Indonesia Masuk 14 Negara Paling Bahagia Di Dunia

Tidak sengaja waktu surfing saya menemukan tulisan terkait tingkat kebahagian suatu negara. Yang menggelitik saya untuk menulis dan beropini adalah masukknya Indonesia di peringkat 14 sebagai negara paling bahagia dari 151 negara yang di survey. Di saat carut marutnya kondisi negara, korupsi yang makin merajalela, hilangnya jati diri, dan krisis identitas, ternyata sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa bahagia. Artinya tingkat kebahagian tidak ada kaitannya sama sekali dengan bagaimana kondisi atau keadaan suatu negara tersebut. Kebahagiaan mutlak dirasakan oleh individu masing-masing.

Menurut data hasil riset HAPPY PLANET INDEX (HPI), ternyata negara yang tingkat kebahagiaannya tinggi di dominasi oleh negara berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan, perekonomian yang baik tidak selamanya menjadi patokan untuk melihat tingkat kebahagiaan seseorang atau bahkan negara. Jika kita menoleh kebelakang, tidak salah jika Indonesia masuk 14 negara paling bahagia, terlepas dari kondisi negara seperti sekarang ini, masyarakat Indonesia sebagaian besar masih menganut prinsip “Mangan gak mangan sing penting kumpul” (makan maupun tidak yang penting kumpul keluarga). Jelas sekali bahwa prinsip sederhana ini seringkali menjadi landasan kuat atas kebahagiaan sebuah keluarga.

Fernando Torres n Family
Fernando Torres n Family

Menurut Nic Marks sang pencipta HPI, mengukur tingkat kebahagiaan dan harapan hidup sangatlah penting, karena hidup yang panjang dan berkualitas ditentukan oleh tingkat kebahagiaan sehingga memiliki harapan hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Penelitian semacam ini sangatlah penting, agar terjadi keseimbangan dalam melihat tingkat kemajuan suatu negara yang biasanya hanya berfokur pada kemajuan ekonominya saja. Banyak kasus negara maju yang justru masyarakatnya malah merasa menderita, sehingga tidak bisa menikmati hidup mereka secara wajar.

Materi bukanlah segalanya, Bahagia tidaknya seseorang pasti tidak sama satu sama lain, apalagi standart kebahagiaan untuk tiap penduduk di tiap negara. Ukuran kebahagian itu memang sangatlah relatif tergantung dari mana kita melihat dan siapa yang menjalaninya. Sebagian besar kita pasti setuju bahwa tingkat kebahagian lebih banyak dipengaruhi dua hal , yaitu berkaitan dengan materi dan keduniawian. Materi tentunya adalah kekayaan dalam hal ini bisa berupa macam-macam. Sedangkan berkaitan dengan keduniawian bisa berupa istri banyak (TEETTTTTTT SENSOR), anak banyak, teman banyak, dll. Bahkan di dalam Al-Quran juga sudah dijelaskan kebahagiaan itu dibagi menjadi tiga tingkatan. Pertama adalah kebahagian karena memiliki wanita-wanita. Kedua adalah karena memiliki anak-anak yang banyak, serta ketiga, bahagia karena memiliki  harta benda. Lalu kenapa masyarakat Indonesia sebagian besar merasa bahagia, ya iyalah, jumlah wanita banyak, dari sabang sampai merauke, dan bermacam-macam etnis. Ayo tinggal pilih tinggal pilih ….  mau yang mana. Mencari jodoh di Indonesia terasa mudah, kalaupun ada  yang masih jomblo hingga tuwir, tentu itu “DERITA LOE”.

Beda dengan negara-negara seperti Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya. Perkawinan seolah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan, berumah tangga seolah menjadi awal kehancuran. Wanita di sana cenderung lebih suka aktif dalam kegiatan mengumpulkan harta kekayaan, mengembangkan karir, dan meraih jabatan semaksimal mungkin. Begitu pula dalam soal memiliki anak-anak, banyak wanita di negara maju  menolak memilki anak meski mereka telah bersuami dan hidup normal berumah tangga.

Melihat kondisi di atas sudah jelas sekali  kebahagiaan memang ada dua, kebahagiaan hakiki dan kebahagian semu. Kebahagiaan hakiki adalah menjalani kodrat sebagai insan manusia sesungguhnya, yaitu berkeluarga, memiliki keturunan, dan harta yang cukup. Sedangkan sebagian orang mencoba mencari kebahagiaan semu, kebahagiaan  yang sesaat bisa mereka nikmati tetapi begitu cepat  sirna, yaitu kebahagiaan duniawi semata dan hanya mengejar materi. Disaat mereka sendiri dan orang-orang terdekat satu persatu meninggalkannya, barulah mereka sadar betapa penting kebersamaan, betapa penting kepedulian, betapa penting kehadiran sebuah keluarga, anak, istri, dan orang-orang yang kita cintai. Karena kebahagian hakiki tidak bisa dibeli dengan apapun. Jelas bukan kenapa orang Indonesia masih lebih bahagia dibanding negara maju sekalipun.

Lalu, ingin seperti apakah kita, bahagia seperti apa yang kita inginkan? Hidup tetaplah sebuah pilihan, mau kemana hidup ini akan kita bawa. Mau berkarir seumur hidup? mengejar kekayaan dan kenikmatan duniawi? Atau ingin kebahagiaan hakiki duna akhirat. Silahkan … jalan hidup ada ditangan Anda sendiri …. Semoga bisa menjadi wacana.

 

Sumber:

  1. http://www.happyplanetindex.org/data/#map-view
  2. http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2012/10/04/4312/1/Indonesia-No-14-Kosta-Rika-No-1-Negara-Paling-Bahagia

Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.

Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.
Rangking data tingkat kebahagiaan suatu negara.

 

 

 

 

 

 

1. Kosta Rika (64.0)
2. Vietnam (60,4)
3. Kolombia (59.8)
4. Belize (59,3)
5. El Salvador (58.9)
6. Jamaika (58,5)
7. Panama (57,8)
8. Nikaragua (57,1)
9. Venezuela (56.9)
9. Guatemala (56.9)
11. Bangladesh (56,3)
12. Kuba (56,2)
13. Honduras (56,0)
14. Indonesia (55,5)
15. Israel (55,2)
16. Pakistan (54,1)
16. Argentina (54,1)
16. Albania (54,1)
19. Cile (53,9)
20. Thailand (53,5)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *