<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kreatif Archives - Griyo Denbagus</title>
	<atom:link href="https://www.denbagus.com/tag/kreatif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.denbagus.com/tag/kreatif/</link>
	<description>Life 4 Beautiful Purpose</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2017 05:24:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.2</generator>
	<item>
		<title>Clothingpreneur, Bisnis Kaos yang Menjanjikan</title>
		<link>https://www.denbagus.com/clothingpreneur-bisnis-kaos-yang-menjanjikan/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/clothingpreneur-bisnis-kaos-yang-menjanjikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2017 05:17:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis baju]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis kaos]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis pemula]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis tshirt]]></category>
		<category><![CDATA[clothingpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[crowdfunding]]></category>
		<category><![CDATA[desain]]></category>
		<category><![CDATA[design kaos]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=2464</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEKILAS BISNIS CLOTHING Beberapa tahun yang lalu bermunculan istilah distro di banyak daerah. Produk-produk yang dijualpun beragam. Kini istilah tersebut mulai berkembang seiring hadirnya peran teknologi dalam bisnis baju atau kerennya biasa disebut &#8216;clothing&#8217;. Istilah ini memang lazim digunakan untuk jenis produk kaos, namun tidak menutup kemungkinan ke depan akan ada pergeseran. CROWDFUNDING Bisnis clothing, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/clothingpreneur-bisnis-kaos-yang-menjanjikan/">Clothingpreneur, Bisnis Kaos yang Menjanjikan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>SEKILAS BISNIS<em><strong> CLOTHING</strong></em></h4>
<p>Beberapa tahun yang lalu bermunculan istilah distro di banyak daerah. Produk-produk yang dijualpun beragam. Kini istilah tersebut mulai berkembang seiring hadirnya peran teknologi dalam bisnis baju atau kerennya biasa disebut <em>&#8216;clothing&#8217;</em>. Istilah ini memang lazim digunakan untuk jenis produk kaos, namun tidak menutup kemungkinan ke depan akan ada pergeseran.</p>
<h4><em><strong>CROWDFUNDING</strong></em></h4>
<p>Bisnis <em>clothing,</em> pemula usaha <em>cloting</em> harus punya modal besar. Mereka harus memiliki toko/<em>showroom</em> untuk menjual produk mereka. Belum lagi biaya produksi yang tidak sedikit. Saat ini tidak ada lagi alasan bagi seseorang untuk memulai bisnis tapi tidak punya modal.</p>
<p><em>Crowdfunding</em> adalah alternatif terbaik bagi siapapun yang ingin bisnisnya mendapat pembiayaan. Bisnis nyaris tanpa modal. Bukan tanpa modal sama sekali sih, walaupun sebenarnya bisa tanpa modal.</p>
<p><em>Crowdfunding</em> belakang menjadi buah bibir di banyak komunitas dalam kaitannya dengan industri kreatif. Pasalnya melalui <em>crowdfunding</em> ini akan mampu mendorong pertembuhan perekonomian negara melalui berbagai produk inovatif dan kreatif. Melahirkan talenta-talenta muda untuk ditantang terjun dalam dunia bisnis.</p>
<p><em>Crowdfunding</em> sendiri memiliki berbagai macam jenis, ada yang murni pembiayaan, ada yang dikelola semacam <em>marketplace</em>. Untuk bisnis <em>clothing </em>model<em> crowdfunding </em>sangat membantu pemula untuk mencoba bisnis baru<em> (statup). </em>Beberapa <em>crowdfunding</em> menerapkan <em>coaching</em> hingga membernya bisa sukses</p>
<p>Hal inilah yang menjadi poin penting bagi kedua belah pihak. Karena saat <em>startup</em> tersebut sukses akan memberi <em>impact</em> positif terhadap induk dalam hal ini <em>crowdfunding</em> yang mengayomi.</p>
<p><strong>Keuntungan <em>crowdfunding</em></strong></p>
<ol>
<li><em><strong>Create Buzz Effect</strong></em><br />
Mempromosikan crowdfunding sama halnya membuat <em>buzz effec</em>t terhadap proyek kita sendiri.</li>
<li><em><strong>Zero Risk</strong></em><br />
Sudah pasti, karena kita keluar biaya terlalu banyak, misalkan produk tidak lakukan kita hanya rugi sebagian kecil saja. Resiko sangat kecil, karena sistem diserahkan kepada <em>crowdfunding.</em></li>
<li><strong><em>Product Market Fit</em></strong><br />
Semakin besar <em>buzz effect</em> yang didapat, potensi keberhasilan proyek semakin tinggi. Sehingga kepercayaan dari crowdfudning semakin besar. Potensi kenaikan profit dalam kerjasama semakin tinggi. Bahkan bukan tidak mungkin pembiayaan secara independen bisa terjadi. Di sinilah saatnya impian diwujudkan.</li>
</ol>
<h4><em><strong>RELATIF MUDAH SEBAGAI PEMULA DALAM BISNIS</strong></em></h4>
<p>Meskipun sektor bisnis adalah <em>riil,</em> model bisnis yang diterapkan tetap memprioritaskan teknologi, <em>social media, marketplace,</em> dan<em> website</em>. Nah, berkaitan dengan <em>crowdfunding</em> bagi pemula yang ingin memulai bisnis nyaris tanpa modal, <em>clothing</em> merupakan jenis model bisnis paling mudah.</p>
<p>Kenapa <em>clothingpreneur</em> lah yang paling mudah dimulai, alasannya:</p>
<ol>
<li>Bisnis <em>clothing</em> tidak pernah mati selama masih ada anak muda, bahkan mungkin selama ada manusia.</li>
<li>Makin banyaknya jenis <em>crowdfunding, </em>sehingga tidak perlu investasi besar di awal.</li>
<li>Cara pemasaran/iklan lebih terukur dan biaya relatif lebih murah.</li>
<li>Ide <em>niche</em> banyak, bisa melihat momen-moment tertentu, isu yang lagi hits, komunitas atau melihat <em>fashion</em> artis.</li>
</ol>
<h4>KIAT-KIAT SEDERHANA MEMULAI BISNIS</h4>
<p>Berikut ini kiat-kiat mudah untuk memulai bisnis <em>clothing</em> &#8216;nyaris&#8217; tanpa modal.</p>
<ol>
<li>Bisnis itu bukan asal-asalan. Harus tahu ilmunya. Tapi bukan teori semata.</li>
<li>Menguasai empaat (4) pilar dasar dalam memulai bisnis <em>clothing</em>. Empat pilar yang dimaksud meliputi:
<ul>
<li><em><strong>Niche market</strong></em><br />
Menemukan segmen pasar yang spesifik. Preferensi bisa dari komunitas tertentu, bisa momen hari besar, bisa isu lagi tren, atau yang sedang digunakan seorang artis, dll.</li>
<li><strong>Merek</strong><br />
Merek haruslah memiliki tingkat keunikan tersendiri sebagai pembeda dari produk sejenis di pasaran. Baik desain, nama, harus relevan dengan niche yang dipilih. Agar memiliki identitas yang kuat.</li>
<li><strong>Design</strong><br />
Desain sebagai bagian dari merek, yang terpenting kesesuaian dengan <em>niche</em> atau target yang dipilih. Jika tidak bisa bikin desain, bisa kongsian dengan teman yang pinter desain atau gunakan jasa desain dari pihak lain. Desain tidak semata bagusnya saja, tetapi sederhana dan mampu merepresentasikan konsumen yang disasar. Misalkan, target yang disasar komunitas fotografi. Ya gunakan desain yang relevan dengan itu. Objek atau elemen yang digunakan boleh kamera, lensa, orang motret, dll.</li>
<li><strong>Kualitas.</strong><br />
Sebagus apapun <em>clothing</em> yang dibuat, kalau dari sisi kualitas (bahan, jahit, sablon, dll) tidak baik. Konsumen pasti kecewa. Potensi mereka <em><strong>switch brand</strong></em> sangat mungkin terjadi. Konsumen harus puas setengah mati sampai tidak akan beralih, bahkan jika perlu mereka dengan sukarela meng<em>endorse</em> produk kita.</li>
</ul>
</li>
<li><em><strong>Market observation</strong></em><br />
Yang sering dilupakan oleh bisnis pemula adalah <em>market observation.</em> Sebagian besar ingin mulai bisnis secepatnya tanpa pikir banyak seperti apa market yang mereka sasar. Ada pepatah jawa, kalau teori melulu kapan prakteknya. Ada benarnya sih, tetapi tetap saja harus ada konsep dan persiapan. <em>Market observation</em> tujuannya adalah memetakkan target pasar yang ingin disasar. Misalkan dengan riset sederhana melalui media sosial, angket, membaca, dll. Tujuannya agar kita mendapat <em>insight</em> mengenai apa yang menjadi peluang untuk bisnis kita. Sederhananya sih kalau kita pernah sekolah mengenal SWOT. Kompetitor bagaimana, harga sudah kompetitif belum, dll.</li>
<li><em><strong>Competitive advantage</strong></em><br />
Setelah tahapan market observation selesai, saatnya kita tentukan competitive advantage apa yang menjadi unggulan dari produk kita. Lebih dekat dengan konsumen, bangun merek yang unik dan menarik sesuai dengan keunggulan yang telah dibangun dalam bisnis kita.</li>
<li><em><strong>Design Resource</strong></em><br />
Desain bisa dilakukan banyak cara. Buat sendiri atau gunakan jasa desain. Jadi siapapun tidak perlu repot soal desain. Referensi desain, freepik, pixabay, gimp, inkspace, canva, dll. Desain komunitas bisa melakukan riset, referensi, dribble, freelancer, designious, dll.</li>
<li><em><strong>Type of Print</strong></em><br />
Harus mengetahui jenis-jenis cetak <em>clothing</em>. Agar mengetahui perbedaan serta kualitas yang dihasilkan dari masing-masing karakter cetak. Saat ini yang masih banyak digunakan adalah <em>screen printing</em> (sablon) dan teknologi lumayan baru<em> Direct to Garmen (DTG).</em></li>
<li><strong><em>Market validation</em></strong><br />
Sebelum kita membuat produk mass production, ada baiknya lakukan uji pasar. Paling sederhana riset kembali melalui media digital atau media sosial dan lingkungan terdekat. Lihat impak yang didapat. Hal ini agar proses<em> marketing</em> lebih efektif dan menghindari penggunaan <em>budgeting</em> promo yang berlebihan.</li>
<li>Inbound Markating<br />
Dalam rangka menunjang aktivitas <em>marketing,</em> lakukan <em>campaign</em> di media sosial<em> (online)</em> atau <em>event</em> sederhana <em>(offline)</em> untuk membangun <em>awareness</em> konsumen. Selain itu, channel media yang dipilih harus secara konsisten memuat konten-konten yang menarik sesuai segmentasi. Harapannya dari konten tersebut konsumen suka dan melakukan <em>endors</em> secara tidak langsung dengan melakukan <em>share</em> ke khalayak. Ini biasa disebut &#8216;<em>pull marketing</em>.&#8221; Sifatnya mengajak orang lain untuk membeli produk kita.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
 [<a href="https://www.denbagus.com/clothingpreneur-bisnis-kaos-yang-menjanjikan/">See image gallery at www.denbagus.com</a>] 
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/clothingpreneur-bisnis-kaos-yang-menjanjikan/">Clothingpreneur, Bisnis Kaos yang Menjanjikan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/clothingpreneur-bisnis-kaos-yang-menjanjikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metodologi Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 02:19:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[black boxes]]></category>
		<category><![CDATA[IMC]]></category>
		<category><![CDATA[Integrated Marketing Communication]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[metode riset]]></category>
		<category><![CDATA[metodologi desain]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=821</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam salah satu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, ada salah satu mata kuliah yang menurut saya merupakan roh atau dasar dari semua bidang ilmu yang saya pelajari sejauh ini. Karena mata kuliah ini mengintegrasikan beberapa bidang ilmu sekaligus. Mulai psikologi, marketing, komunikasi, visual, manajemen, dan masih banyak bidang lain sebagai suplemen dari mata kuliah ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metodologi-desain/">Metodologi Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam salah satu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, ada salah satu mata kuliah yang menurut saya merupakan roh atau dasar dari semua bidang ilmu yang saya pelajari sejauh ini. Karena mata kuliah ini mengintegrasikan beberapa bidang ilmu sekaligus. Mulai psikologi, marketing, komunikasi, visual, manajemen, dan masih banyak bidang lain sebagai suplemen dari mata kuliah ini. <span id="more-821"></span>Jadi sangat penting buat saya mengetahui lebih mendalam.</p>
<p>Ada beberapa buku menarik yang bisa dijadikan acuan.</p>
<ol>
<li>Sarwono, Jonathan dan <em>Lubis</em>, <em>Hary</em>. (2007). <em>Metode Riset</em> untuk Desain. Komunikasi  Visual. Yogyakarta: Penerbit Andi</li>
<li><em>Uyung Sulaksana</em>,  “<em>Integrated Marketing Communication</em>”, Pustaka Pelajar, 2003.</li>
</ol>
<p>Sayang buku-buku ini teramat langka untuk didapatkan di pasaran. Nah mata kuliah yang saya maksud adalah <strong>&#8220;METODOLOGI DESAIN&#8221;.</strong></p>
<p>Seperti biasa, saya hanya mereview apa yang sudah saya dapatkan di perkuliahan, barangkali bermanfaat buat pembaca sekalian. Tentu saja tulisan ini masih banyak kelemahan dan alangkah senangnya jika pembaca bisa melengkapi segala suatu yang dianggap masih kurang.</p>
<p>Secara garis besar, seorang desainer adalah sebagai probrom solver, ada beberapa tahapan dasar yang harus dipahami seorang visual artis berakitan dengan bidang desain, yaitu, &#8220;Konsep, Media, Ide, Data, dan Visualisasi.</p>
<p>Berkaitan dengan Konsep dan Ide, ada beberapa metode berfikir dalam merancang desain:</p>
<ol>
<li>Metode berfikir Intuitif</li>
<li>Metode berfikir Logis</li>
<li>Metode berfikir Prosedural</li>
</ol>
<p><strong>Metode berfikir Intuitif</strong></p>
<ol>
<li>Tidak Logis</li>
<li>Tidak rasional/tidak dapat diukur, namun tetap dapat dipahami sebagai kreatifitas</li>
<li>Didasari data, namun tidak detail</li>
<li>Subyektif</li>
<li>Berfikir imagining (kotak hitam/<strong><em>black boxes</em></strong>)</li>
</ol>
<p><strong>Ciri-ciri <em>black boxes</em>:</strong></p>
<ol>
<li>Sasaran desain sesuai dengan perubahan pikiran desainer.</li>
<li>Data menentukan keputusan desainer dan berdasarkan pengalaman desainer</li>
<li>Keputasan cepat dan acak</li>
<li>Leap of Insight -&gt;&gt; menyederhanakan beberapa aspek -&gt;&gt; menipulasi citra</li>
<li>Knowledge yang luas mutlak bagi desainer, referensi, cepat dalam memutuskan, orisinil, dan fleksibel dalam berfikir.</li>
</ol>
<p><strong>Metode berfikir Logis</strong></p>
<ol>
<li>Mengacu pada data/fakta yang terukur dan terarah.</li>
<li>Glass boxes/berfikir reasoning (kotak kaca)</li>
<li>Data berupa dokumentasi, observasi, questioner, interview</li>
</ol>
<p><strong>Ciri-ciri berfikir logis:</strong></p>
<ol>
<li>Analisis dilakukans secara mendalam dan tuntas sebelum pengambilan keputusan</li>
<li>Evaluasi bersifat deskriptif dan dijelaskan secara logis</li>
<li>Strategi perancangan/desain ditetapkan dahulu sejak awal, sebelum proses analisis.</li>
</ol>
<p>Secara garis besar dapat digambarkan dalam diagram seperti di bawah.</p>
<figure style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/diagram.jpg"><img title="Gambar bagan secara garis besar" src="http://i963.photobucket.com/albums/ae115/adhis76/diagram.jpg" alt="Gambar bagan secara garis besar" width="400" height="404" /></a><figcaption class="wp-caption-text">Gambar bagan secara garis besar</figcaption></figure>
<p><strong>Metode berfikir Prosedural</strong></p>
<ol>
<li>Meninjau kembali dua cara berfikir sebelumnya</li>
<li>Jika 2 metode sebelumnya kurang fokus/kurang jelas, diperlukan eksplorasi lebih lanjut</li>
<li>Jika diperlukan mengambil keputusan yang baru</li>
<li>Metode Pengorganisasian diri (Self Organizing System)</li>
<li>Variasi metode desain lebih banyak</li>
<li>Intuisi pada akhirnya menjadi sangat penting dan diperlukan saat <em>final decision</em> (keputusan akhir)</li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/metodologi-desain/">Metodologi Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/metodologi-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Freedoom Of Sharing &#8220;How to Branding Your Self With Social Media&#8221;</title>
		<link>https://www.denbagus.com/freedoom-of-sharing-how-to-branding-your-self-with-social-media/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/freedoom-of-sharing-how-to-branding-your-self-with-social-media/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 12:04:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[advertising]]></category>
		<category><![CDATA[animator]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[branding]]></category>
		<category><![CDATA[desainer]]></category>
		<category><![CDATA[designer]]></category>
		<category><![CDATA[freedom of sharing]]></category>
		<category><![CDATA[fresh]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[merk]]></category>
		<category><![CDATA[personal branding]]></category>
		<category><![CDATA[programmer]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[stikom]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=610</guid>

					<description><![CDATA[<p>Internet menjadi media baru untuk merk (brand) bermain dan membentuk citranya. Baik itu merk produk maupun “merk” personal. Ada yang berhasil ada pula yang gagal. Jika dicermati, jenis media online yang dipakai merk untuk mencitrakan diri juga beragam. Ada yang melalui forum, massmedia online, webblog, ada juga yang melalui situs jejaring sosial. Acara FreSh (Freedom [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/freedoom-of-sharing-how-to-branding-your-self-with-social-media/">Freedoom Of Sharing &#8220;How to Branding Your Self With Social Media&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Internet menjadi media baru untuk merk (brand) bermain dan membentuk  citranya. Baik itu merk produk maupun “merk” personal.  Ada yang  berhasil ada pula yang gagal.  <span id="more-610"></span>Jika dicermati, jenis media  online yang dipakai merk untuk mencitrakan diri juga beragam. Ada yang  melalui forum, massmedia online, webblog, ada juga yang melalui situs  jejaring sosial.</p>
<p>Acara FreSh (Freedom of Sharing) Surabaya  edisi Mei kali ini akan membahas bagaimana mencitrakan sebuah merk  (branding) melalui media online.<br />
&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>APA ITU FreSh? </strong></p>
<p>FreSh  (Freedom of Sharing). FreSh merupakan ajang diskusi, kumpul-kumpul,  networking, sharing ilmu antara kita semua yang hidup dalam industri  kreatif.</p>
<p>Forum berbagi ide ini diharapkan akan terus berlangsung  reguler sehingga akan semakin membuka wawasan/insight kita dalam dunia  kreatif. Mudah-mudahan kita bisa saling tahu tren apa yang kini populer,  hambatan apa yang dihadapi, dan solusi apa untuk mengatasinya.</p>
<p>Siapa  saja, baik itu desainer, programmer, animator, marketing, advertising,  arsitek, pengusaha online, musisi, filmis, penulis, dan profesi lainnya  bisa ikut berpartisipasi dalam forum ini. Tentunya, dengan harapan  setiap pesertanya bisa berinisiatif menyampaikan gagasan, solusi,  ataupun sekedar berbagi ilmu baru.</p>
<p>FreSh mempunyai event bulanan  dan event yang accidental.<br />
Event bulanan dilakukan sejak Agustus  2008.</p>
<p>Biasanya mengangkat tema tertentu, seperti: Narsisme 2.0  (September 2008), Jurnalisme dan Komunikasi (Oktober 2008), Mobile  Creativity (Maret 2009), Istilah Indonesia di Internet, Mencari Padanan  Setengah Mati (April 2009)</p>
<p>Dan Event yang diselenggarakan di  STIKOM ini merupakan event FreSh perdana di Surabaya dan Launching FreSh  Surabaya.<br />
Wednesday, May 26, 2010<br />
6:00pm &#8211; 10:00pm<br />
Gedung Serbaguna STIKOM Surabaya</p>
<p>Link terkait:<br />
<a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=120600694641073">Facebook</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/freedoom-of-sharing-how-to-branding-your-self-with-social-media/">Freedoom Of Sharing &#8220;How to Branding Your Self With Social Media&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/freedoom-of-sharing-how-to-branding-your-self-with-social-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Desainer atau Tukang Desain</title>
		<link>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 10:06:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[desainer]]></category>
		<category><![CDATA[designer]]></category>
		<category><![CDATA[formal]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tukang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=369</guid>

					<description><![CDATA[<p>Desainer atau Tukang Desain, What ever lah &#8230; !?? Ya dewasa ini sering sekali kita dibingunkan dengan istilah Designer. Maraknya teknologi informasi, komunikasi, menuntut pelaku bisnis, dunia kreatif berlomba untuk menjadi yang terdepan. Praktis banyak bermunculan telenta-talenta baru berbakat. Usia muda tidak lagi menjadi halangan untuk kreatif dan inovatif. Dengan program sekolah gratis utamanya SMK [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/">Desainer atau Tukang Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Desainer atau Tukang Desain, <em>What ever</em> lah &#8230; !?? Ya dewasa ini sering sekali kita dibingunkan dengan istilah Designer. Maraknya teknologi informasi, komunikasi, menuntut pelaku bisnis, dunia kreatif berlomba untuk menjadi yang terdepan. Praktis banyak bermunculan telenta-talenta baru berbakat. Usia muda tidak lagi menjadi halangan untuk kreatif dan inovatif. Dengan program sekolah gratis utamanya SMK oleh pemerintah, tentu ini menjadi peluang emas buat anak bangsa yang ingin skill segera terasah namun dengan kesempatan sekolah yang terbatas.<span id="more-369"></span></p>
<p>Salah satu bidang favorit saat ini adalah bidang desain. Mau multimedia, desain produk, desain grafis (DKV) atau bidang lainnya yang serumpun tengah berlomba menjadi yang terbaik. Persaingan dari yang sehat sampai yang <em>&#8216;sakit&#8217;</em> pun tidak dapat terelakkan.</p>
<p>Kondisi inilah yang memungkinkan munculnya &#8216;desainer dadakan&#8217; dimana-mana. Bahkan tanpa mengenyam pendidikan formalpun seseorang sudah bisa beranggapan bahwa dirinya adalah seorang Desainer. Pada dasarnya sih tidak ada masalah, mau menganggap dirinya siapa. Tapi coba kita pahami bersama. Desainer bukanlah suatu pekerjaan laksana seorang operator atau tukang. Mereka dituntut lebih dari sekedar operator. Selain kemampuan teknis yang memadahi harus pula didasari pengetahuan yang memadahi. Artinya teori juga perlu. Bagaimana mungkin orang yang keseharian hanya bermain aplikasi tanpa tahu landasan teori sudah bisa menganggap dirinya adalah desainer handal.</p>
<p>Intinya adalah, seorang desainer bukanlah seorang tukang desain, karena ini adalah satu paket. Sama halnya kalau kita membeli paket makanan, tidak mungkin enak jika paket makanan ini hanya disajikan perbagian. Tidak masalah landasan teori dengan cara membaca sendiri (autodidak) atau lewat jalur formal. Yang penting janganlah diri kita menganggap kita sudah menjadi desainer handal jika pengetahuan kita tentang seluk beluk dunia kreatif ini masih sedikit. Belajar &#8230; belajar .. dan terus belajar tanpa henti.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/">Desainer atau Tukang Desain</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/desainer-atau-tukang-desain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RETORIKA</title>
		<link>https://www.denbagus.com/retorika/</link>
					<comments>https://www.denbagus.com/retorika/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Denbagus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 06:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[berbicara]]></category>
		<category><![CDATA[cara berfikir]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[deduktif]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[face]]></category>
		<category><![CDATA[induktif]]></category>
		<category><![CDATA[kausatif]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[massa]]></category>
		<category><![CDATA[retorika]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.denbagus.com/?p=106</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat kita membaca istilah RETORIKA, dibenak kita pasti langsung tertuju dengan makna tentang gaya berbicara, atau lebih kerennya seni berbicara. Dan memang benar, namun lebih dari itu RETORIKA tidak hanya sekedar seni berbicara, lebih luas dalam bentu tulisanpun harus diperhatikan. Menggunakan banyak variabel. Ada falsafa RETORIKA yang berbunyi, &#8220;Kebenaran suatu pendapat hanya bisa dibuktikan jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/retorika/">RETORIKA</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saat kita membaca istilah RETORIKA, dibenak kita pasti langsung tertuju dengan makna tentang gaya berbicara, atau lebih kerennya seni berbicara.</p>
<p>Dan memang benar, namun lebih dari itu RETORIKA tidak hanya sekedar seni berbicara, lebih luas dalam bentu tulisanpun harus diperhatikan. Menggunakan banyak variabel.</p>
<p>Ada falsafa RETORIKA yang berbunyi, &#8220;Kebenaran suatu pendapat hanya bisa dibuktikan jika tercapai kemenangan dalam berbicara.&#8221;</p>
<p>Bentuk RETORIKA :</p>
<ol>
<li>Ceramah</li>
<li>Face to face</li>
<li>Massa Information</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Sambutan</li>
</ol>
<p>Ada beberapa contoh cara berfikir dalam RETORIKA</p>
<ul>
<li><strong>Berfikir kreatif</strong><br />
Suatu cara berfikir yang menimbulkan ide baru atau menghubungkan ide dan hal yang sebelumnya belum dihubungkan</li>
<li><strong>Berfikir Kausatif</strong><br />
Suatu cara berfikir yang menjelaskan apa  yang akan  terjadi akibat keadaan sebelumnya</li>
<li><strong>Berfikir Induktif</strong><br />
Suatu cara berfikir yang bersumber dari data spesifik kemudian dijadikan suatu simpulan</li>
<li><strong>Berfikir Deduktif</strong><br />
Suatu cara berfikir yang mengambil hal-hal yang umum pada hal-hal yang khusus</li>
<li><strong>Cara Problem Solving</strong><br />
Cara berfikir yang mengungkapkan masalah dan dicari pemecahannya</li>
</ul>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com/retorika/">RETORIKA</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.denbagus.com">Griyo Denbagus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.denbagus.com/retorika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
