Covert Selling dan Copywriting

Covert Selling, Hypno Selling, Hypno Writing, Hypno Caption, Copywriting, Storytelling.

Mana yang lebih POWERFUL?

Duh banyak banget ya istilah, saking banyaknya saya tidak menyalahkan kalau Anda bingung, apa beda semuaya. Dan apa kelebihan masing-masing.

Pertanyaan yang sering diajukan di kelas belajar biasanya, “Lebih powerful mana dari semuanya?” sehingga bisa memutuskan mana yang akan digunakan untuk iklan jualan Anda.

Saya pernah sedikit menyinggung ini. Hampir mirip pertanyaan bagus mana kamera A dan kamera B, atau pertanyaan bedanya BRANDING, MARKETING, dan SELLING.

Secara khusus saya tidak akan menyampaikan mana yang lebih baik dan mana yang tidak baik. Tapi sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Izinkan saya mengutip beberapa sumber dari istilah-istilah di atas.

Covert Selling, sudah jelas definisi paling sederhana adalah “Jualan dengan cara tersamar, elegan sehingga orang yang membaca iklan tetap merasa nyaman.”

Istilah Yang Digunakan

Hypno Selling, Hypno Writing, Hypno Caption, dilihat dari kata awalnya menggunakan Hypno, sehingga memang pendekatan dan teknik yang digunakan lebih banyak menerapkan teknik hypnosis di dalamnya. Setidaknya itu yang saya baca dari penemu dan penulis Hypnotic Writing, Joe Vitale.

Terakhir, tentang Copywriting. Kalau saya membaca dari banyak referensi, copywriting sebagian besar diartikan sebagai teknik menulis iklan. Padahal jika kita lihat dari Mbah WIKI. Penjelasannya bukan teknik, tapi naskah tulisan atau bisa juga diartikan tindakan atau aktivitas menulis teks untuk tujuan periklanan atau pemasaran, entah untuk iklan televisi, radio, surat kabar, baliho, dan sebagainya.

Kaitannya Dengan Branding, Marketing, Selling

Nah biar jelas. Saya analogikan seperti Branding, Marketing, Selling. Aktivitas yang dilakukan bisa sama, yaitu membuat naskah iklan untuk ketiganya. Tapi strategi yang digunakan bisa berbeda.

Misal untuk tujuan Branding, saya lebih prefer menggunakan Covert Seling. Kenapa? Karena biasanya tujuan utama adalah membangun awareness dan knowledge. Bisa saja dikombinasikan dengan teknik hypno writing, yang penting tidak melanggar kaidah dasar Covert Selling.

Karena goal utama iklan Covert Selling menimbulkan rasa penasaran dan nagih.

Nah, saat orang sudah mulai aware dan tahu tentang produk kita. Barulah aktivitas marketing boleh dilakukan. Mau menggunakan soft selling atau hard selling terserah. Tapi perlu diperhatikan media publikasi apa yang kita gunakan? Kanal media apa yang kita pakai. Karena tiap kanal media yang kita gunakan memiliki karakteristik yang berbeda. Di market place tentu beda dengan ngiklan di sosmed.

Storytelling

Terakhir tentang Storytelling. Kalau definisi dari beberapa referensi, ini adalah aktivitas bercerita, ndoneng. Storytelling bisa digunakan untuk semuanya. Kenapa storytelling biasanya banyak digunakan? Karena sebagian besar orang suka cerita. Jadi boleh saja cara jualannya menggunakan teknik di atas tapi dikemas dalam bentuk cerita. Tidak harus panjang, yang penting menarik.

Hufff .. sudah panjang. Semoga tulisan ini bisa sedikit ngasih gambaran. Kalau mau diskusi atau ada hal yang kurang jelas, silahkan disampaikan.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *