HTC Wildfire S – Alternatif Smartphone Murah Berkualitas

HTC? HP China ya? HTC HP lokal ya?, HTC ??????? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari beberapa karyawan toko HP yang saya kunjungi saat saya mencari asesoris HTC saya. HTC memang di produksi masal di dataran Cina. Namun produk HTC di Indonesia hanya dikenal oleh beberapa kalangan tertentu saja. Bahkan merek HTC lebih mirip dengan merek lokal HiTech (ht) mobile.

HTC Wildfire S
HTC Wildfire S

Sejak diluncurkannya OS Android, makin banyak vendor kelas dunia yang memproduksi piranti cerdasnya dengan menggunakan OS ini. Dukungan aplikasi yang semakin banyak lewat Android Market membuat device Android laku keras layaknya kacang goreng. Apalagi beberapa vendor besar sudah mulai melirik segmen pasar yang lebih luas, membuat persaingan di ranah smartphone makin seru.

Salah satunya adalah HTC Wildfire S (WFS). Handset ini adalah penerus dari pendahulunya HTC Wildfire. Tidak usah saya jelaskan secara rinci tentang spesifikasi kedua device ini. Saya hanya ingin berbagi berdasarkan pengalaman menggunakan WFS serta membandingkan dengan handset android saya sebelumnya (SE X8).

Pertimbangan awal saya membeli handset ini adalah bentuknya yang cantik. Buat saya tampilan tetap menjadi prioritas. Namun selain penampilan yang memang menawan, sejak dulu saya tahu kualitas produk HTC ini. Sehingga setelah release dan mencoba mencari informasi akhirnya saya putuskan WFS ini menjadi handset Android kedua saya. Kenapa kok membeli WFS bukan Desire atau malah Sensation?

Jelas pertimbangan saya dari sisi harga. Sekaligus ingin membadingkan handset murah tapi bukan murahan. Bener murah nggak sih? Relatif, namun dengan harga awal yang dibandrol dikisaran nyaris menyentuh angka 3 juta, mungkin harga tersebut terbilang mahal. Tapi tengok harga sekarang. Sudah menyentuh harga 2 jutaan.

Lantas apa kelebihan WFS ini dibanding X8 atau Galaxy Mini? Bagus mana?
Pertanyaan di atas sering sekali muncul tatkala seseorang ingin membeli handphone, lalu apa jawabnya.
Sebelum saya menjawabnya, pasti saya akan bertanya lebih dulu. Anda ingin handphone yang seperti apa?

  • Perlukah penampilan alias desain?
  • Perlukah gengsi/prestisius?
  • Atau sekedar untuk telepon dan sms saja?
  • Ataukah mau bersosial media?
  • Atau perlu pengalaman multimedia yang dahsyat?
  • Bla bla bla …

Intinya buat saya tidak ada yang lebih bagus. Tetapi melihat dari sisi kebutuhan serta mana yang lebih disukai. Jika membandingkan ketiga handset di atas. Jujur secara fisik desain dan built in body, HTC jelas lebih unggul. Tapi dari sisi hardware, WFS dibanding dengan Galaxy Mini nyaris sama. Lalu kenapa harga WFS lebih mahal dibanding Galaxy mini padahal spesifikasi hampir sama. Nah, kalau ini jawabnya bisa bermacam-macam. Dilihat dari sisi segmentasi pasar jelas berbeda. Meski sama-sama handset jenis low end tetap saja segmentasi berbeda. Seperti saya sebutkan di paragraf awal, di Indonesia jelas orang lebih mengenal Samsung daripada HTC. Karena memang sejak awal produk HTC distribusi di Indonesia sangat terbatas, dan hanya ‘orang-orang’ tertentu saja yang menggunakannya. Namun sekarang perlahan HTC telah memperluas segmentasi pasarnya. Lalu bagaimana after salenya? kalau mau dijual lagi? Karena HTC lebih eksklusif/segmented, tentu penjualannya pun sedikit eksklusif, artinya hanya orang-orang yang tahu dan mengerti produk HTC sajalah yang mau membelinya.

Oke, cukup sudah panjang lebar soal perbandingan handset. Sekarang saatnya saya ingin berbagi tentang WFS ini. Soal desain sudah saya singgung di atas.

Nah soal spesifikasi lengkap bisa dilihat di GSMARENA.

Sejauh pengalaman saya menggunakan WFS, awal-awal ok banget. Namun setelah digunakan online beberapa lama tiba-tiba beberapa aplikasi tidak bisa dibuka. Bukan karena error atau rusak, tetapi karena keterbatasan memory internal. Meskipun spesifikasi menunjukkan memori 512MB ROM dan RAM, praktiknya memory internal terkuras cukup banyak untuk aplikasi-aplikasi yang menurut saya tidak penting.

Sehingga saat kita meng-install aplikasi baru biasanya memori akan berkurang drastis. Belum lagi cache setiap aplikasi yang terbuka. Memori akan terkuras habis. Meskipun beberapa aplikasi bisa App2SD, tidak semuanya bisa dipindahkan. Apalagi kebanyakan untuk handset low and HTC saat pertama release, bootloader di lock (S-ON). Sehingga user kesulitan melakukan rooting. Solusi satu-satunya agar bisa rooting harus menggunakan perangkat tambahan (XTC CLIP) yang harganya lebih mahal dari WFS. Tentu ini tidak mengenakkan. Sehingga dari sisi pengguna tidak bisa melakukan eksplorasi lebih jauh terhadap device ini.

Selain kendala di atas, saya lebih menyoroti sisi kamera. Kualitas kamera terbilang cukup bagus untuk penerangan merata, namun disaat pencahayaan tidak merata, meteringnya buruk, sehingga hasil foto kadang terlampau terang atau terlalu gelap. Sedangkan kualitas warna untuk ukuran kamera 5mp sudah lumayan bagus.

Selain kamera serta performance keseluruhan, dari sisi kualitas audio lumayan bagus. Saya membandingkan dengan HP besutan Sony Ericsson yang seri W (W902). Nah sekarang multimedia dari sisi videonya. Karena keterbatasan memori serta prosesor, untuk memainkan video kualitas HD jelas tidak mungkin. Jika dipaksakan gambar dan suara tidak singkron serta gerakan terlihat patah-patah.

Sementara itu saja dulu penilaian saya terhadap WFS. Kesimpulannya, sebelum handset ini bisa di rooting. Bijak-bijaklah memilih aplikasi dan sering-sering melakukan bersih-bersih, jika tidak kita akan dibuat kesal karena buruknya manajemen memori yang menyebabkan aplikasi tidak jalan. Mau pilih yang mana? terserah Anda … (^_^).

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *