4 Hari 3 Malam …

Sore nanti (01/12) Timnas Garuda dan Macan Asia kembali saling bertarung, antara saudara tua dan saudara muda tiri. Perseteruan antara Indonesia Malaysia sebagai bangsa serumpun acap kali terjadi dari berbagai aspek. Ntah apa yang melatar belakangi keduanya. Sejarah telah mencatatkan keduanya memang seteru abadi. Terlepas dari berbagai problema tersebut keduanya memiliki keunikan masing-masing.

Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas seluk beluk kedua negara. Namun saya hanya ingin berbagi kepada pembaca sekalian tentang pengalaman perjalanan saya selama 4 hari 2 malam. Bukan bermaksud sombong atau apapun. Lawong berangkat aja ‘ngere’ (baca:dana terbatas). Buat saya perjalanan seperti ini bukanlah untuk berfoya-foya menghabiskan duwit, yang terpenting adalah apa yang kita dapat dalam setiap perjalanan kita. Supaya kita ‘melek‘ melihat dunia luar.

Jujur saja saya merasa prihatin, kenapa biaya bepergian ke luar negeri lebih murah dibandingkan kalau saya ingin bertamasya di negeri sendiri. Mungkin kendala inilah yang membuat kita kurang cinta tanah air. Suatu saat saya bermimpi bisa mengelilingi dunia, namun alangkah memprihatinkan jika sudah mengelilingi dunia tapi negeri sendiri tidak sempat semuanya disinggahi. Semoga mimpi saya jadi kenyataan, bisa ke Raja Ampat, Krakatau, Bunaken, Way Kambas, dan lain-lain. Soal keindahan alam negara kita tidak ada duanya.

######

Tanpa diduga dan dinyana, tanpa direncanakan waktu itu, lupa tepatnya, kalau gak salah sama  seperti sekarang di akhir tahun iseng-iseng surfing ada info tiket murah dari AsiaAir. GPL (Gak Pakai Lama) pesen deh 9 tiket. Bagi saya yang udik ini perjalanan ke luar negeri tentu menjadi sesuatu yang luar biasa (walaupun cuman nyeberang ke tetangga sebelah), karena perjalanan terjauh saya cuman di Sulawesi. Singkat cerita dengan berbagai lika liku pengurusan paspor hingga tiba saat keberangkatan. TUjuan kami adalah Malaysia dan Singapore.

Saking bersemangatnya dalam penantian hampir 1 tahun, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Pesawat dijadwalkan berangkat sekitar pukul 5.40 WIB. Jam 3.40 sudah sampai bandara (pagi beut), ya iyalah biar gak ketinggalan. Seperti biasa sebelum masuk pesawat harus check in ke bagian imigrasi. Nah setelah itu discanning, disini jangan bawa barang aneh-aneh, wong botol aqua kosong aja suruh ngeluarin (trik AirAsia biar dagangannya laku di pesawat). Lewat sudah check in imigrasi dan scanning. Langsung masuk pesawat. Sesuai jadwal tiba sekitar pukul 9.30 waktu setempat (selisih satu jam dengan Indonesia).

Suasana di dalam LRT
Suasana di dalam LRT

Setiba di bandara Low Cost Carrier Terminal (LCCT) mulai deh mata jelalatan lirik sana sini. Kesan pertama, bandaranya kayak terminal Bungurasih. Ya iyalah ini kan untuk penerbangan murah. Beda kalau kita naik Garuda pasti turun di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Beruntung istri saya punya saudrara angkat orang Malaysia, setelah menunggu beberapa saat mulailah Guide kami datang (Thanks to Aman). Orang udik mulailah perjalanan. Stasiun pertama yang kita kunjungi adalah Salak Tinggi. Satu persatu mulai belajar bagaimana membeli tiket, dan menggunakannya. Jam tiba Kereta tidak lama, langsunglah kita naik. Tidak ada yang beda dengan Komuter Surabaya Sidoarjo, hanya sedikit kok bedanya, yaitu bersih, berAC, gak ada orang merokok, nyaman, aman, dan cepat meeeenn. (^_^). Naik kereta Light Rail Transit (LRT) serasa naik mobil mewah. Lihat tuh bapak-bapaknya sampe ‘ngorok’.

Hari pertama beberapa tempat yang kita kunjungi antara lain Kuala Lumpur City Centre (KLCC). kayaknya semua orang yang ke Malaysia belum afdlol kalau belum foto dengan background Twin Tower Petronas. Ya bergaya layaknya orang udik, foto-foto dah disana sambil cari makan. Beruntung dah ada makanan Indonesia, rada rewel soalnya perut. Setelah foto-foto perjalanan berlanjut ke beberapa tempat.

Setelah ibu-ibu puas berbelanja di Petaling Street, tibalah waktunya untuk bertolak ke Singapura. Awalnya berencana naik kereta, tetapi sudah fullbooked. Diputuskan naik bus. Tepat pukul 11.00 waktu setempat kami berangkat ke Singapura, ritual rutinpun dilakukan, check out di imigrasi Malaysia. Di sini tidak ada masalah, namun pas mau masuk SIngapura, barulah masalah timbul saat check in di imigrasi. Pemeriksaan amat ketat, kebetulan rombongan kami ada tiga pria termasuk saya, karena wajah kami seperti teroris barang kali sehingga harus dikandangkan sementara untuk di interogasi. Weeekssss … serasa jadi pesakitan neh, lumayan lama ditanya beberapa hal, saking lamanya nyaris kami ditinggal bus yang kami tumpangi. Setelah semua beres, perjalananpun berlanjut.

Sekitar pukul 5.30 pagi tiba di Singapura. Karena masih teramat pagi, transportasi belum buka. Terpaksa deh kami menunggu di sebuah taman. Di dekat Nicole Highway. Cerita kembali berlanjut. Tujuan pertama kali tentunya ke tempat peristirahatan, karena modal dengkul dan uang receh, kita menginap di City Backpacker Hostel di daerah Clarke Quay.

Perjalanan kami pada dasarnya sama saja ketempat-tempat yang kebanyakan orang kunjungi, bahkan menurut saya masih banyak tempat yang tidak sempat disingahi. Diantara tempat yang kami kunjungi Sentosa Island, Marina Bay, Merlion, Bayfront, ChinaTown, Orchard Road, Universal Studio (walaupun gak masuk, eman duwite) next time deh. Setelah semua puas belanja hingga kaki gempor. Waktunya balek ke Malaysia. Kami naik bis lewat Bugis Street turun di Johor Baru dan menginap semalam sebelum akhirnya kembali ke Kuala Lumpur dan bertolak ke Surabaya.

######

Beberapa catatan penting terkait perjalanan

  1. Bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa membaca petunjuk, saat disana biasakanlah.
  2. Belajarlah bahasa Inggris, biarpun little little 😀
  3. Jangan malu bertanya
  4. Bawa Peta, GPS dan alat/buku penunjuk arah lainnya.

Pandangan saya setelah berkunjung di dua negara tersebut
Meskipun kedua negara tersebut usianya relatif lebih muda dibanding Indonesia, kemajuannya sudah jauh melewati Indonesia. Terutama terkait infrastruktur (baik trasnportasi, bangunan, taman, dll), perilaku manusianya, aturan, dan budaya.  Banyak orang bilang kemajuan mereka karena populasi penduduknya lebih sedikit sehingga mudah di tata. Menurut saya itu bukanlah alasan, yang terpenting adalah kebijakan/aturan/regulasi, pendidikan, dan perbaikan moral adalah modal dasar untuk menata bangsa Indonesia lebih baik. Hal-hal kecil di kedua negara tersebut menjadi bagian penting. Pelanggaran terhadap sebuah aturan berakibat fatal dan harus berurusan dengan hukum, sehingga masyarakatnya mau tidak mau harus patuh dan tunduk terhadap hukum berlaku. Bayangkan jika di Indonesia yang menganut azaz bahwa aturan dibuat untuk dilanggar.

Jika kita mengagung-agungkan budaya ketimuran kita yang ramah dan punya empati yang tinggi, di kedua negara tersebutpun tidak kalah. Bahkan menurut saya di Indonesia ramah dan empati sudah mulai terdegradasi. Orang-orangnya saat ini cenderung egois. Inilah yang mengakibatkan kesenjangan sosial yang cukup jauh dan berdampak pada tingkat perkonomian negara.

Beberapa hal yang perlu saya garis bawahi. Infrastruktur jalan di kedua negara tersebut nyaris sempurna. Saya heran apakah pekerja pembuat jalan di Indonesia tidak bisa membuat jalan seperti di sana, halus, rata, tidak bergelombang, apalagi sampai lobang-lobang.

Kemudian soal perilaku, jangankan merokok, membuang sampah, meludah, makan, semua ada aturannya dan tempatnya masing-masing. Apa kita tidak bisa melakukan hal-hal tersebut, ironis. Berikutnya adalah transportasi. Meskipun di Malaysia tidak serapi di Singapore tetap saja sistem transportasi mereka jauh lebih baik dari kita. Semua sudah terintegrasi dan serba otomatis, dari sini efisiensi dan produktivitas tentu akan meningkat, dan ujung-ujungnya berdampak pada tingkat ekonomi negara tersebut. Apakah kita juga tidak bisa?

Oalah oalah … ternyata oh ternyata perjalanan yang hanya empat hari ini ternyata kian menyesakkan buat saya. Miris melihat kondisi negara kita yang selalu berkutat dengan urusan politik dan perut petinggi-petinggi tidak bertanggung jawab yang selalu menyalahgunakan amanah rakyat. Kapan mimpi saya bisa menjadi tamu di rumah sendiri bisa terlaksana. Kapan masyarakat ini bisa menikmati pajak yang mereka bayar. Dan kapan petinggi-petinggi negeri ini insyaf serta benar-benar memikirkan kepentingan rakyatnya. Apakah menunggu hingga kita benar-benar tertinggal semakin jauh, malu dong …. Tiru tuh slogan Yamaha …

Saatnya kita bergandeng tangan, benahi PENDIDIKAN kita, benahi MORAL kita. Jangan sampai kejayaan masa lalu hanya menjadi sebuah cerita. SEMOGA…

Beberapa galeri foto selama perjalanan
Semua gambar diambil menggunakan kamera Handphone Sony Ericsson Xperia Arc S (Klik untuk melihat gambar lebih besar)

 

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *