<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menulis Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/menulis/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Apr 2017 07:34:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</title>
		<link>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2017 07:33:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Blank!]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[old]]></category>
		<category><![CDATA[time frame]]></category>
		<category><![CDATA[young]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR) Ngomong apa lagi sih ini. Hehehhe&#8230; memang kok ilmu itu datang dari mana saja. Nah konsep ini saya dapat dari seorang Doktor sahabat saya. Okay, gak akan panjang lebar. Apa sih konsep FOLDING TIME FRAME ini. Simpel sebenarnya. Kalau kita membuat sebuah time frame, dari masa ANAK-ANAK [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/">Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</h4>
<p><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg"><img loading="lazy" class="alignleft size-full wp-image-2571" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg" alt="" height="250" width="600" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n.jpg 600w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2017/04/17760104_10208671866016359_2062756466836644732_n-300x125.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a>Ngomong apa lagi sih ini. Hehehhe&#8230; memang kok ilmu itu datang dari mana saja. Nah konsep ini saya dapat dari seorang Doktor sahabat saya.</p>
<p>Okay, gak akan panjang lebar. Apa sih konsep FOLDING TIME FRAME ini. Simpel sebenarnya. Kalau kita membuat sebuah time frame, dari masa ANAK-ANAK sampai pada akhirnya TUA (lihat gambar) kemudian lipat time frame tersebut tepat di tengah.</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Apa yang terjadi. Tepat .. Kamu memang luar biasa .. hehehehe<br />
Yang terjadi adalah saat dilipat posisi TUA akan kembali ke ANAK-ANAK (ujung bagian TUA berhimpit dengan ujung ANAK-ANAK).</p>
<p>Apa maknanya, beliau Dr. <a class="profileLink" href="https://www.facebook.com/achmadyanu" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1229957187" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Achmad Yanu</a> menjelaskan lebih lanjut, dan sepertinya kita sepakat. Bahwa saat dilipat perilaku manusia saat usia mulai TUA, perilaku manusia cenderung akan kembali seperti ANAK-ANAK.</p>
<p>Tapi apakah mutlak seperti itu, tentu tidak. Ada cara supaya kita tidak &#8216;menjadi TUA.&#8217; Ah ada-ada saja. Manusia pasti tua.</p>
<p>Ada pepatah, fisik boleh TUA, tapi semangat tetap MUDA. Caranya gimana, ya jangan biarkan otak, pikiran, fisik, menjadi seperti ANAK-ANAK. Asah terus, cari ilmu, belajar terus. Biar daya ingat, mental, pikiran tetap terlatih dan tetap SMART.</p>
<p>Selanjutnya konse FOLDING TIME FRAME ini sebenarnya ada makna lebih dalam. Kami sebagai MUSLIM memahami konsep AWAL dan AKHIR, artinya saat lipatan tadi kita amati, di ujung sama-sama kita bisa melihat satu kesatuan antara AWAL (ANAK-ANAK) dan AKHIR (TUA). Kita dilahirkan yang pada akhirnya kita juga akan berakhir (MATI).</p>
<p>Dan terakhir saat lipatan itu kembali kita lipat-lipat. Coba perhatikan, apa yang terjadi. Benar luar biasa &#8230; menjadi angka 1. Artinya, LAHIR (AWAL) dan MATI (AKHIR) adalah satu kesatuan. Angka satu menunjukkan bahwa pada akhirnya kita harus kembali ke yang ESA yaitu ALLAH SWT.</p>
</div>
<p><span style="border-radius: 2px; text-indent: 20px; width: auto; padding: 0px 4px 0px 0px; text-align: center; font: bold 11px/20px 'Helvetica Neue',Helvetica,sans-serif; color: #ffffff; background: #bd081c  no-repeat scroll 3px 50% / 14px 14px; position: absolute; opacity: 1; z-index: 8675309; display: none; cursor: pointer;">Simpan</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/">Model FOLDING TIME FRAME ( AWAL DAN AKHIR)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/model-folding-time-frame-awal-dan-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SDFix Solusi Cepat Mengatasi Writable MicroSD di Android KitKat</title>
		<link>https://www.denbagus.com/sdfix-solusi-cepat-mengatasi-writable-microsd-di-android-kitkat/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/sdfix-solusi-cepat-mengatasi-writable-microsd-di-android-kitkat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2014 05:38:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Gadgets]]></category>
		<category><![CDATA[Handphone]]></category>
		<category><![CDATA[android kitkat]]></category>
		<category><![CDATA[eksternal]]></category>
		<category><![CDATA[external]]></category>
		<category><![CDATA[internal storage]]></category>
		<category><![CDATA[kitkat]]></category>
		<category><![CDATA[menghapus di microsd]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[menyimpan di microsd]]></category>
		<category><![CDATA[SDFix]]></category>
		<category><![CDATA[sony]]></category>
		<category><![CDATA[storage]]></category>
		<category><![CDATA[writable micro sd kitkat]]></category>
		<category><![CDATA[xperia]]></category>
		<category><![CDATA[xperia zl]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=1869</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lahirnya Kitkat ternyata menyimpin sedikit kekecewaan untuk beberapa pengguna. Adanya aturan baru Google terkait pembatasan pada penggunaan MicroSD. Awalnya saya pikir ada bug di Xperia ZL setelah update KitKat. Iseng-iseng mencoba mencari solusi, ternyata diketahui ini bukanlah bug dari update OS, melainkan kebijakan baru dari pihak Google. Kebijakan ini disinyalir untuk mendorong pengguna agar memakai [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/sdfix-solusi-cepat-mengatasi-writable-microsd-di-android-kitkat/">SDFix Solusi Cepat Mengatasi Writable MicroSD di Android KitKat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_1871" aria-describedby="caption-attachment-1871" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2014/06/microsdNO.jpg"><img loading="lazy" class="wp-image-1871 size-medium" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2014/06/microsdNO-300x154.jpg" alt="microsdNO" width="300" height="154" srcset="https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2014/06/microsdNO-300x154.jpg 300w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2014/06/microsdNO-700x360.jpg 700w, https://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2014/06/microsdNO.jpg 750w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><figcaption id="caption-attachment-1871" class="wp-caption-text">Android Kitkat membatasi penggunaan MicroSD</figcaption></figure>
<p>Lahirnya Kitkat ternyata menyimpin sedikit kekecewaan untuk beberapa pengguna. Adanya aturan baru Google terkait pembatasan pada penggunaan MicroSD. Awalnya saya pikir ada bug di Xperia ZL setelah update KitKat. Iseng-iseng mencoba mencari solusi, ternyata diketahui ini bukanlah <em>bug</em> dari <em>update OS</em>, melainkan kebijakan baru dari pihak Google.</p>
<p>Kebijakan ini disinyalir untuk mendorong pengguna agar memakai layanan berbasis <em>Cloud</em>, seperti <em>Google Drive</em>. Namun tidak disadari, belum semua negara menikmati jaringan internet yang cepat. Sehingga jika diarahkan ke <em>Cloud</em>, saya rasa masih kurang tepat.</p>
<p>Dibatasinya penggunaan MicroSD ini akan berdampak pada pengguna <em>device</em> dengan <em>internal storage</em> terbatas. Apalagi aplikasi dan <em>game</em> yang berukuran besar akan kesulitan dengan <em>storage</em> yang kecil. Batasan yang dimaksud dalam penggunaan microSD adalah dengan menghilangkan kemampuan menulis, memodifikasi, dan menghapus <em>file</em> serta <em>folder</em> dari perangkat android kita. Hal yang paling saya rasakan adalah tidak bisa backup langsung ke microSD melalui <em>TitaniumBackup.</em> Padahal aplikasi ini wajib bagi saya.</p>
<p>Bagi pengguna yang biasa melakukan ritual<em> ‘oprek’</em> banyak jalan menuju Roma. Satu-satunya cara adalah dengan melakukan <em>ROOTING device</em> dan melakukan beberapa modifikasi <em>file system.</em> Cara termudah adalah dengan menggunakan aplikasi yang banyak beredar di <em>PlayStore.</em> Salah satu yang saya gunakan dan sangat mudah adalah <em><strong>SDFix</strong></em>. Tinggal mengikuti instruksi yang ada, solusi menyimpan dan <em>backup file</em> langsung ke microSD telah terpecahkan. <em><strong>SDFix</strong></em> Solusi Cepat Mengatasi <em>Writable MicroSD</em> di Android KitKat.</p>
<p>Untuk mengunduh <em><strong>SDFix</strong></em> bisa langsung melalui PlayStore, https://play.google.com/store/apps/details?id=nextapp.sdfix</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/sdfix-solusi-cepat-mengatasi-writable-microsd-di-android-kitkat/">SDFix Solusi Cepat Mengatasi Writable MicroSD di Android KitKat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/sdfix-solusi-cepat-mengatasi-writable-microsd-di-android-kitkat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Penulisan Bentuk Piramida Terbalik</title>
		<link>https://www.denbagus.com/metode-penulisan-bentuk-piramida-terbalik/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/metode-penulisan-bentuk-piramida-terbalik/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 15:58:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Trick]]></category>
		<category><![CDATA[aktual]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[editing]]></category>
		<category><![CDATA[fokus berita]]></category>
		<category><![CDATA[informatif]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[paragraf]]></category>
		<category><![CDATA[piramida terbalik]]></category>
		<category><![CDATA[pokok pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[redaktur]]></category>
		<category><![CDATA[standar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[straight news]]></category>
		<category><![CDATA[sunting]]></category>
		<category><![CDATA[syarat menulis]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=601</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menulis berita bukan sekedar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Tidak seperti menulis karangan yang mendayu-dayu. Metode Penulisan Bentuk Piramida Terbalik.Kualitas berita tentu harus memenuhi kriteria umum penulisan, yaitu 5W+1H yang sudah menjadi &#8216;sego jangan&#8217; (di luar kepala) buat seorang jurnalis. Selain syarat tersebut, sebenarya ada juga syarat yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metode-penulisan-bentuk-piramida-terbalik/">Metode Penulisan Bentuk Piramida Terbalik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis berita bukan sekedar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Tidak seperti menulis karangan yang mendayu-dayu. Metode Penulisan Bentuk Piramida Terbalik.<span id="more-601"></span>Kualitas berita tentu harus memenuhi kriteria umum penulisan, yaitu 5W+1H yang sudah menjadi <em>&#8216;sego jangan&#8217;</em> (di luar kepala) buat seorang jurnalis. Selain syarat tersebut, sebenarya ada juga syarat yang juga wajib dimengerti oleh seorang jurnalis, yaitu persyaratan bentuk. Dalam jurnalistik syarat bentuk ini lebih sering dikenal dengan sebutan <strong>&#8216;Piramida Terbalik&#8217;</strong>. Kenapa disebut Piramida Terbalik, karena bentuknya memang mirip dengan piramida mesir namun posisinya terbalik.</p>
<p>Piramida Terbalik adalah sebuah struktur penulisan atau bentuk penyajian sebuah tulisan yang umum dilakukan seorang wartawan. Kenapa harus menggunakan metode Piramida Terbalik, tentu maksudnya adalah agar pembacara dapat segera mengetahui inti dari berita yang ingin diketahuinya. Apalagi disaat seperti sekarang yang serba cepat. Berita online misalkan, sebaiknya dalam menyampaikan berita langsung ke pokok beritanya. Informasi- informasi penting (inti) disajikan di awal paragraf, selanjutnya informasi pendukung mengikuti paragraf berikutnya.</p>
<p>Penulisan dengan metode Piramida Terbalik banyak manfaatnya, baik dari sisi pembaca, wartawan, redaktur maupun media itu sendiri. Bagi pembaca yang memiliki waktu terbatas dapat membaca di paragraf-paragraf awal saja, namun sudah dapat menangkap keseluruhan maksud dari berita yang dibacanya.</p>
<p>Bagi wartawan maupun redaktur, akan memudahkan dalam penulisan dan editing berita, karena mereka lebih fokus pada pokok pikiran berita yang mereka tuliskan. Sedangkan redaktur pun akan sangat mudah dalam menyunting ataupun memotong berita, tinggal menghapus paragraf-paragraf akhir yang dianggap tidak terlalu penting. Sedangkan bagi media dengan penulisan Piramida Terbalik ini, akan menghemat space halaman.</p>
<p>Bagaimana, sudah mengertikan? Sekarang saatnya melanjutkan belajar menulis. Semoga bisa membawa manfaat buat semuanya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metode-penulisan-bentuk-piramida-terbalik/">Metode Penulisan Bentuk Piramida Terbalik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/metode-penulisan-bentuk-piramida-terbalik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>14</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Standar Minimum Kompetensi Jurnalis Kampus</title>
		<link>https://www.denbagus.com/standar-minimum-kompetensi-jurnalis-kampus/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/standar-minimum-kompetensi-jurnalis-kampus/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 02:24:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[edit]]></category>
		<category><![CDATA[investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[profesional]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[standar]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=546</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk menjadi seorang wartawan/jurnalis yang handal dituntut tidak hanya pandai menulis, ada beberapa hal yang mutlak harus dikuasi dan dipegang sebagai syarat standarisasi seorang wartawan. Dalam ini saya akan menjelaskan tentang standar wartawan/jurnalis  kampus. Sehingga cakupannya pun tidak seluas standar jurnalis profesional. Meski demikian standar ini tetap bisa dijadikan acuan umum. Kesadaran Etika Apapun yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/standar-minimum-kompetensi-jurnalis-kampus/">Standar Minimum Kompetensi Jurnalis Kampus</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/05/notes.jpg"><img loading="lazy" class="alignleft size-thumbnail wp-image-547" src="http://www.denbagus.com/wp-content/uploads/2010/05/notes-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Untuk menjadi seorang wartawan/jurnalis yang handal dituntut tidak hanya pandai menulis, ada beberapa hal yang mutlak harus dikuasi dan dipegang sebagai syarat standarisasi seorang wartawan. <span id="more-546"></span>Dalam ini saya akan menjelaskan tentang standar wartawan/jurnalis  kampus. Sehingga cakupannya pun tidak seluas standar jurnalis profesional. Meski demikian standar ini tetap bisa dijadikan acuan umum.</p>
<ol>
<li><strong>Kesadaran Etika</strong><br />
Apapun yang disampaikan ke khalayak sudah seharusnya dipertimbangkan secara matang dan dapat dipertanggungjawabkan kebenaran. Sebagai contoh, ada isu kampus berita bernilai negatif, sebaiknya disampaikan dengan lugas dan tetap bisa menampilkan berita dengan nilai positif. Jangan sampai malah memperkeruh keadaan.</li>
<li><strong>Kepekaan Jurnalis</strong><br />
Naluri seorang wartawan haruslah peka terhadap suatu kondisi, situasi yang mengandung nilai berita. Mereka harus tanggap dalam menangkap, memahami dan mengungkap informasi agar menjadi karya tulis jurnalis yang baik.</li>
<li><strong>Pengetahuan</strong><br />
Wartawan kampus harus selalu mengetahui informasi, kejadian atau apapun yang ada di dalam kampus. Aktif mencari tahu. Termasuk memahami apa aja yang akan dijadikan bahan liputan, persiapan liputan, komunikasi, dan sebagainya.</li>
<li><strong>Ketrampilan</strong><br />
Mutlak untuk seorang wartawan untuk menguasai ketrampilan jurnalistik, teknik menulis, wawancara, menyunting/editing. Yang juga tidak kalah penting, seorang wartawan juga harus mampu melakukan analisa, riset agar berita yang disampaikan lebih terarah. Dan yang terakhir, wartawan juga harus trampil menggunakan alat kerjanya, termasuk tidak &#8216;GapTek&#8217;.</li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/standar-minimum-kompetensi-jurnalis-kampus/">Standar Minimum Kompetensi Jurnalis Kampus</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/standar-minimum-kompetensi-jurnalis-kampus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TIPS MENULIS &#8211; Lukiskan, Bukan Katakan</title>
		<link>https://www.denbagus.com/tips-menulis-lukiskan-bukan-katakan/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/tips-menulis-lukiskan-bukan-katakan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 08:20:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorials]]></category>
		<category><![CDATA[katakan]]></category>
		<category><![CDATA[lukis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Trick]]></category>
		<category><![CDATA[trik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=274</guid>

					<description><![CDATA[<p>TIPS MENULIS &#8211; Lukiskan, Bukan Katakan Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian Anda masih ingat gambaran dalam tulisan itu? Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara kuat sebuah gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai, artikel, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/tips-menulis-lukiskan-bukan-katakan/">TIPS MENULIS &#8211; Lukiskan, Bukan Katakan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>TIPS MENULIS &#8211; Lukiskan, Bukan Katakan</p>
<p>Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian<br />
Anda masih ingat gambaran dalam tulisan itu?</p>
<p>Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara<br />
kuat sebuah gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah<br />
alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai,<br />
artikel, feature, berita, cerpen, novel atau puisi.<span id="more-274"></span></p>
<p>Bagaimana cara membuat deskripsi yang kuat dan hidup?</p>
<p>Cara terbaik melakukannya adalah menerapkan konsep<em><strong> &#8220;Show It, Don&#8217;t<br />
Tell It&#8221;</strong></em> atau <strong><em>&#8220;Lukiskan, bukan Katakan&#8221;</em></strong>. Ubahlah pernyataan kering dan<br />
kabur menjadi paragraf berisi ilustrasi memukau.</p>
<p>Tulisan yang bagus memaparkan soal yang nyata dan spesifik. Salah satu<br />
caranya adalah menghindari kata-kata sifat seperti &#8220;tinggi&#8221;, &#8220;kaya&#8221;,<br />
&#8220;cantik&#8221;, dan kata yang tak tidak spesifik seperti &#8220;lumayan besar&#8221;,<br />
&#8220;heboh banget&#8221;, &#8220;keren abis&#8221;.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>****</p>
<p><strong>MENGATAKAN</strong><br />
Konser Peterpan itu heboh banget.</p>
<p><strong>MELUKISKAN</strong><br />
Konser Peterpan di Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton.<br />
Tiket seharga Rp 200.000 sudah habis ludes sebulan sebelum<br />
pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA<br />
berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton<br />
berjingkrak mengikuti lagu &#8220;Ada Apa Denganmu&#8221;.</p>
<p><strong>MENGATAKAN:</strong><br />
Nasib nenek itu sangat malang.</p>
<p><strong>MELUKISKAN:</strong><br />
Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya, penghuni<br />
gubuk kardus perkampungan liar Kota Bandung, mengenalnya dengan nama<br />
sederhana: &#8220;Emak&#8221;. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal pekan ini,<br />
Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para tetangganya<br />
melihatnya hidup terakhir kali. &#8220;Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak<br />
pernah kelihatan,&#8221; kata seorang tetangganya. &#8220;Saat gubuknya dilongok,<br />
Emak sudah terbujur kaku di dalam.&#8221;</p>
<p>****</p>
<p>Menulis tanpa kata sifat ini menuntut wartawan, misalnya, untuk jeli<br />
mengamati detil serta mendahulukan fakta dan data ketimbang opini<br />
pribadi. Cara menulis seperti ini juga menghindari wartawan terjebak<br />
pada sekadar pernyataan, yang belakangan ini cenderung menciptakan<br />
gaya buruk &#8220;jurnalisme omongan&#8221;.</p>
<p>Lebih dari itu, jika kita menggunakan konsep<em> &#8220;Show It, Don&#8217;t Tell It&#8221;,</em><br />
paragraf-paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah<br />
dikenang.*</p>
<p><em>Referensi: Thanx to Mr. Gunawan Sutanto yang telah membagi ilmunya.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/tips-menulis-lukiskan-bukan-katakan/">TIPS MENULIS &#8211; Lukiskan, Bukan Katakan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/tips-menulis-lukiskan-bukan-katakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jurnalistik Dasar</title>
		<link>https://www.denbagus.com/jurnalistik-dasar/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/jurnalistik-dasar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 07:08:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[1H]]></category>
		<category><![CDATA[5W]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[liputan]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=267</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa sih berita itu ? Jurnalis dasar memahami apa berita itu. Banyak definisi akan apa arti sebuah berita, hal ini disebabkan karena berita mencakup banyak variabel. Beberapa definisi  berita diantaranya ; * Berita : Informasi hangat yang disajikan kapada umum mengenai apa yang sedang terjadi. Sesuatu yang menarik perhatian sebagian besar komunitas Informasi mengenai peristiwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/jurnalistik-dasar/">Jurnalistik Dasar</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apa sih berita itu ?</strong></p>
<p>Jurnalis dasar memahami apa berita itu. Banyak definisi akan apa arti sebuah berita, hal ini disebabkan karena berita mencakup banyak variabel.</p>
<p>Beberapa definisi  berita diantaranya ;</p>
<p>* <strong>Berita</strong> :</p>
<ul>
<li><em>Informasi hangat yang disajikan kapada umum mengenai apa yang sedang terjadi.<span id="more-267"></span><br />
</em></li>
<li><em>Sesuatu yang menarik perhatian sebagian besar komunitas<br />
</em></li>
<li><em>Informasi mengenai peristiwa atau ide yang menarik perhatian dan mempengaruhi kehidupan manusia</em></li>
<li><em>Sesuatu yang luar biasa</em></li>
</ul>
<p>Sesuatu peristiwa, kejadian, kegiatan, informasi akan menjadi sebuah berita yang baik bila diungkap melalui pertanyaan pokok jurnalis (unsur pokok berita), yaitu<strong> 5W + 1H :</strong></p>
<p><strong>apa</strong> (<strong><em>what</em></strong>), <strong>siapa (<em>who</em>) di mana</strong> (<strong><em>where</em></strong>), <strong>kapan</strong> (<strong><em>when</em></strong>), <strong>mengapa</strong> (<strong><em>why</em></strong>) dan <strong>bagaimana</strong> (<strong><em>how</em></strong>). Hal ini yang akan menjadi pedoman bagi seorang wartawan untuk mengumpulkan data dan fakta yang kemudian ditulis menjadi sebuah berita.<br />
Untuk contoh penjelasan dibawah ini, akan saya contohkan misalnya Sebuah kegiatan seminar di kampus.</p>
<p><strong>Apa :</strong> <em>merupakan pertanyaan yang akan menjawab apa yang akan, sedang, atau telah terjadi</em>.</p>
<p>Contoh : <em>Seminar apa yang sedang dilaksanakan ? Apa yang disampaikan oleh pembicara, Apa yang menjadi pembahasan menarik di seminar ?</em></p>
<p><strong>Siapa :</strong><em> merupakan pertanyaan yang akan mengundang fakta yang berkaitan dengan setiap orang yang terlibat/terlibat baik langsung maupun tidak langsung dengan kejadian.</em></p>
<p>Contoh : <em>Siapa pembicara seminar, siapa penyelenggaranya, siapa undangan yang hadir, siapa peserta yang hadir ?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dimana </strong><em>: </em><em>merupakan pertanyaan yang mengungkapkan tempat kejadian</em></p>
<p>Contoh : <em>Dimana seminar dilangsungkan ? Ruang mana ? </em></p>
<p><strong>Kapan  : </strong><em>merupakan pertanyaan yang menyangkut waktu kejadian</em></p>
<p>Contoh : <em>Kapan seminar dilangsungkan? Kapan seminar berakhir ? Kapan pembicara utama menyampaikan materinya ?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengapa :</strong> <em>akan menjawab latar belakang atau penyebab kejadian, peristiwa, acara</em></p>
<p>Contoh : <em>Apa tujuan seminar diselenggarakan ? mengapa dipilih materi seminar tersebut ? mengapa diadakan di stikomp surabaya ?</em></p>
<p><em><strong>Bagaimana :</strong> pertanyaan yang akan memberikan fakta proses kejadian yang diberitakan</em></p>
<p>Contoh : <em>Bagaimana jalannya rangkaian acara seminar ? Bagaimana antusiasme audience ? Bagaimana materi yang disampaikan ?</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/jurnalistik-dasar/">Jurnalistik Dasar</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/jurnalistik-dasar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nilai Berita</title>
		<link>https://www.denbagus.com/nilai-berita/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/nilai-berita/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 05:28:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Nilai Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=66</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menulis berita, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait nilai berita itu sendiri. Ada beberapa nilai-nilai berita yang bisa kit kelompokkan sebagai acuan dalam sebuah penulisan. Magnitude (Pengaruh) Seberapa luas pengaruh suatu berita terhadap khalayak. Significance (Arti) Seberapa penting arti suatu kejadian atau peristiwa Contoh: Wabah penyakit H1n1 Actuality (Aktualitas) Berdasarkan tingkat aktualitas suatu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/nilai-berita/">Nilai Berita</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam menulis berita, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait nilai berita itu sendiri. Ada beberapa nilai-nilai berita yang bisa kit kelompokkan sebagai acuan dalam sebuah penulisan.</p>
<ol>
<li>Magnitude (Pengaruh)<br />
Seberapa luas pengaruh suatu berita terhadap khalayak.</li>
<li>Significance (Arti)<span id="more-66"></span></li>
<li>Seberapa penting arti suatu kejadian atau peristiwa<br />
Contoh: Wabah penyakit H1n1</li>
<li>Actuality (Aktualitas)<br />
Berdasarkan tingkat aktualitas suatu peristiwa<br />
Contoh: Berita perkembangan kasus century selalu up to date tiap hari, namun jika telat dalam pemberitaan akan menjadi basi.</li>
<li>Proximity (Kedekatan)<br />
Berita lokal lebih pas diberitakan di daerah bersangkutan.</li>
<li>Prominence (Keakraban)<br />
Akrabnya suatu peristiwa terhadap khalayak</li>
<li>Kejutan (Surprise)</li>
<li>Clarity (Kejelasan) kejadian atau peristiwa</li>
<li>Dampak (Impact)</li>
<li>Konfik</li>
<li>Human Interest<br />
Kemampuan suatu peristiwa menyentuh perasaan kemanusiaan khalayak</li>
</ol>
<p>Berita tidak mutlah harus memenuhi unsur-unsur di atas. Namun semakin banyak unsur-unsur tersebut melekat dalam suatu peristiwa maka nilai beritanya semakin tinggi.</p>
<p>Ketiga seorang redaktur meminta wartawan untuk melapor hal yang menurutnya menarik, pasti sudah memiliki sensor untuk memilah mana yang menarik dan mana yang tidak.</p>
<p>Yang terpenting adalah bagaimana membuat pembaca juga merasakan bahwa hal yang ingin kita sampaikan itu benar-benar penting untuk diketahui orang lain.</p>
<p>Jadi yang terpenting adalah bagaimana tulisan yang kita paparkan bisa bercerita serta sedapat mungkin mengundang minat banyak orang, entah itu menjadi masalah kita semua, lucu, atau mengharukan.</p>
<p>Hal ini biasanya sudah dimulai pada paragraf awal <em>(lead)</em> turun terus hingga ke tubuh tulisan dan <em>ending.</em></p>
<p>Sebagai wartawan/penulis yang baik, biasanya sudah ditentukan sejak awal <em>angle</em> yang akan diambil. Artinya, apa yang nantinya ingin disampaikan, diketahui dan dirasakan pembaca.</p>
<p>Potong atau buang informasi, detail atau apapun yang tidak mendukung pilihan awal kita, daripada pembaca di akhir tulisan malah bingung sebetulnya apa yang ingin disampaikan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/nilai-berita/">Nilai Berita</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/nilai-berita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
