertising]]></category>
		<category><![CDATA[commercial]]></category>
		<category><![CDATA[corporate]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[jenis iklan]]></category>
		<category><![CDATA[periklanan]]></category>
		<category><![CDATA[public]]></category>
		<category><![CDATA[service]]></category>
		<category><![CDATA[strategis]]></category>
		<category><![CDATA[taktis]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=563</guid>

					<description><![CDATA[<p>Artikel ini saya share berdasarkan materi kuliah yang saya dapatkan, mohon maaf jika ada kekurangannya, jika ada yg perlu ditambahkan atau koreksi saya akan sangat berterima kasih. Berdasarkan tujuannya, iklan dibagi menjadi Comercial Advertising, Corporate Advertising, Public Service Advertising. Comercial Advertising Iklan jenis ini bertujuan untuk mendukung kampanye pemasaran suatu produk atau jasa. Iklan ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/jenis-jenis-iklan-berdasarkan-tujuannya/">Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini saya share berdasarkan materi kuliah yang saya dapatkan, mohon maaf jika ada kekurangannya, jika ada yg perlu ditambahkan atau koreksi saya akan sangat berterima kasih.</p>
<p>Berdasarkan tujuannya, iklan dibagi menjadi <em>Comercial Advertising, Corporate Advertising, Public Service Advertising. <span id="more-563"></span></em></p>
<ol>
<li><em><strong>Comercial Advertising</strong></em><br />
Iklan jenis ini bertujuan untuk mendukung kampanye pemasaran suatu produk atau jasa. Iklan ini terbagi menjadi dua:</p>
<p><strong>a. Iklan Strategis</strong><br />
Digunakan untuk membangun merek. Hal itu dilakukan dengan mengkomunikasikan nilai merek dan manfaat produk. Perhatian utama dalam jangka panjang adalah memposisikan merek serta membangun pangsa pikiran dan pangsa pasar. Iklan ini mengundang konsumen untuk menikmati hubungan dengan merek serta meyakinkan bahwa merek ini ada bagi para pengguna.</p>
<p><strong>b. Iklan Taktis</strong><br />
Memiliki tujuan yang mendesak. Iklan ini dirancang untuk mendorong konsumen agar segera melakukan kontak dengan merek tertentu. Pada umumnya iklan ini memberikan penawaran khusus jangka pendek yang memacu konsumen memberikan respon pada hari yang sama.<br />
<em><strong><br />
</strong></em></li>
<li><em><strong>Corporate Advertising</strong></em><br />
Iklan yang bertujuan membangun citra suatu perusahaan yang pada akhirnya diharapkan juga membangun citra positif produk-produk atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut. Iklan Corporate akan efektif bila didukung oleh fakta yang kuat dan relevan dengan masyarakat, mempunyai nilai berita dan biasanya selalu dikaitkan dengan kegiatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Iklan Corporate merupakan bentuk lain dari iklan strategis ketika sebuah perusahaan melakukan kampanye untuk mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada Public.</p>
<p>Iklan Corporate sering kali berbicara tentang nilai-nilai warisan perusahaan, komitmen perusahaan kepada pengawasan mutu, peluncuran merek dagang atau logo perusahaan yang baru atau mengkomunikasikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar.<br />
<em><strong></strong></em></li>
<li><em><strong>Public Service Advertising</strong></em><br />
Iklan Layanan Masyarakat merupakan bagian dari kampanye social marketing yang bertujuan menjual gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan masyarakat. Biasanya pesan Iklan Layanan Masyarakat berupa ajakan, pernyataan atau himbauan kepada masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan demi kepentingan umum atau merubah perilaku yang “tidak baik” supaya menjadi lebih baik, misalnya masalah kebersihan lingkungan, mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat, anti narkoba dan sebagainya.</li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/jenis-jenis-iklan-berdasarkan-tujuannya/">Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/jenis-jenis-iklan-berdasarkan-tujuannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>10</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cahaya Buatan (Artificial Lighting) dalam Fotografi</title>
		<link>https://www.denbagus.com/cahaya-buatan-articial-lighting-dalam-fotografi/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/cahaya-buatan-articial-lighting-dalam-fotografi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 09:57:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[artificial]]></category>
		<category><![CDATA[barndoor]]></category>
		<category><![CDATA[bouncing]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[flash]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[honeycomb]]></category>
		<category><![CDATA[lampu]]></category>
		<category><![CDATA[lembut]]></category>
		<category><![CDATA[lighting]]></category>
		<category><![CDATA[sinar]]></category>
		<category><![CDATA[snoot]]></category>
		<category><![CDATA[softbox]]></category>
		<category><![CDATA[standard reflector]]></category>
		<category><![CDATA[strobist]]></category>
		<category><![CDATA[studio fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[umbrella]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=533</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi foto digital terus berkembang, berbagai alat bantu fotografipun bermacam-macam pula bentuk dan fungsinya. Dalam teknologi digital seperti sekarang, dibutuhkan segala hal yang praktis dinamis tapi bagus. Salah satunya adalah peralatan-peralatan fotografi, dalam hal ini adalah lampu untuk menghasilkan cahaya/lighting buatan (artificial lighting). Saat pertama belajar fotografi, memang sering dibingungkan dengan berbagai peralatan lampu studio. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/cahaya-buatan-articial-lighting-dalam-fotografi/">Cahaya Buatan (Artificial Lighting) dalam Fotografi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Teknologi foto digital terus berkembang, berbagai alat bantu fotografipun bermacam-macam pula bentuk dan fungsinya. Dalam teknologi digital seperti sekarang, dibutuhkan segala hal yang praktis dinamis tapi bagus.<span id="more-533"></span> Salah satunya adalah peralatan-peralatan fotografi, dalam hal ini adalah lampu untuk menghasilkan cahaya/lighting buatan <em>(artificial lighting)</em>. Saat pertama belajar fotografi, memang sering dibingungkan dengan berbagai peralatan lampu studio. Di sini saya akan sedikit berbagi membahas tentang macam-macam lampu untuk menghasilkan cahaya buatan tersebut. Baik untuk <em>indoor</em> fotografi maupun <em>outdoor</em> fotografi.</p>
<p>Dewasa ini, untuk menghasilkan cahaya buatan tidak selalu harus menggunakan lampu studio dengan harga yang mahal,<em> strobist </em>sebagai suatu teknik bermain cahaya dengan menggunakan cahaya buatan dari lampu kilat (flash) adalah alternatif yang murah. Meski dengan hasil yang tidak sebagus lampu studio, terbukti teknik ini banyak sekali digemari. Hanya berbekal 2 flash atau lebih sudah bisa membuat cahaya buatan yang menarik, tergantung mengkomposisikan dan pengaturan intensitas cahayanya saja.</p>
<p>Bahkan sekarang banyak dibuat oleh perusahaan-perusahaan cina alat bantu menyerupai asesoris lampu studio besar semacam, barndoor, honeycomb, standard reflector, snoot, softbox, dan lain-lain namun untuk lampu flash, sehingga kita bisa lebih banyak berkreasi dalam menghasilkan cahaya buatan dari lampu flash ini. Berikut ini sedikit saya bahas tentang asesoris dan macam-macam jenis lampu dan istilahnya.</p>
<ol>
<li><strong>Modelling Lamp</strong><br />
Lampu untuk menghasilkan cahaya yang membantu kita untuk menentukan, melihat arah jatuhnya bayangan obyek. Biasanya hanya ada di lampu studio. Menyala sebelum lampu digunakan/di<em> trigger</em>.</p>
<p><figure id="attachment_534" aria-describedby="caption-attachment-534" style="width: 188px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/modellinglamp.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-534" title="Modelling Lamp" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/modellinglamp.jpg" alt="Modelling Lamp" width="188" height="228"></a><figcaption id="caption-attachment-534" class="wp-caption-text">Modelling Lamp</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Standar Reflektor</strong><br />
Berfungsi mengarahkan sinar ke obyek. Cahaya yang dihasilkan sangat kuat dengan sudut pancaran yang terbatas.</p>
<p><figure id="attachment_535" aria-describedby="caption-attachment-535" style="width: 184px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/standard_refector.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-535" title="Standard Reflector" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/standard_refector.jpg" alt="Standard Reflector" width="184" height="187"></a><figcaption id="caption-attachment-535" class="wp-caption-text">Standard Reflector</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Payung Pemantul</strong><br />
Melunakkan cahaya yang datang ke obyek agar lebih merata. Biasanya sinar yang datang ke obyek terlalu kuat dan menghasilkan bayangan pekat. Sifat cahaya yang dihasilkan kontras masih tinggi, kuat sinar berkurang 1-2 stop, sudut pancar cahaya luas.</p>
<p><figure id="attachment_536" aria-describedby="caption-attachment-536" style="width: 143px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/bouncing_umbrella.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-536" title="Bouncing Umbrella" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/bouncing_umbrella.jpg" alt="Bouncing Umbrella" width="143" height="200"></a><figcaption id="caption-attachment-536" class="wp-caption-text">Bouncing Umbrella</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Payung Transparan</strong><br />
Memiliki fungsi sama dengan payung pemantul, hanya saja cahaya yang dihasilkan lebih lunak, merata, dan lembut. Kuat sinar turun 2-3 stop.</p>
<p><figure id="attachment_537" aria-describedby="caption-attachment-537" style="width: 193px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/transparent_umbrella.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-537" title="Payung Transparan" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/transparent_umbrella.jpg" alt="Payung Transparan" width="193" height="200"></a><figcaption id="caption-attachment-537" class="wp-caption-text">Payung Transparan</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Softbox</strong><br />
Memiliki sifat melunakkan cahaya, merata, dan menghilangkan bayangan. Kuat sinar berkurang 3-4 stop, pancaran luas.</p>
<p><figure id="attachment_539" aria-describedby="caption-attachment-539" style="width: 200px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/softbox.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-539" title="Softbox" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/softbox.jpg" alt="Softbox" width="200" height="178"></a><figcaption id="caption-attachment-539" class="wp-caption-text">Contoh softbox untuk flash.</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Honeycomb</strong><br />
Penyinaran lebih terarah, memusat, simetris, dan sudut penyinaran dipersempit. Biasanya digunakan untuk penyinaran pada bagian-bagian tertentu, intensitas cahaya yang dihasilkan lumayan kontras tergantung ukuran honeycomb (lubang-lubang tawon). Jika ingin melihat hasil dan perbedaan dari macam-macam honeycomb bisa mereferensi dari blog <a title="Honeycomb" href="http://nickodarwis.multiply.com/journal/item/25" target="_blank" rel="noopener">&#8216;Om Nicko&#8217;</a>.</p>
<p><figure id="attachment_540" aria-describedby="caption-attachment-540" style="width: 184px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/honey_comb.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-540" title="Honeycomb" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/honey_comb.jpg" alt="Honeycomb" width="184" height="200"></a><figcaption id="caption-attachment-540" class="wp-caption-text">Honeycomb</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Snoot</strong><br />
Hampir sama dengan honeycomb, namun sifat cahaya yang dihasilkan lebih sempit dan kecil. Biasanya digunakan untuk <em>hairlight</em>. Kuat sinar turun 5-6 stop. Cocok untuk memunculkan karakter obyek.</p>
<p><figure id="attachment_541" aria-describedby="caption-attachment-541" style="width: 200px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/snoot.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-541" title="Snoot" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/snoot.jpg" alt="Snoot" width="200" height="200" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/snoot.jpg 200w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/snoot-150x150.jpg 150w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" /></a><figcaption id="caption-attachment-541" class="wp-caption-text">Snoot yang dilengkapi dengan Gel/Filter Warna</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Barndoor</strong><br />
Mengarahkan sudut pencahayaan agar lebih terarah pada bagian obyek yang diinginkan dan tidak menggangu bagian lain yang tidak ingin ditonjolkan/diperlihatkan. Fungsi lain untuk menghilangkan efek <em>flare/fog</em> saat lampu berhadapan dengan kamera.</p>
<p><figure id="attachment_542" aria-describedby="caption-attachment-542" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/barndoor.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-542" title="Barndoor" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/barndoor.jpg" alt="Barndoor" width="300" height="240"></a><figcaption id="caption-attachment-542" class="wp-caption-text">Barndoor dikombinasikan dengan honeycomb dan gel/filter</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></ol>
<p>Sebagian besar peralatan tersebut digunakan untuk lampu studio. Namun ada juga yang dibuat khusus untuk <em>strobist</em> mania, ukuran lebih kecil dan digunakan untuk flash/lampu kilat dengan fungsi yang sama layaknya lampu studio profesional.</p>
<figure id="attachment_543" aria-describedby="caption-attachment-543" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/mini_lighting.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-543" title="Mini Lighting" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/mini_lighting-300x253.jpg" alt="Mini Lighting" width="300" height="253" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/mini_lighting-300x253.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/mini_lighting.jpg 500w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-543" class="wp-caption-text">Mini Lighting yang cocok untuk strobist mania</figcaption></figure>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
Semoga bermanfaat.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/cahaya-buatan-articial-lighting-dalam-fotografi/">Cahaya Buatan (Artificial Lighting) dalam Fotografi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/cahaya-buatan-articial-lighting-dalam-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teknologi Cetak Konvensional</title>
		<link>https://www.denbagus.com/teknologi-cetak-konvensional/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/teknologi-cetak-konvensional/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 05:31:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[acuan cetak]]></category>
		<category><![CDATA[cetak]]></category>
		<category><![CDATA[flexografi]]></category>
		<category><![CDATA[konvensional]]></category>
		<category><![CDATA[letterpress]]></category>
		<category><![CDATA[lithografi]]></category>
		<category><![CDATA[permanen]]></category>
		<category><![CDATA[rotografi]]></category>
		<category><![CDATA[screen printing]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=494</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi berjalan begitu cepat. Dalam dunia grafika pun mengalami perkembangan yang cukup pesat, teknologi cetak konvensional dengan acuan cetak permanenpun kini sudah mencapai tahapan yang luar biasa. Sebagai pendampingnya, teknologi cetak Non Impact Printing (NIP) juga berkembang begitu cepat. Tidak jadi masalah teknologi cetak mana yang akan kita pakai. Sebab [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/teknologi-cetak-konvensional/">Teknologi Cetak Konvensional</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi berjalan begitu cepat. Dalam dunia grafika pun mengalami perkembangan yang cukup pesat, teknologi cetak konvensional dengan acuan cetak permanenpun kini sudah mencapai tahapan yang luar biasa. <span id="more-494"></span>Sebagai pendampingnya, teknologi cetak <em>Non Impact Printing (NIP)</em> juga berkembang begitu cepat.</p>
<p>Tidak jadi masalah teknologi cetak mana yang akan kita pakai. Sebab keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Karakteristik, kebutuhan, dan praktis adalah hal pokok yang membedakan kedua teknologi cetak tersebut.</p>
<p>Sebelumnya sudah pernah sedikit saya singgung <a title="Teknologi Grafika" href="http://www.denbagus.com/teknologi-grafika/" target="_blank">tentang teknologi</a> cetak secara garis besar. Kali ini kita akan sedikit membahas lebih dalam masing-masing teknologi cetak konvensional tersebut. Sekedar merefresh artikel sebelumnya, teknologi cetak konvensional dibagi menjadi beberapa macam, yaitu Teknologi Cetak Tinggi <em>(Letterpress/Flexography)</em>, Cetak Datar<em> (Lithography)</em>, Cetak Dalam <em>(Rotography)</em>, Cetak Saring <em>(Screen Printing). </em>Sudah kita pelajari pula perbedaan paling mendasar dari masing-masing teknologi cetak tersebut yaitu pada acuan cetaknya.<em> </em></p>
<ol>
<li><strong>Teknologi Cetak Tinggi<em> (Letterpress/Flexography)</em></strong><br />
Teknologi cetak tinggi sebenarnya dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu <em>Letter Press</em> dan <em>Flexography</em>. Metode mencetaknya juga memiliki kemiripan. Pembeda yang paling jelas dari keduanya terletak pada bahan acuan cetaknya. Letter press acuan cetak terbuat dari bahan keras atau logam timah, sedangkan <em>Flexography</em> acuan cetak terbuat dari bahan lunak semacam karet/ plastik <em>Photopolymer</em> ( bahan peka cahaya dan lunak ).Pada teknologi cetak tinggi ada beberapa istilah yang dipakai :<br />
1. <em>Platen Press/Degel Press,</em> bertemunya dua bidang persegi panjang pada proses cetak.<br />
2. <em>Cylinder Press,</em> bertemunya bidang datar dan silinder cetak.<br />
3.<em> Rotary Press,</em> pertemuan dua buah Cylender/ lebih dalam pelaksanaan cetaknya.<br />
4. <em>Rotary Web,</em> sama dengan <em>Rotary Press</em> tetapi kertas cetaknya berupa rol/ gulungan.</p>
<p>Untuk lebih jelas perbedaannya, perhatikan gambar berikut.</p>
<p><figure id="attachment_496" aria-describedby="caption-attachment-496" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/letterpress.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-496" title="Letter Press" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/letterpress-300x118.jpg" alt="Letter Press" width="300" height="118" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/letterpress-300x118.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/letterpress.jpg 477w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-496" class="wp-caption-text">(1) Plater Press, (2) Cylinder Press, (3) Rotary Press</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Teknologi Cetak Datar<em> (Lithography)</em></strong><br />
Dikatakan cetak datar karena acuan cetak  pada permukaan area gambar tidak terlihat/datar. Acuan cetak sama tinggi dengan bidang gambar. Istilah lain yang paling populer di masyarakat adalah Cetak Offset. Cetak offset bisa berupa lembaran (Sheet Fed) atau berupa gulungan (Web Fed). Masing-masing memiliki kelebihan. Terutama untuk yang Web Fed mampu mencetak dalam kapasistas dengan jumlah lebih besar, biasanya untuk pembuatan surat kabar, majalah yang memiliki oplah besar. Untuk cetak sheet lebih banyak digunakan di perusahaan kecil menengah, kebanyakan untuk cetakan yang tidak terlalu besar, seperti brosur, poster, leaflet, dan lain-lain.|</li>
<li><strong>Teknologi Cetak Dalam (Rotography)</strong><br />
Disebut cetak dalam karena bagian yang mencetak letaknya lebih rendah dari acuan cetaknya. Biasa disebut juga dengan teknologi cetak <em>rotography, intaglio, photogravure</em>. Hasil cetakannya, biasanya dapat dirasakan menebal di permukaan. Kebalikan dari cetak letter press yang cenderung membentuk permukaan di bagian belakang cetakan.</p>
<p><figure id="attachment_499" aria-describedby="caption-attachment-499" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-499" title="Skema Cetak Rotography" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography-300x113.jpg" alt="" width="300" height="113" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography-300x113.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography.jpg 318w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-499" class="wp-caption-text">Bagian pada skema cetak Rotography</figcaption></figure></li>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<figure id="attachment_500" aria-describedby="caption-attachment-500" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography1.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-500" title="Acuan Rotogravure" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography1-300x140.jpg" alt="Acuan Cetak Rotogravure" width="300" height="140" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography1-300x140.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography1.jpg 315w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-500" class="wp-caption-text">Acuan Cetak Rotogravure</figcaption></figure>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em>Kelebihan cetak rotogravure adalah kapasitas cetak yang sangat besar. Misal untuk produk kemasan fleksibel <em>snack, shampoo</em>.<br />
Hasil cetakan juga bisa berupa lembaran<em> (Sheet Fed)</em> maupun Rol/gulungan <em>(Web Fed)</em>.</p>
<figure id="attachment_501" aria-describedby="caption-attachment-501" style="width: 261px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography2.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-501" title="Contoh Acuan Cetak dan Hasil Cetakan" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/rotography2.jpg" alt="Contoh Acuan Cetak dan Hasil Cetakan" width="261" height="176" /></a><figcaption id="caption-attachment-501" class="wp-caption-text">Contoh Acuan Cetak dan Hasil Cetakan</figcaption></figure>
<p><em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em><br />
<em> </em></p>
<li><strong>Teknologi Cetak Saring (Screen Printing)</strong><br />
Disebut teknologi cetak saring, karena acuan cetaknya berupa saringan (screen). Yang paling sederhana adalah cetak sablon. Kelebihan dari cetak saring bisa mencetak di segala bentuk media, datar, lengkung, atau bahkan tidak rata. Cetakan juga bisa berupa rol atau lembaran. Cara mencetaknya merupakan dorong langsung, artinya selama proses mencetak berlangsung tinta akan didorong langsung melalui pori – pori yang telah dibuat untuk melewatkan tinta cetak langsung ke media cetak yang dipergunakan.</p>
<p><figure id="attachment_502" aria-describedby="caption-attachment-502" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/screen_printing.jpg"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-502" title="Screen Printing" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/screen_printing-300x154.jpg" alt="Screen Printing" width="300" height="154" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/screen_printing-300x154.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/04/screen_printing.jpg 332w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-502" class="wp-caption-text">Cetak Sablon (Screen Printing)</figcaption></figure></li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/teknologi-cetak-konvensional/">Teknologi Cetak Konvensional</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/teknologi-cetak-konvensional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>14</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Positioning Sebagai Pendukung Pembentukan Citra Produk</title>
		<link>https://www.denbagus.com/positioning-sebagai-pendukung-pembentukan-citra-produk/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/positioning-sebagai-pendukung-pembentukan-citra-produk/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 10:16:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kelas]]></category>
		<category><![CDATA[kompetitor]]></category>
		<category><![CDATA[pesaing]]></category>
		<category><![CDATA[positioning]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[re-positioning]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=472</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada artikel terdahulu telah dijelaskan tentang pengertian Positioning secara umum. Sekarang akan sedikit membahas cara-cara membangun Positioning suatu produk. Berikut cara-cara yang bisa dijadikan acuan: Penonjolan Karakteristik Produk Pengiklan bisa memilih karakter apa paling menonjol pada produk mereka. Contoh adalah teh botol tidak diposisikan sebagai minuman teh panas, namun diposisikan sebagai minuman ringan yang sama [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/positioning-sebagai-pendukung-pembentukan-citra-produk/">Positioning Sebagai Pendukung Pembentukan Citra Produk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada <a href="http://www.denbagus.com/teori-periklanan-positioning/">artikel terdahulu </a>telah dijelaskan tentang pengertian <em>Positioning</em> secara umum. Sekarang akan sedikit membahas cara-cara membangun <em>Positioning</em> suatu produk.<span id="more-472"></span></p>
<p>Berikut cara-cara yang bisa dijadikan acuan:</p>
<ol>
<li><strong>Penonjolan Karakteristik Produk</strong><br />
Pengiklan bisa memilih karakter apa paling menonjol pada produk mereka. Contoh adalah teh botol tidak diposisikan sebagai minuman teh panas, namun diposisikan sebagai minuman ringan yang sama dengan cola. Sehingga teh botol bukanlah teh yang harus diminum pada saat minum teh di sore hari, tetapi minuman tepat untuk perjalanan atau sebagai penutup setelah makan.</li>
<li><strong>Penonjolan Harga</strong><br />
Contoh operator telepon A dengan penawaran koneksi <em>Blackberry(BB) </em>dengan harga kisaran Rp. 100.000,- perbulan. Kemudian operator B juga mencoba menawarkan dengan harga yang lebih murah, di harga kisaran Rp. 80.000,- perbulan. Dengan demikian operator B mengklaim hingga saat ini program BB merekalah yang termurah.</li>
<li><strong>Penonjolan Fungsi/Kegunaan</strong><br />
Suatu produk dikaitkan dengan kegunaan khusus, meskipun pada dasarnya memiliki fungsi yang sama.<br />
Contoh produk obat sakit kepala A mengklaim obatnya bisa segera menyembuhkan sakit kepala seketika. Produk B juga mengklaim hal yang sama, namun mereka menambahkan khasiat-khasiat  lainnya. Padahal jika dilihat dari kandungan obatnya memiliki kesamaan.</li>
<li><strong>Positioning menurut pemakai</strong><br />
Produk yang sangat tua menggunakan strategi ini adalah sabun Lux. Dengan memposisikan diri bahwa produk ini dipakai oleh bintang bintang film kondang.<br />
Produk lain yang menggunakan strategi ini adalah produk-produk kosmetik, oli, dan beberapa produk mobil. Setiap public figure yang dipilih membawa image sendiri sesuai dengan kondisinya.</li>
<li><strong>Positioning menurut kelas produk</strong><br />
Beberapa produk yang &#8220;terjepit&#8221; perlu melakukan keputusan positioning yang kritis dengan mengaitkannya pada kelas produk yang bersangkutan. Misalnya, produk  7-Up terjepit di antara produk minuman cola Pepsi dan Coca-Cola, sehingga ia menggunakan slogan  <em>&#8220;7-Up is the uncola drink. But with a  better taste&#8221; </em>untuk memposisikan dirinya.</li>
<li><strong>Positioning dengan menggunakan simbol-simbol budaya</strong><br />
Simbol yang dijadikan identifikasi ini memiliki arti penting bagi konsumen. Simbol ini tidak digunakan oleh posisioning pesaing. Misalnya produk Mustika Ratu diposisikan sebagai produk yang mewarisi budaya Kraton di Jawa.</li>
<li><strong>Positioning langsung terhadap pesaing</strong><br />
Di Amerika perusahaan persewaan mobil Avis secara langsung memposisikan diri dengan pesaingnya, yaitu Hertz dengan slogan <em>&#8220;We are number two, so we try harder&#8221;.</em> Strategi ini berhasil melekat dalam benak konsumen. Banyak orang memilih Avis yang  lebih rendah (underdog), tetapi memiliki semangat kerja yang hebat.</li>
</ol>
<p><strong>Re-positioning </strong></p>
<p>Merupakan kegiatan yang melibatkan penggantian identitas produk , jalinan kompetitor yang ada dan mengubah citra yang ada di benak konsumen.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/positioning-sebagai-pendukung-pembentukan-citra-produk/">Positioning Sebagai Pendukung Pembentukan Citra Produk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/positioning-sebagai-pendukung-pembentukan-citra-produk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
