TIPS MENULIS – Lukiskan, Bukan Katakan

TIPS MENULIS – Lukiskan, Bukan Katakan

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian
Anda masih ingat gambaran dalam tulisan itu?

Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara
kuat sebuah gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah
alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai,
artikel, feature, berita, cerpen, novel atau puisi.

Bagaimana cara membuat deskripsi yang kuat dan hidup?

Cara terbaik melakukannya adalah menerapkan konsep “Show It, Don’t
Tell It”
atau “Lukiskan, bukan Katakan”. Ubahlah pernyataan kering dan
kabur menjadi paragraf berisi ilustrasi memukau.

Tulisan yang bagus memaparkan soal yang nyata dan spesifik. Salah satu
caranya adalah menghindari kata-kata sifat seperti “tinggi”, “kaya”,
“cantik”, dan kata yang tak tidak spesifik seperti “lumayan besar”,
“heboh banget”, “keren abis”.

Contoh:

****

MENGATAKAN
Konser Peterpan itu heboh banget.

MELUKISKAN
Konser Peterpan di Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton.
Tiket seharga Rp 200.000 sudah habis ludes sebulan sebelum
pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA
berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton
berjingkrak mengikuti lagu “Ada Apa Denganmu”.

MENGATAKAN:
Nasib nenek itu sangat malang.

MELUKISKAN:
Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya, penghuni
gubuk kardus perkampungan liar Kota Bandung, mengenalnya dengan nama
sederhana: “Emak”. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal pekan ini,
Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para tetangganya
melihatnya hidup terakhir kali. “Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak
pernah kelihatan,” kata seorang tetangganya. “Saat gubuknya dilongok,
Emak sudah terbujur kaku di dalam.”

****

Menulis tanpa kata sifat ini menuntut wartawan, misalnya, untuk jeli
mengamati detil serta mendahulukan fakta dan data ketimbang opini
pribadi. Cara menulis seperti ini juga menghindari wartawan terjebak
pada sekadar pernyataan, yang belakangan ini cenderung menciptakan
gaya buruk “jurnalisme omongan”.

Lebih dari itu, jika kita menggunakan konsep “Show It, Don’t Tell It”,
paragraf-paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah
dikenang.*

Referensi: Thanx to Mr. Gunawan Sutanto yang telah membagi ilmunya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *